1/2

“Hijau atau kuning?” dia mengangkat gerabah kering itu setinggi mata, membayangkan masa depan mug dengan dasar membulat itu.

Aku menutup buku yang sedang kubaca. Sebuah buku lama tentang laut. Seseorang dulu memberikannya padaku. Dulu sekali.

“Eigengrau,” ucapku, sembari memutar diri di kursi agar bisa menatap dia.

Dia mendengus. “Eigengrau bukan warnamu.”

“Hijau dan kuning juga bukan.”

“Aku ingin mug ini menjadi dirimu. Oleh karena itu, warnanya harus warnamu.”

“Aku ingin eigengrau — warna pada kegelapan total. Aku merasa sebagian diriku adalah warna itu.”

“Dan sebagian dirimu yang lainnya?” dia menarik kursi berhadap-hadapan denganku. Dekat, hingga sandaran kursi kami bersentuhan dan aroma tubuhnya bisa kuhidu. Aroma tanah liat segar, aroma pembakaran; aroma hidup yang tertempa keras dalam suhu tinggi.

Dia memandangiku lekat-lekat, seperti mencari-cari ujung benang pemikiran yang bisa ditariknya dan ditariknya keluar sampai habis dari rongga kepalaku.

Akan tetapi, dia tidak bisa. Aku ahli menyimpul pikiranku menjadi jaring-jaring rumit yang tak bisa diburai begitu saja.

“Kamu bebas mewarnaiku menjadi apa saja,” kataku, bermain mudah. Tak akan kubiarkan dia menerka-nerka lama. Aku mudah bosan dalam permainanku sendiri.

“Apa saja… kamu akan suka?” matanya berbinar seperti anak anjing yang mengajak bermain.

“Apa saja, karena aku menyukai apa pun yang kamu sukai.”

Itu bohong, tentu saja. Akan tetapi, itu adalah cinta. Kamu tidak bisa memaksakan seratus persen kehendakmu ke dalamnya. Untuk itulah, hanya lima puluh persen diriku yang berwarna. Lima puluh persen sisanya, yang kucelupkan bulat-bulat ke kancah cinta, adalah sisi diriku yang kosong, tak berwarna, transparan. Itu adalah bagian dariku yang bebas dia warnai sesuka hati, dan aku sama sekali tidak peduli. Separuh hidupku yang berwarna gulita: itulah tempatku berada sepenuhnya.