Love Language.
Jadi apa bahasa cintamu? Seperti itulah kamu ingin diperlakukan. Adik perempuanku menyebut beberapa bahasa cinta yang pernah ia pelajari dan pahami:
Spending time, touching, gift, and …. Oh saya lupa yang keempat itu apa. Kamu tahu?
Kami membicarakan ini setelah ia mendengar sebuah monolog dari saya. Ia mendengar, lalu berkomentar, lalu terus mendengar. Dan kemudian merespon dengan bahasa cinta tadi.
Kelak, bila kau bertemu dengan wajah baru, kenali bahasa cinta orang itu. Mungkin kalian bisa sama, tapi bisa saja seperti air dan minyak, akan sangat berbeda dan sulit utk bersatu.
Dengan mengenali bahasa cinta, kamu bisa memahami bagaimana seseorang ingin diperlukan. Terdengar egois ya? Tapi demikian itupun akan terjadi padamu. Kamu pun mempunya bahasa cinta yang khas dan itu cirimu.
Kalau aku, bahasa cintaku spending time, howbout discussing, hugging me. Itu semua melebihi hadiah-hadiah cantik itu.
Kalau kamu? Mungkin saja kamu suka gift, atau sama seperti saya, spent time, dan lain-lain.
Ketika kamu diperlakukan dengan bahasa cinta yang tidak sesuai, meskipun partnermu sudah berusaha keras, kelak effort tersebut hanya seperti uap yang menghilang dengan sangat cepat. Pasalnya, bahasa cinta yang ia berikan tidak sesuai denganmu. Hahaha…
Kalau semua akan seperti itu, lalu saya berpikir… butuh Kasih, kerendahan hati, dan jam terbang yang tinggi untuk menerima bahasa cinta orang lain dengan sepenuh hati.
Sehingga semua hal baik yang lahir dari hati bisa menjadi bahasa cinta kita semua. Tanpa harus memilah-milih apakah sesuai kenyamanan kita sendiri.
Saya ingin menolak teori ini, tapi itu pun ada di diri saya.
Manusia dengan segala tanda kehidupannya. Semoga kita semakin menghargai, apapun bentuk bahasa cinta kita. (gye)
Menulislah, dan jangan bunuh diri!
