Awan hitam dan harapan
Ibu telah meninggalkan cucian nya.
Ia memperkirakan akan turun hujan.
Namun perkiraan nya salah.
Yang datang lebih dari sekedar hujan.
Hujan datang dengan secercah kenangan.
Awan hitam memencar.
Langit seketika teduh.
Sang ibu masuk kedalam rumah.
Membuat kopi yang hangat juga nikmat.
Sudah pukul 6 pagi, ibu berlekas pergi dari dapur menuju pintu kamar anak tunggal kesayangan nya.
Begitu setiap hari.
Sampai si anak beranjak dewasa.
Kini berusia dua puluh tahun.
Sang anak bosan dengan kampung halaman nya.
Ia menginginkan hal-hal baru, orang-orang baru dengan suasana baru.
Sudah setahun lebih lamanya.
Ibu menahan diri untuk mengucap rindu.
Ia malu.
Ia lebih suka menuliskan kemudian melangitkan.
Namun awan hitam kali ini menutup doa-doa ibu.
Setelah reda ia berjanji akan melangitkan doa-doa dan tulisan.
Dua puluh tahun hidup di dunia tapi sang anak sedikit pun tidak mengetahui apa isi doa ibunya.
Ia sengaja.
Karena jawaban dari segala doa-doa ibu ada di akhir perjuangan nya.
Jika sang anak bertanya, maka tidak ada kejutan di akhir cerita.
