Bagaimana saya mendapatkan pekerjaan pertama sebagai developer disaat saya sedang sibuk menjalani kuliah dan bekerja sebagai buruh pabrik

pixabay.com

Di Jakarta ada beberapa kampus yang menyediakan kuliah dengan sistem kelas ekstensi yang artinya kelas hanya berjalan di akhir pekan atau malam. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang menjalani kuliah dan disaat yang bersamaan juga bekerja secara fulltime, ya 40jam/minggu atau mungkin lebih-bangeett.

Sialnya pasca lulus sekolah SMK jurusan RPL(pemrogramman) saya tidak mempunya keterampilan apa-apa seperti yang gembor-gemborkan diiklan “SMK Bisa!”, namun saya sadari ketidak mampuan saya itu adalah kesalahaan saya di masa sekolah yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain game, nonton film bajakan, sepak bola, dan seperti abege kebanyakan pacaran (dulu saya tidak se-ngenes sekarang, red:jomblo), akibatnya saya tidak mendapatkan pekerjaan sesuai jurusan dan saya harus bekerja sebagai buruh pabrik di sebuah anak perusahaan astra di Jakarta Utara, oke pekerjaan tersebut tidaklah buruk untuk ukuran anak kampung yang baru lulus, tidak punya bekal keterampilan apa-apa dan masih polos, tapi tetap saja bagi seorang yang memang sudah dikaruniai bakat terpendam ‘malas’ bekerja di pabrik sebagai buruh bagi saya cukup berat.

Saya kuliah di salah satu Universitas Swasta di Jakarta Pusat jurusan Teknik Informatika, awal saya masuk kampus, kuliah saya berjalan hanya pada hari sabtu dan minggu, senin s/d jum’at saya fulltime bekerja di pabrik, bagi saya menjalani kehidupan seperti ini cukup berat banyak tugas-tugas terbengkalai dan sering saya mengalami masalah kesehatan.

Dari kehidupan yang saya jalani tersebut motivasi saya kuliah adalah agar kelak memiliki pekerjaan yang lebih baik lalu ketika sudah saatnya saya akan berwirusaha, yap seperti kebanyakan orang-orang jaman sekarang, wannaprepneur (keinginan menjadi pengusaha tapi tanpa action alias cuma ingin saja).

Teryata tanpa ijazah S1 pun saya berhasil mendapatkan pekerjaan pertama saya debagai Developer, lalu bagaimana saya melakukannya? begini:

1. Motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang gak capek

Seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf atas kehidupan yang melelahkan telah memotivasi saya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

2. Join Komunitas

Awalnya saya join ke grup facebook PHP Indonesia facebook.com/groups/35688476100, dari sana saya jadi memiliki wawasan tentang Web Developement mulai dari technology stack, sampai kondisi lingkungan & prospek pekerjaan. Kebayakan orang beranggapan bahwa kebanyakan main sosial media akan menghambat produktifitas. Saya setuju dalam hal ini jika kita memiliki mentor offline, namun jika anda benar-benar otodidak sebaiknya aktif di sosial media dengan catatan jangan terlalu membuang waktu.

3. Hapus Windows Install Linux

Simple namun benar-benar efektif, bagi orang seperti saya yang hobby nonton anime dan main game, windows memang menyenangkan namun wasting time banget. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan mulai dari baca-baca keunggulan Linux, diskusi dengan para senior dan juga faktor no.1 saya putuskan hapus Windows install Linux, gak pakai dual-boot dual-bootan. Only Linux yang waktu itu distronya Ubuntu ini saya pilih karena di Indonesia Komunitas Lunix paling aktif adalah ubuntu.

4. echo “Hello, World!!”;

Seperti kebanyakan developer di Indonesa bahasa pemrogramman starter saya adalah PHP, dan diawali dengan “Hello world” tidak lupa basmalah. Kenapa PHP? alasannya sama seperti poin no.3 karena komunitasnya paling aktif dan di dukung dengan resource belajar yang sangat banya dan GERATISSSS, jika tidak tahu bisa kontak saya.

5. Langsung belajar famework, meski basic belum baik

Simply saya katakan ini adalah langkah paling TIDAK TEPAT, langsung belajar framework tanpa mendalami dasar-dasarnya justru menghambat saya dan malah gonta-ganti framework di mulai dari Yii, Codeigniter, Rails, Codeigniter lagi dan finnaly Laravel, dilaravel inilah saya mendapatkan pekerjaan pertama saya.

6. Buat sesuatu (aplikasi) dengan ketrampilan, meski sederhana

Sering juga di sebaut Portfolio, jika anda tidak memiliki Ijazah atau sertifikat, portfolio adalah hal yang sanagat penting, dulu saya hanya membuat mini aplikasi transaksi bank dan absensi karyawan dengan fitur-fitur yang sangat minim. (Sudah hilang source-nya)

7. Pede gak Pede Apply aja!

Cukup banyak info lowongan pekerjaan developer di komunitas, anda bisa apply. Jangan terlalu takut untuk apply job, asalkan masih relevan meski anda benar-benar pemula asalkan sudah berusaha belajar dasar dan memiliki porfolio. Selebihnya kita akan banyak belajar di Real project.

8. Pekerjaan Pertama

Setelah lelah letih apply job dan mendapatkan panggilan inteview akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama sebagai developer, FYI pekerjaan pertama itu bukanlan goal namun garis start untuk mengarungi dunia Software Development.

9. Tentukan Pilihan Skill Set

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang menggunakan Python sebagai bahasa pemrogramman dan Django sebagai framework. Seperti yang saya tulis diatas PHP adalah starter dan selanjutnya adalah pilihan. Pilihan saya jatuh pada Django.

Semua orang memiliki kesempatan sebagai developer gak hanya yang sudah lulus kuliah dan punya gelar S1, jaman telah berubah yang terpenting adalah kita bisa memenuhi kebutuhan perusahaan akan SDM, Bahkan pemalas seperti saya yang bahkan memiliki kesibukan dan kondisi yang melelahkan saja bisa apalagi jika anda sudah lulus S1 IT dengan IPK yang bagus.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.