Saya Rekomendasikan 3Film Non-Indonesia Bertema “Masuk Akal” Ini Karena Tidak Ada Cuplikan “Adegan Dewasa”

Mungkin, saya salah satu dari sekian banyak orang yang merasa canggung kalau nonton film non-Indonesia bersama dengan keluarga. Kenapa? Karena sudah sejak lama mindset saya terbentuk kuat , bahwa film non-Indonesia (terutama film hollywood) 80% pasti mengandung komponen dewasa — seperti kissing scene, nudity, bahkan sex scene. Rasanya malah malu sendiri kalau adegan tersebut muncul saat menonton bersama keluarga.
Sebenarnya beberapa judul film Indonesia pun (mungkin) banyak yang dibumbui komponen dewasa. Tapi jujur saja, saya memang lebih banyak nonton film non-Indonesia ketimbang film Indonesia. Bahkan bisa dihitung dengan jari, berapa judul film Indonesia yang saya tonton sampai saat ini. (Mohon maaf) Saya memang kurang mengapresiasi film karya anak negeri.
Sebagai warga sipil yang wawasan perfilmannya masih terbatas, saya merekomendasikan 3 judul film non-Indonesia yang menurut saya aman jika ditonton bersama keluarga. Tapi bukan berarti film ini bertema keluarga ya. Film yang saya rekomendasikan ini ceritanya memang fiksi, tapi secara logika masih sangat memungkinkan untuk terjadi di kehidupan nyata. Kalau istilah saya pribadi sih “film bertema masuk akal”.
1. 12 Angry Men (1957)

Seorang anak berusia 18 tahun didakwa kasus pembunuhan ayah kandungnya sendiri dan dituntut hukuman mati. 12 pria dewasa dari berbagai kalangan ditunjuk oleh hakim untuk memutuskan apakah anak tersebut bersalah atau tidak (sesuai prosedur persidangan di Amerika). Dalam kurun waktu beberapa jam, mereka dikumpulkan dalam satu ruangan untuk saling bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
Sekilas film ini terlihat sangat monoton. Kamu cuma disuguhi adegan full dialog dengan latar tempat yang tidak berubah, yaitu di sebuah ruangan kecil. Tapi walaupun film ini isinya cuma diskusi dan berdebat, saya sangat menikmati alur ceritanya. Terutama si tokoh utama, yaitu juri no.8 (Henry Fonda) yang sejak awal berargumen bahwa anak tersebut tidak bersalah. Argumennya yang rasionalbisa mematahkan argumen ke-11 juri lainnya yang sejak awal merancang keputusan bersalah pada terdakwa.
2. Greta (2018)

Film ini mengingatkan saya tentang nasihat lama ibu sewaktu masih anak-anak : “Jangan sembarangan terima apapun dari orang ga dikenal”.
Frances McCullen seorang pendatang dari Boston yang tinggal di Manhattan bersama sahabatnya, Erica Penn. Suatu ketika, Frances menemukan sebuah tas tertinggal di subway. Tas tersebut milik Greta Hideg, seorang janda tua yang kesepian. Frances yang masih berduka atas meninggalnya sang ibu, merasa luluh dengan sikap keibuan Greta. Ia memutuskan untuk bersahabat dengan Greta, walaupun Erica beberapa kali memperingatkannya untuk tidak mudah percaya pada orang asing.
Film thriller psikologis ini menurut saya terornya memberi efek tidak nyaman setelah selesai menonton. Bukan karena adegan gore atau teror yang berlebihan. Justru efeknya terasa lebih “lembut” dan manusiawi. Efek yang paling dominan adalah ketika Greta melakukan stalking pada Frances dan Erica. Kebayang ga sih, di luar sana ada orang asing yang menguntit kita diam-diam dan merancang dengan rapi modus kejahatan. Kalau stalking buat kepo doang sih gak masalah, tapi kalau sudah bersikap “posesif” berlebihan, ngeri juga.
3. Searching (2018)

Walaupun stalking itu agak menyeramkan, tetapi bisa jadi malah menyelamatkan. Seperti halnya dalam film Searching ini, dimana David berusaha mencari keberadaan putrinya — Margot — yang hilang berhari-hari. Selama ini David tidak sadar bahwa hubungannya dengan Margot tidak cukup dekat. David tidak pernah tau bagaimana pergaulan Margot sehari-hari. Kematian istrinya seolah menjadi tema yang ingin ia hindari dari Margot, hanya karena ia tidak ingin putrinya merasa sedih. Alhasil, David hanya mengandalkan jejak dokumen dan sosial media Margot untuk mencari keberadaannya.
Film berdurasi 1 jam 42 menit ini bagi saya sangat anti-mainstream, terutama dari segi penyampaian alur cerita. Sebab film Searching menampilkan adegan dalam perspektif layar ponsel dan komputer. Jadi kita disuguhi adegan text chat, video webcam, display sosial media, dan video cctv. Gak kepikiran sama sekali deh bikin film yang dikemas dengan teknik perspektif kayak gitu. Kalau kata salah satu akun reviewer film di twitter, film ini BAJINGUK..!!! KEREN ABIS.
Demikian film yang bisa saya rekomendasikan di postingan kali ini. Sebenarnya masih banyak sih film bertema “masuk akal” yang minus “komponen dewasa” nya dan gak bikin kita canggung nonton bareng keluarga. Tapi karena keterbatasan referensi atau saya kurang mengingat film apa yang sudah pernah saya tonton sebelumnya, jadi hanya 3 film yang saya rekomendasikan. Itu pun karena saya merasa ketiga film ini sangat berkesan dan tanpa “adegan dewasa”.
Mungkin teman-teman bisa memberi tambahan rekomendasi di kolom komentar atau via DM di akun IG saya @ailaniv. Semoga bermanfaat.
Selamat menonton.
