Mobil Hemat Energi di Kampus IPB Bogor

Siang itu, hari terasa panas, puluhan mobil melintasi ruas jalan utama kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Siang itu, saya berdiri di area parkir menuju perpustakan LSI kampus itu, bangun ini berjarak setengah kilometer dari tempat saya berdiri. Untuk menuju Library ini, sejak menjadi mahasiswa s2 di kampus IPB, sesekali saya mengunakan mobil kecil listrik hemat energy ini. Belakangan mobil listrik hemat energi ini menjadi sangat disukai oleh para mahasiswa IPB Bogor ini, termasuk saya sendiri. Selain pertimbangan murah dan kenyamanan, hemat energi juga menjadi pilihan guna mendukung lingkungan yang nyaman pada lingkungan yang berkelanjutan.
Akhir tahun 2015 adalah ditetapkanya kampus IPB sebagai Green Transportasi. Tujuannya adalah untuk memberikan kenyaman dan mendorong kebiasaan hidup sehat dan hemat energi dan menciptkan kondisi kampus yang nyaman bagi para mahasiswa. Awalnya, penerapan mobil listrik ini mengalami penolakkan, karena mengguranggi jatah tukang ojek kampus IPB.
Hasil penelitian PPLH (2015) menunjukkan bahwa dalam dua tahun terakhir jumlah kendaran bermotor yang memasuki kawasan kampus IPB Dramaga rata-rata perhari 3.076, yakni sepeda motor dan mobil. Keadaan ini tentu tentu akan mempengaruhi kondisi lingkungan, apabila tak dikendalikan akan merugikan, baik yang menyangkut emisi C02 dalam menguranggi polusi udara.
Program dikenal dengan Green Transportasion, ini diharapkan akan membebaskan beberapa ruas jalan tertentu di Komplek IPB dari sepeda motor dan mobil. Karena itu, pihak kampus telah menyiapkan kendaraan ramah lingkungan untuk mahasiswa dan civitas akademika IPB berupa sepeda, mobil listrik, dan bus berbahan bakar gas.
Pihak kampus akan terus melakukan penataan khususnya dalam hal transportasi di dalam kampus. Dalam program Green Campus ini terbagi menjadi dua yaitu Green Transportation dan Green Energy. Green Transportation mencakup penggunaan transportasi massal untuk lingkungan sekitar kampus IPB. Sedangkan Green Energy yaitu penggunaan bahan bakar gas dan listrik untuk transportasi massal.
Dari seorang teman satu kampus saya banyak mendapat banyak cerita tentang Green Transportion ini. Kawan ini bercerita mengenai bagaimana, pihak kampus IPB menyediakan lahan parkir yang dikhususkan untuk mahasiswa dan civitas akademia kampus agar kendaraan mereka tidak lalun lalang di sekitar kampus. Memang usaha yang cukup berat adalah memulai Green Transportation.
Secara resmi program Green Transportation ini sudah dimulai sejak 1 September 2015, kemudian tahap persiapan dan implementasinya mulai tanggal 1 Oktober 2015. Program Green Campus ini rencananya akan benar-benar bisa diterapkan pada tahun 2020.

Penataan area parkir untuk program Green Transportation yaitu di lapangan parkir Graha Widya Wisuda (GWW), Green TV dan lapangan parkir Posko Resimen Mahasiswa (Menwa).
Kelebihan Mobil Listrik ini
Mobil listrik digadang-gadang menjadi salah satu cara untuk mengurangi polusi di kampus IPB. Kendaraan ramah lingkungan ini diklaim mempunyai banyak kelebihan, inilah kelebihannya;
Pertama, salah satunya yang menjadi pertimbangan adalah tidak adanya emisi. Tidak seperti mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil. Selain itu mempunyai sederet kelebihan, mobil listrik juga memiliki beberapa kekurangan.
Kedua, salah satu keunggulan dari mobil listrik ini adalah lebih senyap dan sangat halus. Hal ini akan berdampak positif terhadap kenyamanan selama perjalanan lantaran tidak banyak kebisingan yang muncul di dalam mobil. Hal ini tentu berlawanan dengan mobil konvensional yang kinerja mesin bakarnya lebih berisik.
Hanya saja kesenyapan ini juga mengundang permasalahan lain. Lantaran tidak menimbulkan suara, orang mungkin akan sulit untuk mengetahui ada mobil listrik di sekitarnya.
Ketiga, mobil listrik mengandalkan baterai sebagai jantung pacunya. Apabila daya baterai habis, pemilik bisa mengisi ulang di rumah. Tidak perlu pergi ke SPBU, seperti layaknya mobil konvensional. Tinggal masuk garasi dan hubungkan mobil ke sumber listrik untuk melakukan pengisian.
Keempat, Kelebihan mobil listrik berikutnya adalah lebih murah dalam hal pemakaiannya. Di sebagian besar negara di dunia, listrik lebih efisien daripada pemakaian minyak bumi. Dikatakan bahwa pengeluaran memakai mobil listrik bisa sepertiga lebih murah dibanding mobil konvensional yang memakai bahan bakar.
Kelima,Berbeda dengan mobil konvensional, mobil listrik diklaim tidak memerlukan banyak biaya untuk perawatan. Pasalnya mobil ini tidak mempunyai sistem pembuangan. Selain itu mobil listrik juga tidak perlu mengganti oli atau suku cadang yang berhubungan dengan mesin bakar. Meski begitu bukan berarti mobil ini bebas perawatan. Pemilik perlu melakukan pengecekan ban secara rutin untuk memastikan kondisinya tetap baik. Cukup sederhana bukan?
Keenam, tanpa emisi, seperti yang telah disinggung di atas, mobil ramah lingkungan ini tidak menghasilkan emisi. Hampir semua peneliti percaya bahwa mobil listrik, bahkan di daerah yang kelistrikannya memakai batubara, mempunyai dampak lingkungan yang lebih kecil daripada kendaraan konvensional.
Sementara di daerah yang sumber listriknya berasal dari campuran bahan terbarukan seperti angin, air dan matahari justru akan memunculkan manfaat yang sangat terasa. Dijelaskan bahwa mobil listrik dipercaya memberikan manfaat nyata untuk meningkatkan kualitas udara yang lebih baik.
Kekurangan MobilListrik
Mobil listrik memang menggoda karena mempunyai beberapa keunggulan. Akan tetapi ada beberapa kekurangan yang juga tidak bisa diabaikan. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi masing-masing produsen yang menawarkan mobil listrik.
Kendati begitu bukan tidak mungkin ke depannya kekurangan mobil listrik ini dapat tertutupi sehingga membuatnya benar-benar menarik bagi masyarakat. Lantas apa saja kekurangannya? Berikut adalah detail selengkapnya.
Pertama, adalah daya jangkau mobil listrik yang terjangkau. Permasalahan ini lantas menimbulkan kekhawatiran jika mobil listrik kehabisan tenaga di jalan yang akan merepotkan penggunanya. Untuk diketahui, dalam satu kali pengisian baterai sampai penuh, mobil listrik rata-rata dapat menempuh jarak sejauh 200 km. ada pula mobil yang dapat menembus jarak 400 km. Hanya saja masih jarang dan harganya sudah pasti lebih tinggi.
Kedua, kekurangan mobil listrik berikutnya adalah pengisian baterai yang membutuhkan waktu lama. Pada mobil ini dibutuhkan waktu berjam-jam agar baterai terisi penuh. Tentu berbeda dengan mobil konvensional yang membutuhkan waktu lebih singkat saat mengisi bahan bakar.
Hal inilah yang membuat orang khawatir jika mobil kehabisan daya di jalan lantaran jarak tempuh yang terbatas. Jika baterai mobil listrik habis di tengah jalan, maka pengguna harus menunggu waktu lama sebelum dapat menggunakan kendaraannya kembali.
Di sisi lain beberapa negara sudah menawarkan fasilitas fast charging yang dibuka untuk umum. Dengan memanfaatkan fasilitas tersebut pengguna hanya perlu menunggu waktu 20 sampai 25 menit agar mobil listrik bisa dipakai kembali untuk menempuh jarak 80 km.
Hanya saja fasilitas tersebut masih terbatas dan hanya berada di tempat-tempat yang populasi mobil listriknya banyak. Bila mobil ini dibawa ke tempat yang lebih jauh, maka perlu didukung dengan fasilitas pengisian baterai.
Saat ini negara-negara maju di dunia sudah mempunyai fasilitas tersebut. Fasilitas stasiun pengisian baterai mobil listrik ini bisa berkembang jika populasi mobil listrik semakin banyak.
Sensasi Berkendara Kurang
Kekurangan mobil listrik yang terakhir adalah sensasi berkendara yang kurang terasa. Seperti yang dijelaskan di atas, mobil listrik lebih senyap dibandingkan dengan mobil konvensional. Meski menambah kenyamanan, hal ini bisa mencari sebuah poin minus bagi pecinta mobil yang suka dengan suara knalpot gahar.
Tidak hanya itu, torsi yang langsung tersalur ke roda juga membuat sensasi mengemudi berkurang. Sebab tidak ada entakkan perpindahan gigi yang biasa dirasakan jika memakai mobil berbahan bakar fosil.
Itulah kelebihan dan kekurangan mobil listrik yang bisa disampaikan. Mobil listrik bisa menjadi tawaran menarik untuk masyarakat yang mengutamakan kenyamanan dalam berkendara dan tidak mengabaikan polusi udara yang dihasilkan kendaraannya.
Akan tetapi di sisi lain mobil listrik ini masih kurang bersahabat bagi masyarakat pecinta mobil yang senang mengejar sensasi dalam berkendara. Di samping itu mobil ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengisi daya baterai. Bagaimana, tertarik dengan mobil listrik?
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis energi terbarukan #15HariCeritaEnergiTerbarukan oleh Kementerian ESDM Republik Indonesia (RI)
