CATATAN ORGANISASI — INI EFEK DOMINO MENJADI PANITIA SELAMA MAHASISWA
“Cerita singkat mengenai pengalaman menjadi panitia acara yang berdampak positif pada kegiatan-kegiatan setelahnya”
Ketika resmi menjadi mahasiswa, banyak harapan dan keinginan yang ingin dicapai. Orang-orang menyebutnya Maba. Beberapa istilah baru pun bermunculan seiring status mahasiswa resmi diterima, seperti kepemilikan KTM, mendengar orasi kakak tingkat yang kritis, hingga memperhatikan sambutan pejabat-pejabat birokrasi kampus ketika OSPEK (sekarang PKKMB).
Tentu saja istilah yang sering kita dengar sejak Maba adalah “Kupu-kupu” (kuliah pulang- kuliah pulang) dan “Kura-kura” (Kuliah rapat- kuliah rapat). Sebenarnya, mahasiswa yang menganut masing-masing istilah tersebut tentu memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri. Eits, tapi aku nulis ini bukan untuk memperbandingkan dua istilah tersebut. Karena tentu saja nggak akan ada ujungnya. Apalagi berdebat dengan sesama anak muda, tentu akan cenderung memenangkan argumen sendiri. Belum mampu bersikap objektif, begitu bahasa halusnya.
Kali ini aku hanya ingin menulis pengalaman dan dampak positif yang aku dapatkan ketika menjadi mahasiswa yang mencoba mengikuti organisasi di jurusan, bergabung dalam rapat-rapat, menjadi bagian kepanitiaan seminar nasional, dan terus berlanjut hingga minggu lalu aku dipercaya menjadi bagian penyelenggaraan acara konferensi internasional di kampusku, UNY. Dengan kata lain, dalam tulisan ini kuceritakan sekilas keuntungan yang menurutku hanya didapatkan sebagai efek domino dari keikutsertaanku dalam rapat-rapat kecil di organisasi kampus.

Keinginan menuliskan pengalaman ini pun aku dapatkan saat hanya melamun di kamar kosan 3x3 m, nggak sengaja. Jadi aku hanya memandang beberapa sisa kartu tanda panitia event di kamar, lalu aku kepikiran menuliskan sebagian ceritanya. Akan tetapi, aku nulis ini bukan karena kegabutan mahasiswa semester tujuh yang tidak lagi mengambil kelas kuliah lho ya. Tidak juga untuk pamer, karena aku sebenarnya cuma remahan kerupuk warung burjo dekat kosan.
Motivasiku menulis ini sebenarnya hanya ingin berbagi dampak positif yang dirasakan melalui keterlibatan sebagai pengurus organisasi di Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (JPTSP), atau dengan nama organisasi Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil dan Perencanaan (HMTSP).

Pertamanya, di akhir semester 1 (November, 2016), aku mendaftarkan diri sebagai pengurus himpunan. Alasannya bukan untuk pengabdian atas rasa cinta dengan jurusan, bukan pula untuk menjadi terkenal melalui organisasi, tetapi hanya ingin menghilangkan kegabutan dan mengurangi rebahan di kos-kosan sendiri. Hitung-hitung mencari kegiatan di luar kuliah agar tidak selalu homesick dengan keluarga di seberang pulau sana.
Ketika resmi menjadi pengurus (2017), aku baru sadar kalau himpunan ini berperan penting sebagai fasilitator mahasiswa satu jurusan lho. Secara peran, himpunan memiliki goals yang mirip OSIS kalau di jenjang SMA. Mulai dari pengembangan minat dan bakat mahasiswa, hingga menjadi perantara mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi kepada dosen-dosen menjadi tanggung jawab himpunan. Sederhananya, perannya memang mirip, namun himpunan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan OSIS di sekolah, CMIIW.
Singkatnya, menjelang akhir kepengurusan, kami menyelenggarakan acara Seminar Nasional (September, 2017) yang dilengkapi dengan Call for Paper. FYI, Call for Paper itu bentuk kegiatan yang mengumpulkan hasil riset-riset terbaik untuk dibukukan dalam bentuk Prosiding. Duh istilah apaan lagi sih?, hahaha.
Begini, Prosiding itu bentukannya seperti buku yang berisi beberapa hasil riset terpilih berbentuk makalah/ paper yang dipublikasikan secara resmi dan layak dibaca. Nah, jadi kalau hasil riset kamu tercantum dalam Prosiding, orang lain dapat mengutip hasil riset kamu dalam naskah mereka. Jadinya, nama kamu bisa saja tercantum dalam daftar pustaka di skripsi-skripsi orang lain lho, lumayan kan. Btw, kalau masih bingung dicari di internet yah, hehe.

Entah mengapa, aku terpilih untuk mengurusi bagian penyuntingan paper. Mungkin, mas Turas selaku ketua panitia dan Kakak-kakak tingkat khilaf memilihku yang malas dalam membaca ini. Namun demikian, tentu pengerjaannya tidak sendirian. Kegiatan ini aku kerjakan bareng Asma dan Dani, temen satu angkatan yang belajar dan berjuang bersama dalam penyuntingan paper melalui bimbingan dosen. Jadi, tugas kami berfokus dalam penyuntingan setiap paper yang masuk dan menentukan kelayakan paper tersebut sebelum dikoreksi oleh dosen dan dinyatakan layak dipublikasikan.
Acara seminar pada akhirnya sukses dilaksanakan. Sementara itu, proses publikasi paper juga berjalan dengan lancar. Pada akhirnya, acara dinyatakan selesai dengan dibubarkannya kepanitiaan. Tentunya, bertambahnya teman baru dan didapatkannya sertifikat sebagai panitia adalah keuntunganku menjadi panitia.
Itukan pasti didapatkan. Semuanya juga sudah tahu. Lalu, keuntungan mana yang dimaksud domino seperti judul di atas?
Hmm, mbok ya sabar sedikit, hehe. Begini, jadi acara yang telah selesai tidak berarti komunikasi selesai kan. Begitulah yang terjadi di setiap acara yang diselenggarakan. Hal ini juga mengartikan hubungan saya dengan beberapa dosen masih saling bertegur sapa, khususnya dosen yang terlibat pengurusan publikasi paper. Akhirnya, pada tahun selanjutnya (Oktober 2018), aku ditawari langsung oleh dosen untuk terlibat penyuntingan paper lagi. Namun, kali ini acaranya berbentuk konferensi tingkat internasional dengan nama International Conference on Sustainable Infrastructure (ICSI).

Paper yang masuk tentu saja dalam bahasa inggris sehingga menjadi tantangan bagiku yang TOEFL-nya hanya cukup, tidak kurang apalagi lebih, hehe. Acara ICSI pun akhirnya berjalan dengan sukses dan tidak ada komplain banyak mengenai publikasi paper.
Selanjutnya, tanpa disangka aku tetap diminta untuk membantu acara konferensi internasional lain pada bulan berikutnya. Tentu saja aku tetap menjadi bagian tim penyunting paper. Acara tersebut dikenal dengan nama International Conference on Technology and Vocational Teachers (ICTVT).

Nah, ternyata eh ternyata, di tahun 2019 saat aku memasuki semester 7, penyelenggaraan ICSI 2019 masih mempercayakan aku untuk membantu proses penyuntingan paper. Pelaksanaannya sebenarnya telah dilaksanakan pada tanggal 28–29 Oktober 2019 lalu.
Kabar baiknya, aku dapat ikut memasukkan paper hasil risetku selama KKN beberapa bulan sebelumnya. Biaya pendaftaran konferensi yang mencapai jutaan tidak kubayar sama sekali. Semuanya disubsidi oleh dosen yang telah kukenal baik ketika acara seminar nasional di himpunan dua tahun lalu.
Alhasil, aku menjadi panitia dan seorang pendaftar publikasi paper di waktu yang bersamaan. Menjadi panitia sekaligus berstatus seorang presenter paper merupakan kesempatan berharga yang aku dapatkan. Menyaksikan langsung diskusi beberapa ahli dari berbagai disiplin ilmu ketekniksipilan adalah kesempatan langka. Oleh karenanya, aku benar-benar menikmati setiap urutan acara dengan serius.

Setelah kupikir-pikir, dalam dua tahun ini aku mempelajari banyak hal. Mulai dari bersikap sabar dan tenang ketika menghadapi pendaftar paper yang tidak sabaran, hingga harus rela bolos perkuliahan praktikum yang dosennya cukup killer. Namun demikian, aku tentu mendapatkan keuntungan yang seimbang.
Dengan menjadi penyunting paper aku dapat mempelajari isi paper yang mereka tulis. Bayangkan, kalau aku hitung secara keseluruhan, aku dan rekan-rekan telah menyunting lebih dari 250 paper. Membaca paper sebanyak itu tentu berdampak pada perluasan wawasanku mengenai hasil riset yang berkaitan dengan ranah ketekniksipilan. Meskipun sampai sekarang aku masih merasa bahwa aku belum tahu apa-apa tentang ilmu teknik sipil, hehe. Ilmu teknik memang sangat luas.
Setelah ceritaku di atas, aku menyimpulkan bahwa suatu kegiatan positif akan berdampak pada terbukanya peluang untuk kegiatan positif lainnya. Sambil menulis ini aku bertanya pada diri sendiri, bagaimana jika tiga tahun lalu aku tidak mendaftar pengurus organisasi? Atau bagaimana jika dua tahun lalu aku tidak serius dalam menerima amanah sebagai penyunting paper? Atau bagaimana jika aku menyerah menghadapi banyak pertanyaan pendaftar paper yang tidak sabaran? Aku mungkin tidak mendapatkan kesempatan menjadi panitia penyunting sekaligus pendaftar paper acara internasional dengan suasana yang luar biasa kental akademisnya.
Pada akhirnya, kepada teman-teman mahasiswa baru, aku hanya ingin menyampaikan bahwa ikutilah berbagai macam kegiatan organisasi dan jangan pernah merasa cukup dengan kuliah di dalam kelas. Lalu kepada mahasiswa tingkat akhir, silahkan berkontribusi dalam kegiatan positif apapun sesuai minat dan bakat kalian.
Akhir kata, aku hanya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya suatu kegiatan apapun yang kita lakukan, akan berdampak pada kegiatan lainnya. Oleh karenanya, selalu berikan yang terbaik dalam setiap kegiatan agar dapat berdampak baik pada kegiatan selanjutnya.
Sampai jumpa pada tulisanku selanjutnya.
Yogyakarta, 08 November 2019.
Ahmad Aldo
