Lebih Peka Isu Kampus

Keberjalanan sebuah organisasi ataupun instansi pendidikan di negeri ini tidaklah selalu mulus. Selalu terdapat rintangan yang menjadi persoalan nan layak untuk diperbincangkan dan dikaji secara mendalam. Tak terkecuali untuk Institut Teknologi Bandung yang katanya merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Begitu pula dengan kehidupan kemahasiswaan didalamnya.

Segala rintangan tersebut tak hanya timbul secara insidental namun juga berasal dari hal rutin yang dilaksanakan. Namun, rintangan-rintangan tersebut harus dilalui dan menjadi masalah yang layak untuk dikedepankan untuk ditanggapi oleh orang-orang yang bernaung di kampus ini yang kemudian dapat kita sebut dengan isu kampus.

Di dalam KM ITB sendiri yangmana merupakan organisasi terpusat kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung, terdapat beberapa isu yang muncul. Yang pertama yaitu mengenai tindaklajut dari Kongres KM ITB terhadap pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh presiden KM ITB. Hal ini menghasilkan keputusan berupa dilaksanakannya referendum penurunan Presiden KM ITB. Dan hasil dari referendum tersebut bahwa kabinet tidak jadi diturunkan. Belum selesai sampai disitu, kita kemudian dihadapkan pada PEMIRA Presiden KM ITB dan MWA WM ITB untuk periode selanjutnya. Namun yang jadi persoalan disini adalah di salah satu PTN terbaik ini tengah terjadi krisis kepemimpinan yangmana hingga masa pengembalian berkas yang telah ditentukan berakhir, hanya satu kandidat calon Presiden KM ITB sedangkan MWA WM belum ada. Inilah yang mungkin juga akan terjadi pada bangsa ini di masa yang akan datang.

Selain itu, terdapat juga isu kampus yang berkaitan dengan pimpinan ITB. Isu-isu tersebut diantaranya yaitu terkait ITB multikampus, pembangunan gedung di ITB, Pemilihan rektor ITB, danpergantian sistem pelayanan LK. Pada artikel ini akan dibahas mengenai ITB multikampus dan pemilihan rektor ITB.

Mungkin kita tidak menyadari jika ITB multikampus merupakan sebuah masalah. Disebut sebuah masalah karena perlu kita sadari bahwa ITB multikampus mengalami kendala selama kebejalanannya. Kampus Jatinangor diperuntukkan bagi prodi baru, sehingga tidak ada Fakultas yang utuh. Iklim akademik tidak terbentuk, karena Operasional Pendidikan (Dosen) ITB-JN dilayani ITB-Ganesha. Semula Kampus Jatinangor diperuntukkan untuk kampus TPB namun tidak didukung oleh FMIPA, sehingga rencana itu di batalkan. Begitu pula dengan kampus ITB Cirebon yang hingga saat ini masih dipenuhi ketidakjelasan, dikarenakan menggunakan gedung bekas asrama haji. Untuk mengatasi masalah tersebut, telah diusulkan solusi berupa restrukturisasi kelembagaan dan klasterisasi berdasarkan bidang keilmuan.

Isu lainnya yang patut untuk dibahas yaitu mengenai pemilihan rektor yang akan diadakan satu tahun lagi. Mekanisme pemilihan rektor sendiri akan melalui proses yang cukup panjang, sehingga tidak sedikit waktu yang dibutuhkan. Karena MWA saat ini sudah mendekati akhir kepengurusan, maka banyak hal yang menjadi kejaran bagi anggota MWA agar rektor terpilih selanjutnya dapat melanjutkan hal-hal penting yang memang seharusnya dilakukan demi masa depan yang lebih baik.

Mengingat banyaknya polemik yang terjadi di kampus ITB ini, kita harus lebih peka terhadap setiap permasalahan yang terjadi. Kita sebagai mahasiswa harus menyadari akan peran kita. Perlu kita sadari juga bahwa kita juga dapat membantu mengatasi berbagai masalah yang terjadi dengan berbagai cara salah satunya dengan beraspirasi atau pun melakukan kajian untuk mencari solusinya.