Biogas, Energi Terbarukan ala Peternak Lombok

Ahyar Ros
Ahyar Ros
Aug 27, 2017 · 4 min read

Energi biogas merupakan energi, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan listrik dan bahan bakar kendaraan. Biogas mulai dikenal oleh masyarakat secara gencar, ketika krisis energi melanda negara Indonesia, dan demikian juga dengan negara yang lainnya. Krisis energi ini telah terjadi beberapa tahun belakangan ini dan diperkirakan akan terus terjadi untuk beberapa tahun ke depan, jika tidak diatasi dengan serius, maka Indonesia akan terancam dengan berkurangnya energi fosil (batubara, minyak bumi), yang yang selama ini jadi andalan dalam pemenuhan energy dengan jumlah besar.

Padahal peningkatan permintaan kebutuhan terhadap energi, seperti pada listrik dan bahan bakar minyak akan terus terjadi. Ini tidak dapat dipisahkan dengan populasi penduduk yang terus mengalami pertumbuhan, sehingga kebutuhan penduduk akan listrik dan bahan bakar minyak ini akan meningkat sepanjang masa. Sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang bersifat segera untuk menciptakan dan memproduksi energi terbarukan.

Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal dengan pulau ternak sapi terbesar di wilayah bagian timur. Kita bisa menjumpai sapi-sapi warga berkeliaran di sawah, lading dan gurun ternak milik warga. Tak anyal, jika Lombok mendapat julukkan sebagai Bumi Sejuta Sapi (BSS). Secara tak lansung ini akan menghasilkan kotoran dalam jumlah banyak, jika tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan lingkungan para peternak di Lombok.

Berdasarkan penelitian, sapi menghasilkan sekitar 10 kg kotoran perhari. Ini berarti jika sejuta ekor Sapi, maka menghasilkan 10 ribu ton kotoran perhari atau 300 ribu ton per bulan. Sehingga kotoran sapi ini harus ada alternatif dalam pemanfaatan yang bisa mendatangkan kebergunaan bagi masyarakat di Lombok. Di sisi lain, pemerintah daerah NTB mengambil peran dalam penggelolaan kotoran sapi ini.

Guna mendukung upaya pengelolaan kotoran sapi, Pemerintah NTB bekerja sama dengan Hivos meluncur-kan program pengembangan 1.000 unit reaktor biogas. Dana miliyaran rupiah untuk pengembangan biogas di NTB, yang meliputi Pulau Lombok dan Sumbawa. Dalam rangka mensinergikan langkah untuk mensukseskan program ini, Hivos mengadakan pertemuan dengan para pemangku kepentingan di tingkat provinsi dan kabupaten, yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara dan Kota Mataram.

Potensi gangguan lingkungan dapat diminimalisir dengan memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas. Mengolah kotoran sapi menghasilkan manfaat ganda; pertama, biogas sebagai bahan bakar memasak dan penerangan dan kedua, ampas biogas sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman pertanian. Hingga saat ini sudah Ratusan Unit sudah di bangun di berbagai tempat di NTB termasuk 16 Unit yang sudah di bangun di Desa Rensing Bat, Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur. Satu di antaranya adalah Bantuan dari salah satu Perusahaan asal Pemerintah Perovinsi NTB,15 Unit adalah Bantuan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Muhammad Hilmi (Kepala Desa Rensing Bat), menjelaskan bahwa program bantuan pembangunan instalasi biogas ini bentuk perhatian pemerintah terhadap keberadaan peternak sapi di desa Rensing Bat, diharapkan dengan bantuan ini masyarakat yang memiliki ternak sapi bisa memanfaatkan kotoran sapi sebagai energi alternatif biogas dan manfaatnya bisa dijadikan sebagai bahan bakar untuk memasak atau listrik. “Dengan penggelolaan kotoran sapi menjadi biogas ini, masyarakat di Rensing Bat bisa menjadi alternatif dalam pemanfaatan energi baru terbarukan”. Ceritanya Kepala Desa Rensing Bat ini.

Salah satu penerima bantuan ini H. Mursidin juga bercerita, ia merasa senang bisa dapat menerima program biogas ini “Saya memiliki lima sapi maka kotorannya tidak lagi menjadi masalah lingkungan, namun dengan adanya program ini kotoran sapi tersebut bisa menjadi gas ramah lingkungan” Cerita H.Idin panggilan akrabnya. Tak lupa pula ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada perusahaan yang memberikan bantuan dan sudah hampir setahun lamanya menggunakan biogas.

H.idin diberikan bantuan berupa itik kurang lebih 30 ekor disamping. Ia juga mendapat bantuan berupa uang untuk membeli ternak, sapi sebesar Rp.7.000.000. Sawah tempat menanam cabe seluas 20 ha, yang kelola bersama anggota kelompok 20 Orang pemilik Biogas di kecamatan Sakra Barat, ampas biogas dimanfaatkan menjadi pupuknya bersama anggota kelompok ternak. Bersama kelompoknya H. Idin juga mengadakan pertemuaan bulanan yang mana pertemuan ini kita sebagai anggota membuat urunan arisan setiap bulan Rp.100.000, sebagai bentuk rasa persaudaraan di antara anggota kelompok.

Energi yang yang dihasilkan dari biogas itu digunakan sebagai kebutuhan utama dalam memasak, gas menjadi energi alternatif ramah lingkungan. Setelah program konversi minyak tanah menuju gas diberlakukan maka masyarakat setiap hari sangat membutuhkannya. Selama ini mereka hanya bisa membeli belum mampu produksi sendiri. Sehingga pengeluaran setiap bulan bertambah dengan pembelian gas. Sebagai solusi tepat dalam rangka memanfaatkan kotoran sapi sebagai gas, maka hadir program biogas yang digagas pemerintah untuk membuat sendiri gas melalui kotoran ternak sapi atau kerbau yang ada di kampungnya.

Di Desa Rensing Bat, program biogas sendiri tergolong program baru yang sebelumnya belum ada yang melakukan sebelumnya. Biogas merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan, energi biogas yang ditimbulkan atas fermentasi kotoran hewan seperti sapi atau kerbau, sehingga menghasilkan gas yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Apa yang dilakukan masyarakat Rensing Bat, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur adalah cara yang tepat dalam pemanfaatan energy terbarukan, di tengah makin menyusutnya energi fosil yang disebabkan ketergantung terhadap energi ini. Upaya pemanfaatan kotoran ternak kemudian diolah menjadi biogas adalah alternatif dalam permanfaatan enrgi baru terbarukan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis energi terbarukan #15HariCeritaEnergiTerbarukan oleh Kementerian ESDM Republik Indonesia (RI)

)

    Ahyar Ros

    Written by

    Blogger | Like Fotografi | Fellowship Tempo Institute | Kampung Media | Kompasianer |

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade