Masalah Ulang Tahun

siGit
siGit
Feb 25, 2017 · 1 min read

“Sha, Sigit inget ulang tahun lu tempo hari, enggak?” Mike berbisik saat Pasha sedang masyuk membaca sebuah majalah medis.

“Kagak,” jawab Pasha enteng.

“Kasihan deh, lu.”

“Dia nulisin gue cerpen sih, enam belas hari kemudian. Ceritanya pun enggak asyik. Gue di-bully habis-habisan di situ.”

Tawa Mike meledak. Dia mengambil wilayah yang kosong di bangku kayu teras itu dan duduk mengangkat satu kaki ke atas lutut kaki satunya. Kedua lengannya di sampirkan ke sandaran bangku. Santai menikmati sore yang segar dan sendu sehabis hujan.

“Kira-kira gue bakal dibikinin cerpen apa, ya?”

“Kalaupun dia mau bikinin lo cerita, lo baru bisa bacanya tanggal dua April.”

Mike melotot. “Kok gitu?”

“Biar adil. Masa ke gue aja yang telatnya dua minggu lebih. Lo juga, dong.”

“Ini enggak bisa dibiarkan,” Mike melonjak bangkit dengan sebuah keputusan. “Gue kepengin menerima hadiah gue tepat di hari ulang tahun gue. Dan gue mau yang banyak! Lebih banyak dari tahun lalu!”

“Mike, come on,” Pasha memutar mata. “Jangan kayak sepupunya Harry Potter, lah.”

“Kalau elu enggak dapat kado dari siapa-siapa selain Sigit, itu wajar, Sha. Tapi gue beda. Gue tamvan, karismatik, populer. Orang-orang bakal mengantri datang ke rumah gue buat ngasih kado meskipun enggak gue undang.”

“Keep dreaming, Kid,” Pasha membalik halaman majalah dan mengubah posisi duduk. Ia sudah menutup telinganya dari celotehan Mike.

“Gue telepon Sigit dulu. Dia punya utang cerita sama gue. Biar semaput dia.” Mike mengetikkan sebuah nomor sambil tertawa setan.