Tidak harafiah.


Mungkin menjelang patah hati. Atau patah hati yang tidak harafiah. Saya mencatat ini sebagai tanda, saya pernah patah hati karena sesuatu yang saya idamkan, tapi tidak saya dapatkan. Haha,

Patah hati yang tidak harafiah, begitu saya menyatakannya. Ketika keinginan tidak segaris lurus dengan kenyataan. Patah hati yang tidak harafiah, ketika terlalu keras berpikir, dan saya mengklaim,… oh saya tidak suka dengan itu.

Saya jadi ingat pernyataan itu (tidak bisa saya catat di sini). Ah, saya sudah ingat, tapi masih patah hati yang tidak harafiah ini terlalu besar. Harusnya bisa ditekan pelan-pelan, biar hancur, lebur, dan hati ini tidak lagi patah, tapi pergi. Pergi untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Tuh kan, saya ingat lagi hal lain. Bahwa saya ada di titik pernyataanmu. Pernyataan bahwa situasi tidak segaris lurus ini datang.

Kemudian di halaman 69, Tidak Ada New York Hari Ini tercatat dengan lugas; Tidak ada yang peduli, jika aku salah dan kalah berkali-kali. Tidak ada yang peduli. Termasuk malam dan aku sendiri.

Ada masanya, tak segaris itu datang. Hanya saja, kalau bisa itu bukan patah hati, meski bukan harafiah. Oh, tapi konsekuensi selalu ada.


(Hari ke-84. Sebelum berangkat kerja)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.