Random Thoughts

These are just a bit-random-insane-thoughts of me. I’m fine while writing these, and so normally I’m still me, live the life I love and always love and appreciate my self, no matter what. And if it seems looked how deep I am, it doesn’t mean I asked you to understand me, or tell you how un-stable I am. It means I’d like to show you, this is also ME. So there we go…

Semua orang salah paham soal kami.

Hanya karena aku wanita dan dia lelakinya, maka aku tidak boleh terlihat berjuang untuknya.

Di mata publik, ia memang sempurna. Selalu mengusahakan apapun demi aku dan kebahagiaan kami atas nama cinta. Aku harus bersyukur? Tentu. Tapi ada yang seharusnya publik juga tahu, bahwa ia tidak sendirian mengusahakan semuanya.

Aku tidak nyaman membicarakan yang lalu, namun kami benar-benar jatuh bangun untuk ini.

Hatiku pernah patah, sangat, membentukku agar tidak percaya dengan hati manapun. Aku menikmati kesendirianku selama hampir dua tahun.

Lalu ia datang,

ah,

tidak perlu kuceritakan bagaimana istimewanya ia pada awal mula cerita ini.

Yang terjadi berikutnya adalah aku tulus mengabdi. Aku benar-benar mencintai karena tenggelam oleh janji, bahwa aku yang jadi satu-satunya, bahwa bagaimana ia begitu tidak menyukai masa lalunya.

Aku sempurna.

Tidak bergantung padanya untuk alasan apapun, memberi keleluasaan untuknya mengembangkan diri, itu menjadi bagian tersulit bagi seorang wanita pada umumnya. Entah, aku suka.

Tapi lalu aku harus membunuh entah ekspektasi tinggi maupun perasaan benci demi dia yang masih tersangkut di masa lalu sementara berhari-hari sebelumnya telah menjanjikan bahwa aku yang jadi satu-satunya. Ini berat, aku pernah terluka dan tidak lucu bahwa aku harus melepasnya juga. Aku mencari tahu dimana alpaku. Sampai akhirnya, aku sadar bahwa ia pernah meminta kejelasan status padaku namun saat itu aku tidak siap dengan hatiku. Belum. Aku menerima khilafnya sebagai kesalahanku dan kembali berdamai dengan hatiku sendiri.

Aku memaafkannya.
 Tulus, meski berbeda dengan melupakan.
 Kejadian itu jadi mimpi buruk bagiku, karena aku telah memberi kepingan hati terakhirku untuknya, sebelum aku mengetahui kekhilafannya itu. Tak mengapa, aku sudah terlanjur memberi semua hati, maka tidak mungkin aku pergi. Begitu pikirku kala itu.

Kami masih bersama.
 Dengan segala sikapnya yang terkesan menuntutku sempurna, aku masih cinta.
 Dengan segala kemanjaannya yang terkadang bukannya gemas justru bikin lelah, aku masih cinta.
 Dengan segala emosi naik-turunnya, aku masih cinta.
 Bahkan dengan segala permintaannya yang secara fluktuatif untuk melakukan segala hal pribadi denganku….. aku semakin cinta padanya dari hari ke hari. Aku memang pernah berprinsip untuk membatasi diri, tapi ternyata rasa takutku lebih besar. Takut ia berpaling dariku lagi jika saja aku menolak satu permintaannya, seperti sebelumnya. Aku mulai berusaha untuk tidak lagi menolak permintaannya, karena aku sudah belajar kemungkinan terburuk yang akan terjadi… jika saja aku menolak salah satu permintaannya.

Tapi bagaimana, akhirnya aku lelah.

Aku tidak bisa melakukan segala hal hanya didasari pada rasa takutku akan ditinggalkan olehnya. Aku mencoba menolak, sekali, dua kali, ia kerap jengkel padaku dan sikapnya itu benar-benar tidak membuatku tenang. Yah, ia terbiasa menerima apa yang ia inginkan dariku, maka penolakanku bukan hal yang pantas diterimanya.

Februari 2016, aku menyerah.

Aku benar-benar harus menghargai hati dan diriku sendiri. Meski telah kuberi lebih dari sekedar peluk dan kecup, namun hatiku belum siap memberikan semua yang ia minta. Ini tidak menyenangkan untukku. Apakah jika aku sekali saja mencoba menghargai diri sendiri, maka aku pantas disebut egois?

Aku telah berusaha menjelaskan itu padanya, namun ia tengah terluka dan tidak bisa memahaminya. Aku lelah, hatiku butuh istirahat tidak bisa terus-menerus ada untuk membuatnya mengerti dan menerima ini semua. Iblis membisikiku untuk menggunakan pihak ketiga. Menarik hati lainnya agar dia mundur sesaat dan mencerna semua penjelasan, mengintropeksi diri. Aku gagal, karena justru semakin memperburuk suasana.

Publik mendukungnya, tentu, dan diceritakan olehnya bahwa aku meminta semuanya berakhir hanya karena perbedaan pemikiran saja. Aku kecewa, karena ia yang kuharap peka justru malah membesar-besarkan luka.

Aku berfikir sekali. Dua kali. Sepuluh kali. Akhirnya aku memutuskan kembali berada di dekatnya. Secara perlahan membuatnya memahami perasaanku di tragedi sebelumnya.

Tapi kami memang beda. Ia memiliki karakter yang seharusnya aku hargai, bukannya aku usahakan untuk ubah. Lalu aku memutuskan berusaha menekan perasaanku sendiri — berusaha mengerti bahwa mungkin ia memang pantas menerima lebih dari kecup dan peluk sebagai tanda cinta — jadi aku berharap tidak ada kawan (yang tidak mengerti ini semua) ikut-ikutan menekanku juga. Aku sudah cukup untuk menekan diriku sendiri.

Yah, pada akhirnya kubiarkan realitaku membawa kami, entah akan ke mana. Yang terpenting, aku masih cinta padanya, hingga detik ini, akan selalu cinta.