The Art of Defense Mechanism
Bayangkan dirimu saat masih berumur 6 tahun. Kehidupan masih damai, tidak perlu memikirkan deadline tubes, ataupun mempersiapkan cheatsheet untuk ujian. Kehidupan tiap sore selalu diisi dengan bermain sepeda dengan teman-teman di dekat rumah. Indah bukan? Suatu saat, kamu yang sedang asyiknya naik sepeda tiba-tiba terjatuh. Kaki berdarah-darah, pipi penuh dengan air mata, dan tenggorokan sakit karena kencangnya tangisan-mu itu.
Seminggu kemudian, sepeda-mu sudah diperbaiki, kakimu sudah sembuh, dan teman-temanmu yang baru minggu lalu menertawakan-mu itu memanggil-mu di depan rumahmu untuk bermain sepeda lagi. Ternyata, kecelakaan minggu lalu itu sudah membuat-mu kapok dan kamu menolak untuk bermain sepeda dengan temanmu dengan alasan bodoh seperti “Gaboleh main sepeda pas magrib kata mama banyak setan” untuk menutupi rasa trauma atau kapokmu itu. Teman-temanmu dengan entengnya mencap dirimu “culun” karena “yaelah baru jatoh sekali aja udah gamau main lagi”. Setidaknya itu yang mereka percayai bukan?
PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD
Sigmund Freud merupakan seorang psikolog dan filsuf yang berasal dari Austria dan pernah meraih penghargaan Goethe Prize. Menurut Sigmund Freud, kepribadian kita terbagi dari 3 unsur, yaitu : Id, Ego, dan Superego. Ketiga unsur tersebut berelaborasi untuk membentuk kepribadian atau perilaku seorang manusia.
Id merupakan komponen utama dalam kepribadian kita. Id sudah ada sejak kita keluar dari rahim ibu kita dan bersifat naluriah dan alamiah. Id didorong oleh prinsip kesenangan dan muncul untuk memenuhi kebutuhan serta keinginan utama kita. Sebagai contohnya, ketika kita merasa lapar, Id kita secara alamiah membuat kita ingin segera makan. Contoh lain ketika kita sedang bosan, Id juga akan mendorong kita untuk refreshing.
Ego adalah komponen kepribadian yang menangani realita. Secara ringkas, ego adalah ketika Id kita dibenturkan dengan realita. Ketika Id kita mendorong kita untuk menginginkan sesuatu, maka Ego kita bertugas untuk mencari cara agar Id kita terpenuhi. Contohnya, saat kita lapar, Id kita mendorong kita untuk segera makan, setelah itu, Ego kita membuat kita berpikir dengan uang yang seadanya ini makanan apa yang bisa kita beli.
Yang terakhir adalah Superego. Superego merupakan hati nurani kita. Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai, adat-istiadat, serta norma-norma yang berlaku. Superego yang membuat kita untuk membedakan secara subjektif mana hal yang kita rasa benar dan mana yang salah. Ego dan Superego berelaborasi untuk mengatur pemenuhan Id. Contohnya, ketika kondisi kita lapar dan kita tidak punya uang, Superego yang secara alamiah memberitahu kita untuk tidak mencuri makanan atau kabur setelah makan di warung nasi.
DEFENSE MECHANISM
Sekarang, apa hubungan antara cerita naik sepeda dan teori psikonalasis Sigmund Freud? Dalam teorinya, Sigmund Freud menyebutkan bahwa ada suatu hal yang bernama “Defense Mechanism” atau mekanisme pertahanan. Bukan, ini bukanlah sebuah mekanisme parkir bus ala Jose Mourinho. Mekanisme pertahanan yang dimaksud adalah sebuah strategi psikologi yang secara tidak kita sadari berfungsi untuk melindungi diri kita dari kegelisahan yang muncul dari perbuatan atau pikiran yang kurang bisa kita terima. Secara ringkas, mekanisme pertahanan adalah reaksi kita ketika kita merasa “tidak enak”.
Teori ini dilanjutkan oleh Anna Freud, anak dari Sigmund, pada 1936 yang menjabarkan 10 tipe ego defenses. Para psikolog juga menambahkan beberapa mekanisme pertahanan setelah Anna Freud. Kali ini kita tidak akan membahas apa saja 10 mekanisme itu secara mendetail. Jika tertarik dengan hal tersebut kalian bisa membaca karya kedua sejoli ayah-anak tersebut.
Pernahkan kalian melihat orang marah atau agresif? Apa yang kalian pikirkan? Menurut saya, mayoritas dari kita hanya mempermasalahkan “Kenapa dia marah ya?” dan setelah kita menemukan alasannya, kita cenderung tidak memperdulikannya. Contoh, kita melihat teman kita yang agresif sedang marah. Ternyata, dia bisa marah seperti itu karena suatu hal dan kita cenderung tidak peduli atau lebih buruk lagi malah berpikir “yaelah gitu aja marah biasa aja kali”. Kepedulian kita hanya sebatas “mengapa orang tersebut marah?” tidak sampai pada tahap “kenapa hal tersebut bisa membuat dia marah? Mengapa dia orang yang agresif? Apa yang melatarbelakangi sikap tersebut?”.
A lot of us suffer from a lot of shits. Hal-hal buruk yang pernah menimpa kita, entah itu kehilangan orang yang kita sayangi atau apapun itu pasti ada konsekuensi-nya. Konsekuensi dari hal-hal tersebut adalah dengan kita membuat tembok (comfort zone) yang kita lengkapi dengan segala mekanisme pertahanan kita. Ada seseorang yang tidak mudah percaya dengan orang lain karena dia pernah ditipu atau dikhianati. Ada seseorang yang kesulitan untuk mencari pasangan karena dia trauma melihat orang tuanya bercerai. Ada juga yang tidak senang menghamburkan uang untuk bermain karena dia melihat betapa orang tuanya susah payah dalam mencari nafkah. Semua orang punya latar belakang yang berbeda. Semua orang juga akan membangun tembok yang berbeda-beda dengan mekanisme pertahanan yang berbeda-beda juga. Karena pada akhirnya, ketika kita sudah muak dengan segala permasalahan yang ada, kita bisa bersembunyi dibalik tembok yang kita buat tersebut to make ourselves feel better. Sekarang, bagaimana cara kita untuk menyikapi orang-orang tersebut atau bagaimana cara kita menyikapi diri kita sendiri?
Sometimes all you need is a little faith
Carilah orang yang bisa kita percaya. Pertanyaannya, orang seperti apa yang dapat kita percaya? Mereka adalah orang-orang yang sedikit demi sedikit dapat melemahkan tembok dan pertahanan kita. Obrolan kecil setelah kelas, hingga obrolan yang mendalam di sebuah angkringan pada malam hari, hal-hal kecil tersebut yang sedikit demi sedikit membangun rasa percaya kepada teman kita dan pada akhirnya, mereka menjadi orang-orang yang akhirnya kita percayai untuk kita ceritakan latar belakang kita, sejarah kita, dan bagaimana sejarah itu membentuk kita menjadi manusia yang penuh kekurangan ini. Mereka adalah orang-orang yang kita percayai untuk masuk ke dalam tembok kita, dan mengenal diri kita secara utuh dan begitu juga sebaliknya.
Help your friends, family, and everyone that’s close to you. The world won’t give a single damn to you. But they, they do.
