Menjajaki Kulit Dunia Startup
Assalamualaikum gan! selamat pagi! Pada hari Jum’at di Surabaya yang cerah ini izinkan saya untuk mencurahkan tulisan mengenai dunia startup. Ini merupakan tulisan perdana saya di Medium. Tulisan perdana di Medium ini berjudul “Menjajaki Kulit Dunia Starup”. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya memberi judul demikian. Penasaran? Yuk dilanjut gan.
Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 6 Agustus 2016 yang lalu, telah saya ikuti Serangkaian acara Gerakan 1000 Startup Digital Surabaya. Ini merupakan acara pertama yang saya ikuti dalam rangka mengenal dunia Startup, awalnya ketertarikan dunia Startup sudah terpendam lama, namun melihat Startup yang telah diajukan oleh beberapa teman di Kampus saya, rasanya saya berpikir dua kali untuk terjun dalam dunia Startup, karena saya melihat banyak sekali rintangan dan jatuh bangun (rekosone) dalam menyukseskan Startup, perlu pemikiran berupa ide yang matang dan menyelesaikan masalah, kemudian pengembangannya seperti apa, dan roadmap agar Starup dapat sustain dan tumbuh menjadi Startup yang sukses layaknya Bukalapak, GO-JEK dan startup besar lainnya. Namun rasanya, setelah mengikuti Ignition yang diadakan oleh Gerakan 1000 Startup Digital Surabaya pengetahuan sekaligus pola pikir mengenai Startup saya selama ini banyak berubah. Setidaknya ada beberapa materi yang saya tangkap dari beberapa sesi yang telah banyak merombak pola pikir saya, yaitu “Don’t Start A Business, Solve A Problem”, “Growing the Ecosystem Through Communities”, “The Journey In Building A Sustainable Startup”, dan “Membawa Startup Lokal Indonesia ke Level Internasional”. Yuk kita bahas satu-satu!
“Don’t Start A Business, Solve A Problem”
Jangan memulai Bisnis, pecahkan masalah dengan solusi! Pada sesi ini pematerinya adalah Tetty Aria (CTO, Kerjabilitas), Tyovan Ari Widagdo (CEO, Bahaso) dan Leonika Sari (CEO, Reblood), beberapa poin penting yang saya tangkap adalah, tahap awal mengapa seseorang yang gagal yang memulai Startup yaitu karena mereka berorientasi kepada Bisnis (Uang) bukan kepada penyelesaian masalah dengan solusi yang benar-benar solutif. Ketika seseorang memulai Startup dengan niat sebagai Bisnis, kemungkinan yang pertama orientasi utamanya yaitu Uang dan bisa jadi menganggap masalah yang belum tentu sebagai masalah asalkan dapat Uang, pada tahap awal justru seharusnya “masalah” atau “problem”-lah yang dijadikan sebagai landasan utama dalam membangun Startup, dengan adanya masalah atau problem kita dapat memberikan solusi yang solutif sehingga dapat bermanfaat untuk masyarakat sekaligus menjadi batu loncatan untuk selanjutnya berorientasi kepada Bisnis.
“Growing the Ecosystem Through Communities”,
Pada sesi ini pematerinya adalah Taufshwara Diasriandaru (Founder & CEO, Jelasin.com) dan Zam R (Founder, Sedekah ilmu). Sebuah ide berangkat dari masalah, masalah dapat kita temukan dimana saja dan kapan saja. Salah satu cara terbaik yang dapat kita lakukan untuk menemukan masalah yaitu dengan terjun langsung kepada masyarakat atau komunitas-komunitas yang didalamnya kita dapat terlibat langsung dan menemukan sebuah permasalahan. Menemukan masalah yang benar-benar masalah bukanlah hal yang mudah, jangan sampai kita mengada-ada sebuah masalah, jangan sampai sesuatu yang sebenarnya bukan masalah malah kita anggap sebuah masalah. Perlu adanya sebuah validasi bahwa sesuatu yang kita anggap masalah merupakan benar-benar sebuah masalah. Alangkah baiknya kita terjun ke masayarakat atau ke komunitas dan menemukan data yang benar-benar valid serta bisa dijadikan sebagai acuan sekaligus pembuktian bahwa ide yang kita gagas benar-benar sebuah masalah yang urgent untuk diselesaikan.
“The Journey In Building A Sustainable Startup”
Pada sesi ini pematerinya adalah Andri Yadi (CEO PT. Dycode Cominfotech Development). Membangun sebuah Startup perlu perencanaan yang matang, setelah menemukan ide yang menyelesaikan permasalahan, eksekusi adalah kuncinya, ide yang bagus tanpa implementasi adalah nol besar, namun eksekusi bukanlah hal yang mudah, membangun startup pasti tidak akan lepas dari jatuh bangun dan kegagalan, menemukan sebuah tim yang kompak dan satu visi merupakan sebuah keharusan untuk dapat mengeksekusi ide yang telah digagas, meskipun kedepannya anggota tim ada yang mogok atau membelot, semangat untuk memperjuangkan dan menyukseskan Startup adalah kewajiban. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
“Membawa Startup Lokal Indonesia ke Level Internasional”
Pada sesi ini pematerinya adalah Prami Rachmiadi (CMO, Emtek & KMK Online). Dalam membangun Startup perlu adanya standarisasi dan penyesuaian dengan kultur dan budaya asing, belum tentu masalah yang kita usung sesuai dengan masalah yang ada di negara lain, tentunya dalam hal ini yang menjadi fokus permasalahan yaitu bagaimana kita merancang strategi agar Startup bisa sustain di negara-negara lain. Uber merupakan salah satu Starup mancanegara yang sukses diberbagai negara termasuk Indonesia. Startup lokal perlu untuk berkaca dan mencontoh starup seperti ini. Tentunya dengan keinginan dan semangat yang kuat, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.
Akhirnya, beberapa sesi telah saya uraikan secara singkat dan ringkas. Alasan ini sekaligus menjawab mengapa saya memberi judul tulisan ini “Menjajaki Kulit Dunia Startup”. Ignition kemarin telah memberikan saya pengetahuan yang cukup banyak dan merombak pola pikir saya sekaligus membuat saya berani untuk memulai Startup, masih ada beberapa tahap lagi seperti Workshop, Hackaton, Bootcamp dan Incubation untuk merealisasikan ide tim kami yang akan kami jadikan sebagai Startup yang besar, sustain dan sukses. Amiin. Semangat!!!