Teknokrat atau Korporat

Sebuah pemikiran di zaman millenial

Adalah suatu keluguan yang lucu manusia yang katanya terpelajar tapi tak pulang-pulang untuk sekedar kumpul-kumpul rutin yang bisa menyebabkan kurang darah dan meningkatkan intensitas minum kopi atau sekedar teh hangat manis di Gang Pasar, Keputih, Surabaya. Misalnya, sebagian mahasiswa yang sering “nongol” di warkop tengah mendiskusikan masalah negara.

Kata teman2ku,

”unchh, utuk utuk selegenjehh”.
“Berat, tapi tak berbobot. Lha wong mahasiswa Teknik ngomongi seluk beluk politik. Ahh, pasti ngomong fakta disertai data. Harus efisiensi sana sini”
“Cuk raimu ya, nggateli!”

Ya, ya, ya Setidaknya mereka ada rasa peduli sama carut marutnya internal pemerintah meskipun pengamat dari luar. Seandainya saja nih, mereka punya jabatan setara bapak rektor, mungkin eksekusinya lain lagi, hehe. Saat mahasiswa saja problematika negara mereka urusi, apalagi kalo sudah lulus dan dapat jabatan. Ya toh?? Memang kalau para mahasiswa hendak bercita-cita menjadi pemimpin bangsa, sejak sekarang harus belajar menampung segala macam gejala manusia. Didalam pergaulan tidak boleh memakai kerangka kalah-menang, apalagi memakai interes ego belaka. Lha kon dikader kok pas maba, hehe.

Menjadi mahasiswa atau wakil rakyat yang berlatar belakang teknokrat tak serta merta membuat orang menjadi besar dan menjadi penjual martabak tak mendiskreditkan dirinya sebagai wong cilik. Contohnya? Markobar mas Gibran. Emang dia wong cilik? Hehe.

Kadang keberadaan teknokrat di pemerintahan maupun titah wakil rakyat harus seimbang dengan beberapa orang berlatar belakang yang “akeh omonge, tapi gak tau budhal!”.

Sejatinya, menurut saya ada dua macam jenis mahasiswa berdasarkan output lulusannya. Kiblat korporat atau teknokrat. Tatkala kemaren, banyak sekali mahasiswa menyambi jadi pembantu terpelajar untuk mendapat uang. Orientasi menjalin sebuah relasi dengan pelbagai macam orang dari korporasi sampai orang2 yang bertitel lebih satu, dua tingkat diatas sarjana. Banyak uang dan mengaplikasikan ilmu, karena ilmu itu mahal dan harus dikembang biakkan. Ahh, nanti jadi seorang yang teknokrat atau korporat ya


Ahmad Syahroni, 2017

Pribumi

Like what you read? Give Ahmad Syahroni a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.