Belajar Berenang

Kau nyala langit yang biru pada pangkal bulan April dan

awan yang menolak warna selain putih. Kau setapak

berundak-undak di belakang rumah dan bayangan pohon-

pohon yang menyembunyikan daun tua dan hewan melata.

Kau tebing dan suara angin yang memantul-mantul.

Kau nyali yang melepaskan pakaianku dengan malu-malu.

Kau langkah-langkah yang hendak dan tidak ke bibir jurang.

Kau tangkai pohon yang tidak kutahu namanya, tempat

tungkaiku gemetar sebelum terlambat memegang sesuatu.

Kau udara sesaat yang membuatku berdoa. Kau ketenangan

yang terbuka dan terluka menerima tubuhku yang telanjang

dan jatuh sebagai jala yang gagal mengembang. Kau ikan

warna-warni yang kaget dan sembunyi ke balik batu.

Kau benda-benda pendiam di kedalaman. Kau air yang tiba-

tiba keruh dan kepanikan yang menyakiti dadaku. Kau nyawa

yang lepas seperti balon-balon kecil dari paru-paruku.

Kau jari-jari air yang mengangkatku pelan-pelan ke

permukaan. Kau kekuatan yang kutelan dan kuembuskan

berulang kali. Kau kapak yang membuat lenganku bergerak

menggapai-gapai.

Kau keriangan yang tidak capai bergolak dalam darahku. Kau

Keseimbangan yang berhati-hati dan tidak menginginkanku

berhenti. Kau matahari yang memerahkan punggungku.

Kau rumah yang membuatku lupa pulang. Kau petang

dan burung-burung yang mencari sarang. Kau senyum yang

kusembunyikan dari kemarahan ibu.

Kau kebahagiaan yang terlambat terpejam. Kau yang pertama

dan akan selalu basah dalam mimpiku. Kau yang terbangun

tengah malam dari mataku.

Kau sungai yang memanjang lalu melapang sebagai laut

karena khawatir aku jatuh sekali lagi. Kau masa kecil yang

sekarang kukenang dengan rasa bersalah dari dekat jendela

dadurat pesawat terbang.


M. Aan Mansyur, Belajar Berenang, dalam buku “Melihat Api Bekerja”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.