Latepost “Hari Kartini”

Caraku merayakan hari Kartini, ialah menulis, karena Ibu Kita Kartini gemar menulis hingga huruf-hurufnya terdengar sampai negara Eropa.
 
 Entah apakah aku sudah atau setidaknya pernah menjadi seperti sosok Kartini. Entah ada atau tidak fotoku yang bisa ku unggah sebagai simbolis menjadi Kartini. Sebagai anak perempuan pertama di era 90-han, tentunya zamanku sangat berbeda dengan Kartini. Zamanku sungguh lebih mudah, namun kehebatan Kartini jauh lebih sekadar dari wanita tangguh. Sampai saat ini Kartini masih hidup dengan tulisannya yang memukau.
 
 Saat itu pernah Kartini menulis surat, dalam isi suratnya justru ia sangat tertarik dengan ‘gadis modern’ di tanah Eropa yang berani, yang dapat
 berdiri sendiri, yang menarik hati Kartini sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat dan
 keasyikan. Jika Kartini hidup, ia pasti tahu kini ia lebih hebat dari ‘gadis modern’ itu.
 
 Kartini yang hidup dengan adat istiadat yang bahkan tidak memperbolehkan wanita untuk keluar rumah, tapi mengapa ia bisa mengubah mindset harga diri perempuan hingga saat ini ? sedangkan aku yang bebas berkelana kemanapun, ke penjuru kota terkenal pun, tanpa mengenal waktu, namun aku tidak mengubah apa-apa.
 
 “Saya ingin
 bebas agar saya boleh dan dapat berdiri sendiri, tidak perlu tergantung pada orang lain, agar….agar tidak harus kawin!
 Tetapi kami harus kawin, harus, harus! Tidak kawin adalah dosa, cela paling besar yang ditanggung seorang gadis Bumiputra dan keluarganya. ” salah satu ungkapan Kartini di suratnya. Malu rasanya, jika kini aku justru ingin cepat menikah, padahal aku belum berbuat apa-apa. Padahal aku, tak dipaksakan untuk ‘kawin’ seperti Kartini, mengapa Kartini sangat menolak, sedang aku sangat mendamba. Mengapa Kartini membara untuk bersekolah setinggi langit, namun terhalang adat perkawinan, sedang aku menyerah di gelar Sarjana saja, bahkan mimpi menjadi magister atau profesor pun tak ada sama sekali, hanya menikah yang ada di benakku, salahkah? mengapakah?
 
 “Ajaran Islam mengizinkan kaum laki-laki kawin dengan 4 orang wanita, tapi
 selama-lamanya saya tetap menganggapnya sebagai dosa. Semua perbuatan yang
 menyebabkan manusia menderita saya anggap sebagai dosa. Dan dapatkah
 kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang perempuan jika suaminya pulang dengan wanita lain sebagai saingannya yang harus diakuinya
 sebagai istrinya yang sah? Semua untuk kaum laki-lakin dan tak ada sesuatu pun
 untuk kaum perempuan. ” salah satu paragraf dari Kartini untuk sahabatnya Stella yang berada di Eropa. Untuk hal itu, akhirnya aku dan Kartini memiliki sedikit kesamaan.
 Kartini yang sangat lama terkurung di dalam istana luas namun sejauh-jauhnya ia melangkah akan sampai pada pintu yang terkunci dan dinding batu yang dingin, namun ia bisa menulis surat yang sangat memotivasi. Sedang aku? yang rasanya ingin aku jalan kemanapun, tinggal aku lakukan, aku bisa berlari menembus kota, sekat dunia atau lebih dari itu jika aku mau, namun mengapa aku tidak membuat apa-apa dengan kebebasan ini.
 “Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.
 Dan, siapa yang bisa paling banyak berbuat untuk yang terakhir itu, yang paling
 banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Perempuan. Karena, di pangkuan perempuan lah pertama-tama manusia menerima pendidikannya. Di sana anak mula-mula belajar merasa, berpikir, berbicara. ” wahai Kartini andai engkau masih hidup, kau bisa mendengar bahwa aku teramat sangat jatuh cinta dengan tulisanmu, tutur katamu, sudut pandangmu, dari suratmu saja seolah mereka menari-nari dengan indah, melambangkan engkau yang berbudi luhur. Kartini, menurutmu apakah aku sudah memiliki kecerdasan dan budi yang seimbang? menurutku tidak Kartini, keduanya masih seperti tinggi dan rendah, panjang dan pendek, tidak beraturan dan simetris.
 
 Kepada perempuan di zamanku, Kartini menulis.. menulis dan menulis.. ia bahkan tidak memiliki akun instagram, yang menyediakan layanan instan, membuat kami manja untuk menulis yang tidak berguna. Sedikitnya mari kita mencontohkan Kartini, dengan fasilitas dan pendidikan yang jauh lebih baik, aku yakin kita mampu menulis untuk merubah dunia.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.