Tersenyumlah
Ketika berkeinginan untuk serasi tatkala dihadapkan dengan lingkungan yang lama atau baru, hanya kesulitan yang Anda hadapi. Sulit bukan berarti tidak menjadi tidak mudah. Itu lain soal. Kesulitan disini, mengurai kecamuk atau gejolak bathin Anda menghadapi dua kutub yang berlawanan. Kutub kebaikan dan keburukan dalam perspektif Anda.
Misal, Anda berharap perlakuan baik, tapi buruk lebih suka pada Anda. Anda tak ingin diperburukkan, tapi buruk tetap buruk dan dia menyukai Anda. Itu dua perspektif, Anda dan lawan bicara Anda.
Mungkin, dan ini bisa saja benar, yang Anda rasa itu baik, tapi bagi mereka adalah keburukan. Sebaliknya, yang Anda rasa itu buruk, bagi orang lain itu kebaikan. Alhasil, pengambilan hikmah adalah pembenarannya.
Analoginya, ketika Anda diejek/dipoyok i dengan nada sinisme yang bahkan menjurus sarkastik sebab Anda, di lain hal, bisa dikatakan, maaf, pantas untuk menerima perlakuan tersebut, maka tak perlu khawatir, sebab ketahui lah, Anda menjadi bahan bukan ejekan, melainkan sumber, sumur, mata air kebahagiaan bagi mereka yang dilenyapkan peradaban.
Jadi, tolong, jangan sampai marah. Sebab Anda, yang disebut terakhir, adalah sumber, sumur, mata air kebahagiaan bagi orang lain. Oh ya, sebab senyum itu ibadah.