Rekognisi Perintah
Maiyah, 17/05/2017

Suatu ketika anda bergumul dengan semua elemen masyarakat, duduk bersama, bersila, lenggah dan menghadap pada satu objek. Tiap elemen yang membersamai Anda adalah mereka yang tidak searah, jalur, lajur dengan diri Anda. Sama sekali berbeda. Tapi apa lantas anda akan menolak kebersamaan tersebut? Padahal dalam duduk anda, konsentrasi sebenarnya adalah bukan kenyamanan anda secara subjektif. Melainkan bagaimana Anda sanggup menjaga, menghargai dan memperhatikan keselamatan dari orang-orang yang di sekitar anda.

Proses yang Anda hadapi di sana, bukanlah sebuah paksaan, apalagi perintah. Seringkali perintah itu diharuskan bagi siapapun. Misalnya, 3 teman Anda, menginginkan rujak mangga. Sebelum sanggup menikmatinya, Mangga terlebih dahulu dipetik dari pohonnya. Pohon Mangga, lumrahnya menjulang tinggi ke atas. Lantas ketiga teman anda itu haruskah disuruh memanjatnya sekaligus, bertiga? Adalah sebuah kemustahilan. Nah, di sini perintah disediakan bagi siapapun yang sanggup memenuhinya. Iya, itu proporsional. Andaikata ketiga teman-teman anda, yang satu takut ketinggian, yang satu belum cukup memegang batang Pohon Mangga, sedang satu yang ketiga belum siap apabila membiarkan dirinya tak bermanfaat. Alhasil, setelah mengetahui latar belakang, konteks dan irama secara konotatif, timbul proporsi untuk memilah dan memilih dari batas dan kemampuan ketiga teman kita tersebut. Teman satu, karena takut ketinggian maka kita menaruhnya di bagian menimpali mangga yang dipetik. Teman kedua, karena karena belum cakap menancapkan cengkraman tangannya pada batang-batang, maka perintah bagi dia adalah menyunggi teman yang ketiga, yang berkeinginan dirinya sanggup bermanfaat dalam kondisi apapun. Alhasil, proporsional itu tentang mengetahui batas dan memenuhi kebutuhan. Bukannya dipukul sama rata.

Ala kulli hal, mangga dipetik, diselamatkan dengan aman, lantas dirujak dengan nikmat dan tenang. Semua berbahagia tanpa mengelak klasifikasi perintah yang menjadi hak masing-masing teman anda. Nah, perintah jangan sekali-kali disamakan antara satu dengan yang lain. Perintah dalam kebaikan pun demikian. Dalam konteks ini, keterpisahan fragmen dalam subjek dan prediket, kerapkali menghalang-halangi. Subjek dikira hanya mampu menerima tanpa dikasih kesempatan untuk mempertanyakan. Sehingga beberapa metode adil, hanya menjerumuskan pada kreasi non-kooperatif kepda nilai-nilai kemaslahatan. Wallahu A’lam

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.