Half of Me

Aku sudah kehabisan waktu ketika gadis aneh yang membawa-bawa papan kardus itu menubrukku di peron.

“Maaf, Mas, adududuh, maaf banget.”

Maafmu tidak diterima, Mbak.

Pintu kereta menutup tepat di depan mataku dan ular besi itu melaju.

Lewatlah konferensi pers penemuan baru manusia purba di Sangiran yang sudah kutunggu selama dua tahun.

Untuk menebusnya, Henny, gadis berambut pendek yang membawa-bawa papan bertuliskan “Dicari: separuh diriku” itu mentraktirku di kedai kopi terdekat dari stasiun. Ia terlihat lusuh dan berkeringat, tetapi entah bagaimana caranya ia masih bisa menularkan semangatnya padaku. Sedikit.

Aku masih jengkel padanya. Terlebih saat ia bertanya aku hendak ke mana dan aku bercerita tentang manusia-manusia prasejarah itu dan dia mendengarkanku sambil bertopang dagu. Seolah aku membosankan.

Itu hukuman dariku, Mbak. Menderitalah dengan bencana kebosanan yang kutebarkan.

“Jadi, benarkah manusia berasal dari kera?” aku tahu pada akhirnya dia akan bertanya begitu. Namun, senyumnya mengatakan bahwa ia sudah siap mendebat penjelasanku. Meskipun menyebalkan, dia punya tatapan mata yang tajam dan bersinar.

Maka langsung saja kubalikkan pertanyaan itu padanya. “Kamu punya teori lain?”

Dia cuma tersenyum. Entah mengapa, senyumnya sarat akan rahasia yang terpendam.

Setelah mencicip kopi hitamku dan mendapati rasanya luar biasa nikmat, aku merasa sikap kasarku padanya agak keterlaluan. Jadi, kutanya balik dia.

“Apa yang kamu lakukan di stasiun?” kusinggung-singgung papan yang digantung di lehernya itu.

“Oh, ini? Aku... mencari belahan diriku.”

“Kamu ameba?”

Henny menggeleng. Dia kemudian berkisah. Konon dulunya manusia memiliki dua kepala, empat tangan, dan empat kaki. Namun, Zeus, dewa tertinggi bangsa Yunani, takut akan apa yang dapat dilakukan oleh makhluk dengan mesin berpikir ganda itu. Mungkin mereka akan mampu menggulingkan takhtanya di puncak Olympus. Oleh karena itu, dengan petirnya yang mahadahsyat, Zeus membelah setiap manusia sedemikian rupa sehingga tiap-tiap mereka hanya memiliki satu kepala, dua tangan dan dua kaki.

“Itulah mengapa,” simpul Henny di akhir ceritanya. “Manusia zaman sekarang sibuk mencari belahan dirinya yang lain, untuk membuatnya utuh kembali seperti sedia kala. Supaya bisa mengalahkan Zeus.”

Aku tersenyum. Aku memang belum pernah menemukan fosil manusia berkepala dua dan beranggota gerak rangkap dua, tetapi kisah yang dituturkan Henny menginspirasiku untuk menemukannya suatu hari.

“Tak perlu repot-repot menggali tulang-tulang manusia berkepala dua untuk membuktikannya,” kata Henny. “Cari saja sebagian dari dirimu yang hilang itu.”

“Oh, ya? bagaimana caranya?”

“Setiap pasangan itu terpisah dengan patahan yang unik, tidak ada duanya, seperti jigsaw puzzle,” Henny menggambar jigsaw bayangan di atas meja dengan sendok kopinya. “Selalu ada bagian yang menonjol dan bagian yang cekung—bagian yang lebih dan bagian yang kurang. Kamu tinggal cari orang yang menguasai apa yang tidak kamu kuasai dan tidak menguasai apa yang kamu kuasai—tetapi sesungguhnya mereka membahas hal yang sama. Itulah bagian dirimu yang hilang.”

Butuh setengah tahun bagiku untuk memahami kata-kata Henny yang eksentrik itu. Selama itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi di stasiun. Hingga suatu hari, ketika aku mengantri di depan kasir toko buku dengan sebuah buku tentang kehidupan bangsa Viking, dia muncul lagi. Tepat di depanku, baru saja membayar untuk sebuah buku mitologi Norse kuno.

Aku tidak tahu ini kebetulan atau apa, tapi kurasa aku bisa mengalahkan Zeus bersama gadis ini sekarang.


510 kata. Untuk ikutan #nuliskilat Storial.

Tema: 2 become 1