Kalau kecewa harus ditulis, biar menguap hilang.. dan kemudian hari akan tertawa melihat tulisan kekecewaan yang seharusnya tidak perlu dikecewakan. Mungkinkah di masa depan saya akan menyesal bahwa saya pernah kecewa? mungkinkah dimasa depan saya akan mengatakan bahwa ini hanya kerikil kecil dari kekecewaan lainnnya yang akan datang. Gampang sekali kecewa, karena berharap terlalu banyak, karena berharap Minggu ini bisa uji validitas, karena manusia hanya bisa berkeinginan dan berusaha seadanya dengan pengharapan yang jauh tidak berbanding. Ya… manusia itu saya hehehe. Pada akhirnya jika ingin dihitung, saya menuju UPI kampus tercinta ini, dengan jarak dari rumah yang cukup jauh menurut saya, lumayan membuat panas atau berkeringat. Tapi, baru segitu kok, coba liat Da, TU ilmu komunikasi namanya pak Endang, beliau harus ready di kantor jurusan dari jam 7 dan dia bolak-balik dari Subang-UPI. Kamu yang cuma Kopo-UPI mau apa? huhuhu. Coba liat siswa-siswi SD Situbondong Jawa Timur, yang ke sekolah aja mereka lewat jembatan “maut”terbuat dari bambu yang sudah rapuh, dibawahnya ada sungai besar. Kamu bisa apa yang tinggal duduk naik motor doang dan narik gas supaya maju atau tarik rem supaya berhenti? atau orang tua yang harus menggendong anaknya untuk nyebrang sungai, kamu bisa apa yang udah dikasih ongkos dan segala enak Da. Halahhhhhhh, suka nggak tau diri gitu. Okey-Okey lah ini jadi ngomong sendiri hahahha. Harus bersyukur sekecil apapun kan yah? okey saya akan bersyukur, Alhamdulillah ya Allah saya ke Upi pun selamat sampai tujuan, saya masih bisa berjalan menaiki tangga fakultas, saya masih bisa bertegur sapa dengan dosen pembimbing, saya masih bisa menulis ini, maafin ya Allah.. ayo Aidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.