tentang Muse — Dig Down: behind the silky curtain of pastimes

Hai, izin mencoba review tidak jelas, hehe.

Setahun puasa rilis, 18 Mei 2017, Muse akhirnya mengeluarkan single baru berjudul Dig Down, lengkap dengan video klipnya. Dig Down membawakan pesan tentang perjuangan mencapai kemenangan dalam kondisi sesulit apapun. Video klipnya yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita muda dalam kondisi fisik tidak sempurna pun menyampaikan pesan yang selaras dengan lagunya.

Eksperimen, lagi dan lagi. Muse (kembali) memutuskan untuk memainkan genre elektronik untuk Dig Down. Mayoritas bagian dari lagu diisi dengan lantunan perkusi dan bas elektronik. Bassline-nya pun, terutama pada bagian intro sebelum perkusi masuk, mengingatkan kita dengan Madness (The 2nd Law, 2012) yang merupakan eksperimen awal Muse dalam mensuasanakan elektronik pada karya mereka. Dig Down menurut telinga saya merupakan sebuah lagu yang ringan, baik dari segi musik maupun segi konten.

Pertama mendengar lagu ini, saya kaget-kaget nggak kaget. Siapa juga yang tidak kaget kalau band rock kawakan dunia ini tetiba merilis karya beraliran elektronik (padahal nggak masalah-masalah amat)? Namun entah mengapa, saya merasa sepertinya Muse akan merilis karya bernuansa elektronik lagi, setelah mereka merilis album Drones (2015) yang merupakan revisit ke awal masa kejayaan mereka di tahun 2000-an dengan genre rock/alternative rock-nya. Seperti kebanyakan orang pula (referensi: kolom komentar video klip Dig Down di YouTube), saya serasa mendengarkan Madness pada awal lagu.

Sepanjang mendengarkan Dig Down, ada beberapa hal yang saya renungkan (hehe). Musiknya ringan, namun biasa saja. Nothing so special here. Beat-nya cenderung monoton, begitu pula dengan bassline-nya. Drumbeat saat bagian terakhir, I personally dislike it. Saya tidak tahu term yang tepat untuk menyatakan ini secara musikal, tapi dengan bahasa manusia, kagok. Kurang dapat membawa pendengar ke puncak ambience lagu, sehingga pendengar akan cenderung berpendapat ‘ya udah’ setelah lagu selesai. Tetapi riff gitar pada interlude cukup sedap, just the way Matt Bellamy usually did. Saya benci mengatakan ini — membanding-bandingkan Dig Down dengan Madness, namun terdapat kemiripan pola. Ringkasnya adalah electronic stuffs — those sexy guitar riffs — transformation to acoustic-y stuffs.

Pesan yang dibawakan pada lagu ini, setelah saya coba telaah lebih lanjut liriknya, biasa saja. Saya tidak merasa dituntut untuk memikirkan hal tersembunyi di balik lirik-lirik ini, everything’s explicitly conveyed. Saya juga benci mengatakan ini — membandingan Muse hari ini dengan Muse pada awal kariernya, namun saya merasa lagu-lagu Muse terdahulu memiliki lirik yang menarik. Dari segi kosa kata, Matt acapkali memilih kata-kata yang tidak biasa digunakan sehari-hari. It made the song sounds verbally beautiful. Di balik pemilihan kosa katanya, selalu ada pesan implisit yang disembunyikan. Interpretasi pendengar bisa macam-macam. Dan tak jarang, pesan-pesan yang Matt coba sampaikan pada lagu-lagunya kritis, gelap, dan membuat pendengar berpikir. Mengutip dari komentar seorang anggota grup Muse Indonesia di Facebook, terdapat perbedaan beban hidup yang dialami tiap-tiap personel Muse di awal karier dan sekarang. Lewat lagu-lagunya, Matt, sebagai penulis hampir semua lagu-lagu Muse, mencoba menyampaikan keresahannya, opininya, propagandanya. Muse kini sudah cukup sukses. Tentu beban-beban yang mereka rasakan dahulu kini raib sudah. Kehabisan bahan, mungkin? Entahlah, namun seniman berkarya karena gelisah, bukan?

Secara video klip, saya sejujurnya tidak pernah kecewa dengan video-video klip Muse, termasuk Dig Down. Alur ceritanya menarik dan menggugah. Visualnya juga lumayan menghibur mata.

Bisa dibilang, saya kurang menyukai lagu ini. Saya, seperti banyak orang, mengekspektasikan sesuatu yang wow dari Dig Down. Mungkin, jika ini benar-benar lagu Muse pertama, jika kita berpura-pura bahwa Drones dan album-album sebelumnya — terutama Origin of Symmetry (2002) — tidak pernah ada, dan Matt Bellamy, Dominic Howard, dan Chris Wolstenholme tidak pernah menciptakan karya yang sangat jenius, Dig Down akan terdengar bagus-bagus saja di telinga saya.

Tanpa sadar, ternyata saya bukan me-review lagu Dig Down, namun Dig Down dibandingkan dengan karya-karya Muse sebelumnya. Dig Down terdengar biasa saja karena sebelumnya Muse pernah mengeluarkan karya-karya yang menantang telinga pendengarnya. Stockholm Syndrome? Citizen Erased? Hysteria? Memang terdapat penurunan, karena saya pribadi merasa Muse sudah mencapai puncaknya, antara era Black Holes and Revelations (2006) dan The Resistance (2009). Dan menurut saya, elektronika bukan pilihan yang salah. Elektronika terdengar sebuah awal yang baru bagi Muse. Saya berharap setelah ini akan ada sebuah mahakarya yang kembali dilahirkan dengan aliran elektronika. I guess this will happen, though.

Terlepas dari musik dan kontennya, saya sangat senang dengan perilisan Dig Down ini. Akhirnya, karya baru lagi. Bahan baru buat fangirling, hehe. Saya senang bisa kembali menggila melihat terbitan-terbitan Muse tentang pengumuman rilis single baru, BTS video klip Dig Down, random shit about those Muse guys. Hanya merilis single satu biji sangatlah bukan tipikal Muse, bukan? Terdapat akun fanbase Muse yang mengutip dari satu berita bahwa Dig Down merupakan sebuah lagu pada sebuah album. Well, I’m simply glad of their comeback. Semoga rumor album baru tersebut adalah benar, dan dengan adanya album berarti akan ada tur, dan bila ada semoga kembali singgah ke Asia Tenggara…

Sekian tulisan review abal yang sesungguhnya hanya pelampiasan dari hasrat fangirling yang berlebih, semoga faedah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.