tentang teman

teman/te·man/ n 1 kawan; sahabat: hanya — dekat yang akan kuundang; 2 orang yang bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): — seperjalanan; ia — ku bekerja; 3 yang menjadi pelengkap (pasangan) atau yang dipakai (dimakan dan sebagainya) bersama-sama: ada jenis lumut yang biasa dimakan untuk — nasi; pisang rebus enak untuk — minum kopi; 4 cak saya (di beberapa daerah dipakai dalam bahasa sehari-hari): tiada — menaruh syak akan dia;usahlah — dimandi pagi, pb tidak usah kamu lebih-lebihkan (kaupuji-puji);

Bingung membaca definisi dari KBBI? Sama. Makanya perlu ada kajian ulang tentang pengertian-pengertian yang dimuat di KBBI.

Bukan. Ini bukan tentang KBBI. Ini adalah tentang teman.

Sederhana. Menurut saya, teman adalah seseorang yang senantiasa berada di sisi saya. Bisa seorang. Dua orang. Banyak pun tak masalah. Bukan jumlahnya, namun keberadaannya.

Bukan soal pengertian, sesungguhnya. Kesamaan frekuensi. Do’s and don’ts satu sama lain. Cukup dengan selalu berada di sisi satu sama lain, hal itu bisa mengarah ke pengertian dengan intensitas gila-gilaan. Yang awalnya destruktif malah menjadi konstruktif karena kesaman frekuensi yang lama-lama terbangun. Tanpa perlu deklarasi, tahu kapan harus dibercandai, kapan harus diajak serius, kapan harus didiamkan.

Terdengar seperti kriteria pacar idaman, bukan? Bahkan, pasangan pun asal mulanya berangkat sebagai teman.

Teman adalah orang pertama yang akan kamu cari begitu bangun tidur, sampai di kampus, selesai kelas, mau ujian, tidak punya kegiatan, ingin membeli sesuatu. Setuju?

Nah, bagaimana jika orang yang biasanya kamu cari tidak mencarimu balik? Apakah langsung diturunkan levelnya? Apakah ia adalah temanmu, namun kamu bukan temannya?

Sulit, euy.

Saya, sejujurnya, sedang mengalami ini. Sudah cukup lama, namun intensitas kekesalannya fluktuatif. Pernah sebal sekali. Pernah bisa bodo amat. Sekarang lagi lumayan kesal.

Saya pun bingung mengapa kami bisa berteman. Frekuensi kami tidak pernah benar-benar sama. We can never blend together smoothly as one. Rasanya ada hal yang mengganjal jika kami berkumpul bersama, full team.

Saya senang dengan keberadaan mereka, tentu saja. Mereka adalah orang-orang yang memiliki frekuensi paling mirip dengan frekuensi saya, pada awalnya. Namun waktu berjalan terus. Mereka perlahan menemukan dunianya masing-masing. Mereka membangun peradaban di sana. Menemukan kebahagiaan (?) yang baru. Entah salah siapa, namun saya, hingga detik ini, belum membangun dinasti baru di hidup saya. Mereka-lah hal yang dapat mengikat saya agar tetap berjalan di masa sekarang. Tanpa mereka, mungkin saya sekarang sedang sibuk merumuskan mesin waktu yang dapat membawa saya pulang ke masa lalu. Namun, seiring berjayanya peradaban yang mereka bangun, semakin saya tidak merasa diikat di waktu kini. Rasanya ingin pulang, pulang, pulang, namun saya sadar betul jika saya terus-menerus pulang, saya tidak akan berkembang.

Ketika tiba waktu saya untuk mencari teman selepas ini-itu, ada saja kesibukan (?) mereka. Entah ini, entah itu, entah dengan siapa. Akhirnya adalah seperti hari ini, seperti hari kemarin, seperti hari-hari esok. Saya ditinggalkan sendiri, dipaksa menikmati keberadaan diri sendiri sebagai teman sejati. Untunglah saya bukan orang yang bermasalah jika harus soliter. Awalnya begitu. Lama kelamaan jengkel juga. Pada diri sendiri, pada ‘teman-teman’ saya, pada masa lalu yang lebih bersahabat. Apa yang salah pada diri saya sehingga harus melulu sendiri?

Sendiri, bukan dalam arti tidak berpacar. Sendiri, in a literal meaning. Ke mana perginya teman saya?

Apakah saya cemburu dengan ‘teman’ baru teman-teman saya?

Ya dan tidak. Sepertinya cenderung ya. Siapa sih yang tidak senang jika punya teman lawan jenis yang menjadi bahu sandaran baru, meninggalkan bunga-bunga di hati setiap bertemu, bersama? Sayangnya, saya belum merasakan itu. Berkali-kali saya mengeluhkan ini kepada teman saya, namun selalu yang mereka sarankan adalah ‘cari juga, dong!’

Hai, teman. Ini bukan masalah pacar. Ini masalah teman.

Kembali lagi pada definisi teman di awal. Orang yang selalu ada. Sekarang Anda sekalian ada untuk siapa? Bukan saya, kan?

Jika saya kurang suportif dengan babak hidup teman-teman saya yang baru, saya memohon maaf, namun saya cemburu. Saya masih ingin menjadi teman kalian. Saya masih ingin saya menjadi teman kalian.

Saya tidak butuh dikasihani. Saya hanya butuh teman.

Tahukah kalian bahwa saya sedang tidak memiliki teman?

Like what you read? Give Zahra Fulli a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.