Penghijauan Gunung Andong, Dari Gunung Andong Untuk Indonesia

“The best time to plant a tree is twenty years ago. The second best time is now.”
Anonymous

Dunia wisata memang penuh dengan paradoks. Dan paradoks ini adalah sebuah keniscayaan. Kita semua tahu, potensi wisata Indonesia yang kebanyakan adalah wisata alam ini mempunyai potensi yang luar biasa besar. Banyak orang menjulukinya surga yang jatuh ke bumi, zamrud khatulistiwa atau apalah julukan lainnya yang tidak kalah indah.

Kita semua juga tahu, tempat yang indah ini nantinya akan penuh pengunjung, bercampur jadi satu dari berbagai latar belakang, berbagai karakter, dan berbagai macam pemahaman etika. Berkaca dari pengalaman selama ini, pengunjung yang banyak ini justru akan menjadi sel kanker bagi alam kita, perlahan-lahan merusak, dan pada akhirnya membunuh keindahannya.

Itulah yang terjadi dengan gunung, pantai, spot snorkeling dan diving, kebun-kebun serta taman, yang nge-hits di dunia maya menjadi ajang para traveler melepas penat. Tempat-tempat ini awalnya begitu alami, indah, tidak terjamah dan masih perawan. Namun lama kelamaan, sampah mulai berceceran, pohon mulai tumbang, dan terumbu karang mulai mati.

Akan selalu ada tarik menarik kepentingan antara kelestarian lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi

Di satu sisi, datangnya pengunjung akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar, namun pengunjung yang banyak juga memiliki potensi merusak , yang sepertinya laju perusakannya tumbuh secara eksponensial.

Hal yang sama juga terjadi di Gunung Andong, Magelang, Jawa Tengah. Gunung yang nge-hits di Instagram, yang banyak didaki pendaki-pendaki gemes karena relatif mudah dicapai puncaknya (Hanya sekitar 2 jam) ini merana sejak awal mula ketenarannya di 2010. Sampah pendaki berserakan, vandalisme para traveler yang titip salam atau mempromosikan diri sebagai jomblo berkualitas (mungkin akun social media mereka sepi peminat), serta pepohonan banyak yang rusak.

Parahnya lagi, pada 2015, beberapa titik mengalami kebakaran hutan. Gunung kecil diantara Merbabu-Merapi dan Sindoro-Sumbing yang berada di bawah pengelolaan warga dan Perhutani ini semakin tidak berbentuk.

Sebenarnya kerusakan ini juga terjadi di gunung-gunung lain. Beberapa pengelola Taman Nasional , seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengambil tindakan ekstrim dengan menutup total kawasan Gunung Semeru pada awal 2016 karena kerusakan ekosistem sudah sedemikian parah. Hal ini memang perlu dilakukan karena selama ini sistem pembatasan pengunjung, sanksi buang sampah, belum berjalan dengan baik di lapangan.

Langkah yang berbeda diambil Basecamp Taruna Jaya Giri dan Perhutani sebagai pengelola. Bukan menutup gunung, namun mereka membuat event aksi tanam pohon untuk menghijaukan kembali Gunung Andong.

Penanaman Gunung Andong, 1 Pohon 1000 Harapan

Event ini dilaksanakan 23–24 Januari 2016 lalu, dan direncanakan akan dilanjutkan dengan aksi perawatan bibit yang telah ditanam. Ide aksi ini patut diapresiasi dan dapat ditiru pengelola tempat wisata, pemerintah, ataupun trip organizer di Indonesia. Dimana banyaknya traveler tetap bisa dikontrol, bahkan justru digerakkan untuk melakukan kontribusi pada lingkungan.

Menurut Sutikno Aji, Ketua Panitia dari Basecamp Taruna Jaya Giri, sekitar 2500 bibit pohon disediakan, dan 2000 pendaki terdaftar. Setiap 1 orang pendaki membawa naik 1 bibit pohon untuk ditanam. Banyak pendaki yang datang ke Gunung Andong khusus untuk mengikuti kegiatan tanam pohon ini. Mereka sudah pernah beberapa kali ke Gunung Andong dan hanya hadir untuk membantu menghijaukan kembali Gunung Andong.

Selain pendaki dari berbagai daerah, warga sekitar, mulai dari orang tua dan anak-anak juga ikut naik mendistribusikan bibit pohon di titik-titik kebakaran. Area penanaman di Gunung Andong terhitung cukup sulit dijangkau, berupa lereng bekas kebakaran dengan kemiringan sekitar 30–45 derajat.

Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah untuk ikut berkontribusi, menanam 1 pohon kecil yang nantinya akan berperan sebagai peresap air, dan menjadi sumber air bagi pertanian warga di lembah. Satu pohon kecil ini nantinya juga akan berperan memberikan suplai oksigen bagi minimal 2 manusia di Bumi.

Indah bukan? Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya masih banyak traveler di Indonesia yang peduli terhadap tempat wisata dan masyarakat. Mereka peduli, dan mau membantu. Hanya saja, mereka tidak tahu caranya, atau tidak terorganisir, sehingga mereka saling menunggu untuk bergerak.

Budaya orang Indonesia belum mencapai tahap inisiatif, budaya orang Indonesia masih dalam tahap menunggu untuk digerakkan.

Penghijauan Gunung Andong kemarin merupakan contoh kombinasi bagus antara peningkatan ekonomi warga melalui wisata alam, memberikan makna lebih bagi traveler, juga kegiatan melestarikan alam.

Jika kegiatan ini dilakukan di semua tempat wisata, setidaknya keseimbangan akan terjadi. Warga sekitar mendapatkan benefit dari datangnya traveler, lingkungan sekitar tetap terjaga (memberikan manfaat bagi warga sekitar juga), dan traveler mendapatkan pengalaman berharga dan lebih bermakna.

Untuk itulah, Jejakku sebagai marketplace trip organizer dengan challenge dan reward bagi para traveler mendukung langkah yang diambil oleh Basecamp Taruna Jaya Giri dalam aksi penghijauan gunung Andong. Jejakku juga mengajak dan bekerjasama dengan trip organizer di seluruh Indonesia untuk merancang trip/tour yang didalamnya terdapat kegiatan sosial yang berguna bagi masyarakat sekitar tempat wisata.

Pada akhirnya, apakah alam kita akan hancur karena kerusakan, ataukah akan tetap lestari dan senantiasa memberi manfaat bagi anak cucu kita, berada di tangan kita sendiri.

ps : Video Dokumenter Dari Gunung Andong Untuk Indonesia didukung oleh Jejakku, akan rilis Februari 2016

The world is full of good travelers. If you cant find one, be one!
#IniJejakku