tentang kedai kopi favorit dan kecanduan menyendiri

Pada sebuah jeda yang agak panjang di antara dua kemahasibukan, saya memutuskan untuk hilang sejenak dari dunia untuk membenahi diri dan visi hidup. Sebuah tempat yang dulu cukup rutin saya kunjungi menjadi tempat pelarian yang saya pilih.

Sebuah kedai kopi yang terletak tidak jauh dari ‘dunia’ saya, itulah tempatnya. Terletak di tengah hiruk pikuk kota, namun berisiknya tidak terasa hingga di dalam kedai. Wahana untuk menyepi, itulah yang membuat saya senang datang ke sini.

Bertemankan secangkir kopi dan setumpuk bibit produktivitas, rasanya saya tidak membutuhkan teman lagi. Tidak berencana melanjutkan kehidupan minimal tiga jam ke depan. Mencoba menonaktifkan seluruh koneksi saya ke dunia luar. Ini adalah surga versi saya.

Sepanjang mata memandang, pengunjung kedai kopi ini nampak memiliki tabiat serupa dengan saya. Bermodalkan secangkir minuman, numpang laptop-an seharian, sekalian memeras wi-fi gratisnya. Kebanyakan sendirian. Cuek saja meninggalkan segala harta bendanya ketika hendak ke toilet. Kumpulan orang-orang penyendiri ini membuat saya nyaman.

Di sinilah tempat saya mem-follow up diri saya sendiri. Apa saja yang saya tinggalkan. Apa saja yang harus saya kejar. Bagaimana rencana hidup sepuluh tahun ke depan.

Not to exaggerate, but here, I feel invincible with my only company.

Dunia memaksa saya untuk berjalan beriringan dengan orang-orang yang kenal-namun-tidak-kenal. Spesies yang belum saya ketahui apakah dapat membuat saya betah. Percobaan pertama, biasa saja. Percobaan kedua, mulai ketahuan karakter spesiesnya. Percobaan ketiga, saya berharap spesies ini agar terancam punah saja. Ingin kabur, namun namanya terjebak, saya bisa apa?

Itulah mengapa momen-momen menyepi seperti ini adalah sangat mewah.

Dua jam lagi, saya harus keluar dari utopia ini. Kembali ke dunia dengan segala pemaksaannya. Kembali ke kesadaran bahwa tabiat menyendiri ini bukan bekal yang baik untuk masa depan yang saya impikan. Bertemu lagi dengan spesies yang belum punah juga. Kembali memberantaki diri.

Halah, cuma nongkrong-nongkrong nggak jelas di kafe menstrim doang langsung sok-sokan merenung.

Bodo amat!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.