Yang Tak Pernah Bisa Aku Suarakan

Azza Ismu Annisa
Sep 6, 2018 · 2 min read

Terkadang, tidak semua harus tersampaikan. Terkadang, tidak semua harus tersalurkan. Sebab terkadang, ada beberapa yang terpaksa kita endapkan untuk akhirnya kita berikan di waktu yang kita anggap tepat.

Ditujukan untuk para hati yang sempat menjajaki, lalu berlalu tanpa basa-basi

Hai, semoga selalu baik-baik saja

Akhirnya tiba juga kalimat-kalimat panjangku kamu baca untuk kemudian direnungkan. Semoga tidak pernah mengecewakan.

Aku hanya ingin sampaikan beberapa yang aku rasakan belakangan. Aku fikir awalnya tak akan pernah sejauh ini, namun rencana semesta memang selalu tak pernah aku duga.

Terima kasih untuk beberapa purnama yang begitu menyenangkan. Sedikit berlebihan, bahkan di saat raga kita teramat berjauhan. Tapi entah, aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan. Nyaman dan sedikit rasa sayang. Baru sedikit memang. Namun, berkali aku menepis berkali lipat pula rasa itu bertambah nyata. Tersebab apa akupun tidak tahu pastinya. Apakah kamu juga?

Siapa yang bisa dipersalahkan? Mungkin bukan kamu. Mungkin aku sendiri. Aku telah sengaja membuka peluang untuk menjatuhkan hatiku kepada kamu yang tak pernah aku daftarkan dalam hidupku. Aku yang patut dipersalahkan karena tidak bisa bersikap dengan lebih bijak. Aku membiarkan diriku terseret dalam arus yang sebenernya aku ciptakan sendiri alirannya.

Maaf atas semua salah yang mungkin berulang aku lakukan. Aku tidak pernah menginginkan pertemuan pun perpisahan dengan cara yang demikian. Namun garis semesta apa bisa kita sangkal? Apa sebaiknya kita memang harus menyudah? Jika malam itu kamu telah lebih dulu berlalu tanpa ucapan perpisahan, maka malam ini tanpa perlu rasa malu dan ragu akan kusampaikan segenap apa yang aku rasakan. Terserah pula jika kamu ingin menggambarkan rupa diriku.

Aku hanya tidak ingin hubungan baik yang terjalin sejak awal menjadi berantakan hanya karena kita berlari tanpa berpamitan. Semoga setelah ini kita tetap bisa baik-baik saja. Sebab sapaanmu sore itu masih begitu jelas aku mengingatnya. Perasaanku telah tersampaikan, meski tidak bisa sepenuhnya, tapi semoga kita bisa menjadi sewajarnya.

Jika kamu bertanya mengapa baru sekarang aku sampaikan? Sebab jika kemarin aku utarakan, semua tak akan bisa baik-baik saja. Jika hari ini kamu terusik sebab frasa-frasa yang aku ketik, ingatlah bahwa jauh sebelum hari ini aku telah bersusah payah merapikan semua yang pernah kamu huni lantas kamu kacaukan tanpa permisi.

Tak pernah ada dendam, yang tertulis di atas hanya kalimat-kalimat endapan yang aku susun ulang. Semoga berkenan.

Jika ada yang mempunyai perasaan serupa, semoga bisa mewakili. Sebab aku tahu, lisan tak akan bisa berbicara segamblang itu. Sebab tulisan akan bisa kita susun dengan begitu eloknya, agar tidak menyakiti pada akhirnya. Jangan terlalu sering memelihara perih, alih-alih bisa pulih , lukamu justru akan semakin terasa pedih.

Salam sayang,

Azza Ismu Annisa

Azza Ismu Annisa

Written by

perempuan dengan isi kepala yang berantakan | pemintalkata.tumblr.com