KADERISASI SEBAGAI REGENERASI UNTUK MENYEMESTAKAN INTELEKTUALITAS


Belakangan ini, “kaderisasi” menjadi topik yang begitu sering diperbincangkan banyak mahasiswa. Entah itu di kampus, ruang belajar, meja warkop, angkringan nasi kucing sampai ruang santai birokrasi. Entah mereka itu pro atau kontra, masalah ini akan terus dibahas sampai larut dini hari dan tak ada ujungnya. Ibarat seorang perencana, kaderisasi adalah sebuah proyek dengan output jangka panjang. Yang pertama kali dilakukan perencana untuk melaksanakan proyeknya adalah dengan memetakan gambaran umum yang telah dibuat oleh sang insinyur. Sama dengan kaderisasi, mengamati terlebih dahulu lahan yang akan disiapkan untuk penempatan pondasi sehingga tidak roboh nantinya bila ada angin atau badai yang menghujam.

Konsep kaderisasi di kampus ini secara gambaran umum memiliki tujuan jangka panjang secara general, tapi secara khusus proses dari system ini akhirnya nanti akan kembali kepada himpunan mahasiswa jurusan yang bersangkutan. Kaderisasi sebagai regenerasi anggota himpunan memiliki peranan besar dalam membentuk kader yang akan dihasilkan seperti apa nantinya. Entah mereka akan cinta kepada himpunannya atau mbambet.Seorang perencana tidaklah satu, mereka memiliki tim yang berisikan orang orang dengan berbagai macam karakter. Ini adalah masalah sepele disini, akan tetapi menyamakan pemikiran dan persepsi akan lebih baik untuk proyek besar ini.

Mahasiswa terkenal karena idealismenya. Kaderisasi jangan sampai melukai satu hal ini. Ketika penempatan pondasi untuk proyek ini dinilai tepat, lalu apa rencana berikutnya? Kaderisasi yang ideal, selalu mengutamakan 4 hakikat penting yakni hakikat manusia, hakikat keluarga, hakikat mahasiswa, dan hakikat kaderisasi. Untuk penanaman nilai menunggu bagaimana si perencana tersebut berkreasi sesuai dengan permintaan ownernya. Tapi yang terpenting menurut saya, kaderisasi ideal kurang lebih menghasilkan output dengan tujuan yang sama, persepsi sama, dan tanpa makna tersirat untuk penanaman nilai serta hakikat sehingga para kader baru yang telah melewati proses sedemikian rupa menjadi tangguh. Ibarat sebuah struktur, bila dihempas gelombang jenis 11 maka struktur tersebut tidak bergetar kurang lebih. Ketika sebuah nilai tersebut dirasa ditanamkan dengan jelas sehingga tidak menyebabkan persepsi yang berbeda maka tidak akan terlahir mahasiswa yang beraliran introvert.

Sang objek, dalam kasarannya tidak menjadi beban kemudian mengalami fatigue yang akan merusak struktur yang telah dibuat dengan pondasi yang kokoh. Di sepetak lahan pilihan sesuai gambaran awal perencanaan sebuah bangunan. Kaderisasi merupakan regenerasi untuk menyemestakan intelektualitas, berkembang menjadi insan yang bermanfaat sebagai penghamba Tri Dharma Perguruan Tinggi. Metamorfosa siswa menjadi Mahasiswa, yang memiliki arti yang tidak sebercanda itu. Disini kita berhimpun dan menjadi ada, bukan untuk diangkat lalu kemudian menjadi tiada. Terlepas dari itu semua, itu hanyalah sebuah opini dari saya pribadi tidak melibatkan siapapun. Saya rela memberi semua dedikasi untuk jadi seorang perencana yang tidak hanya bebas namun lebih peduli.


-Ahmad Syahroni-

Hamba Tri Dharma Perguruan Tinggi