“kenapa kau ingin berpisah?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Eden. Ada perasaan tidak rela dihatinya saat wanita -nya memutuskan untuk berpisah.

Alena terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali rangkaian memori yang terbayang. Mulai dari awal mengenal Eden, mengikat janji suci di Altar, hingga detik ini. Semua terbayang jelas

“aku hanya berpikir satu hal, aku melihat banyak kejadian saat aku dirawat dirumah sakit. Seorang suami rela meluangkan waktunya sepulang kerja untuk menemani istrinya dirumah sakit, meskipun merasa lelah ia tetap berada disisi istrinya ia bahkan menangis tersedu-sedu saat mengetahui istrinya dinyatakan meninggal oleh dokter” Alena mengambil jeda sebentar “aku iri dengan wanita itu. Dia mendapat seorang yang sangat mencintainya sampai akhir hayatnya. Aku juga ingin seperti itu, memiliki seseorang yang mencintaiku sampai aku mati. Dan aku tau bersamamu impian itu tidak akan tercapai, kau memiliki cintamu sendiri. Jadi mari berpisah..”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.