“School Ruined Our Life”

aksaraya
aksaraya
Sep 2, 2018 · 6 min read

Siapa sih yang tidak menganggap pendidikan itu penting?, kita semua mungkin sudah bersepakat bahwa memang hal itu penting, bahkan sudah dianggap sebagai hak setiap orang untuk bisa menikmati hal tersebut terlebih untuk anak dalam usia dini. Bahkan negara kita yang tercinta ini sangking perhatiannya terhadap warga negaranya dalam hal pendidikan, membuat UU No. 39 tahun 1999 yang berisikan mengenai Hak Asas Manusia, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa setiap orang yang berwarga negara Indonesia memiliki hak yang salah satunya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan. Orangtua kita juga bela-belain untuk menabungkan uang hasil keringatnya agar dapat memasukkan kita di sekolah-sekolah unggulan, dengan harapan bahwa memasuki sekolah-sekolah unggulan tersebut maka kita akan ikut-ikutan menjadi unggulan juga, dan dengan memasuki sekolah unggulan akan menjadi gerbang yang memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya di sekolah unggulan juga. inilah mindset yang sepertinya tengah menyebar di masyarakat Indonesia, iya to ?.


Apabila tidak sanggup melanjutkan seluruh strata pendidikan hingga selesai (seperti yang dilakukan orang-orang yang mampu dalam hal finansial), tak apalah yang penting bisa bersekolah meskipun hanya sekolah dasar saja, karena. pendidikan untuk anak usia dini itu penting, kan?, Karena pada masa itu lah anak sedang dalam proses pembentukan watak dan pemikiran yang sangat rentan. Namun ternyata mimpi buruk mengenai tidak dapatnya menyelesaikan pendidikan dasar karena permasalahan finansial ini dapat di usir jauh-jauh, karena pemerintahan Indonesia telah mewajibkan seluruh warga negaranya yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun untuk mendapatkan pendidikan secara gratis karena pemerintah dan pemerintah daerah wajib untuk membiayai pendidikan mereka dan tanpa pungutan biaya apapun (mungkin akan ada tetap pengeluaran untuk membeli buku dan peralatan lainnya).


Dalam pendidikan anak usia dini bukan cuman negara saja yang memiliki peranan penting, salah satunya adalah sekolah juga. Karena di sanalah nanti anak-anak akan menghabiskan mungkin hampir setengah harinya untuk di ajar dan di didik.

Sekolah sebagai sebuah institusi yang bertanggung jawab terhadap anak yang di didiknya harus menciptakan sebuah atmosfir yang nyaman dan mengasyikkan dalam proses pembelajarannya, oleh karena itu sekolah harus pintar-pintar memilih kurikulum yang pas yang tidak memberatkan dan menyusahkan anak didiknya. Selain itu sekolah juga bertanggung jawab untuk menyediakan guru-guru yang berkompeten, guru yang paham betul bagaimana cara mendidik, mengajar, dan menghadapi anak-anak dengan seluruh sifat keingintahuannya dan kemauan mereka yang selalu ingin bermain-main, intinya guru yang sabar lah. Karena apabila salah sedikit saja memilih guru dapat berakibat fatal ke masa depan anak-anak yang di didik. Pasti kalian sudah sering mendengar guru kalian berbicara “kami ini sudah seperti orangtua kalian, bahkan kami mungkin lebih banyak menghabiskan waktu dengan kalian kelak.”


Selain paham bagaimana cara mendidik dan mengajar, seorang guru juga harus memberikan kebebasan terhadap anak didiknya, yaitu kebebasan terhadap hal apapun yang anak-anak ingin lakukan, apabila anak ingin bermain, biarkan saja mereka bermain-main. Karena kita tau bahwa pada hakikatnya memang anak-anak yang ada dalam pikirannya hanyalah bermain. Makanya guru harus pintar dalam mengelola permainanan yang di mainkan oleh anak-anak itu agar dapat di susupkan sedikit pembelajaran juga, atau mungkin sebaliknya, guru menciptakan sebuah pembelajaran dengan menggunakan metode permainan. Selain itu dalam proses pembelajaran seorang guru harusnya melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan atau saling bertukar pikiran dengan muridnya ,hal ini di butuhkan agar anak-anak tidak pasif, dan diasah otaknya untuk berpikir pula, iya to ? masa anaknya diem-diem bae ? ya enggak to ?.

Namun apa yang seharusnya terjadi berbanding terbalik dengan realitanya. Memang benar pemerintah telah memberikan pendidikan gratis bagi anak usia dini tapi sejauh pengamatan saya mereka tampak acuh dan tidak peduli bagaimana proses pendidikan itu di jalankan. Sing penting proker jalan, sing penting wis gratis, lah, apa maneh ?, akhirnya pendidikan gratis yang niat awalnya itu baik, karena tidak di perhatikan proses berjalannya, menjadi malapetaka bagi anak-anak usia dini.

Pemerintah dari tahun-ketahun sepertinya kebingungan untuk menggunakan kurikulum mana yang baik untuk diterapkan dan cocok untuk proses pembelajaran anak-anak. Tapi sama saja, kurikulum yang mereka buat selama ini untuk di terapkan kepada anak-anak di sekolah dasar itu sangat memberatkan. mata pelajaran dan metode-metode yang di terapkan kedalam kurikulum itu juga sangat berat dan membosankan bagi para anak yang dunianya hanya penuh dengan bermain, belum lagi apabila pihak sekolah juga acuh tak acuh terhadap siswa-siswanya dan tidak membuat atmosfir yang menyenangkan dan mengasyikkan. Malah sebaliknya, mereka membuat sekolah itu tampak seperti barak militer yang kejam dan serba disiplin. baju yang seragam, begitu pula dengan sepatu yang semuanya harus hitam, waktu istirahat (anak-anak lebih sering mengatakannya waktu bermain) yang ditentukan jamnya, pembelajaran yang sangat membosankan dan tidak mengasyikkan sama sekali dan yang paling parah adalah memberikan hukuman kepada anak yang berbuat salah. Hal ini sangatlah mengekang kebebasan berekspresi anak-anak kecil tentunya. Belum lagi apa bila guru-guru yang mengajar disekolah sangat otoriter, dan sangat egois, yang hanya ingin dia saja yang didengarkan dan tidak mau melibatkan anak-anak dalam proses pembelajaran maupun dalam pengambilan keputusan. Guru seperti ini adalah guru yang sangat tidak partisipatoris, sehinggah pembelajaran yang di berikan kepada anak-anak itu layaknya sebuah dogma yang tidak perlu di pertentangkan dan di pertanyakan keabsahannya.

Jika kita telaah dengan baik, metode ini tentu saja tidak memantik pemikiran anak-anak untuk menjadi kreatif dan berinovasi, malahan akan menciptakan mental yang tunduk dan keseseragaman cara berpikir pada anak-anak.

Jika kita lihat hari ini, masih ada memang guru-guru yang seperti itu, yang tidak memperhatikan baik sifat dan watak anak-anak. Mereka menganggap semua anak itu sama saja, lantas di berikan metode pembelajaran yang sama juga, mereka menganggap bahwa mata pelajaran matematika dan sains itu penting lantas memaksakan dan mencekoki semua anak-anak dengan mata pelajaran itu. Dengan perlakuan seperti ini, anak-anak tidak bebas lagi dalam belajar, bagaimana dengan anak-anak yang ternyata lebih senang dengan mata pelajaran lainnya yang tidak di anggap penting oleh kurikulum , seperti musik, olahraga,seni dan lainnya ?. Akhirnya dengan penetapan kurikulum yang tidak membebaskan ini, anak-anak yang tidak pandai dengan matematika dan sains akan di cap bodoh oleh guru, kawan, dan bahkan orang tua mereka.

Dan parahnya, orang tua yang seharusnya lebih mengerti kemauan anaknya sendiri dan mendukung segala tindakan anaknya malah bertindak sebaliknya. Para orang tua ini memarahi anak mereka dan ikut-ikutan mencap anak mereka sebagai anak yang bodoh. Bukannya mendukung anak mereka di bidang yang mereka senangi, mereka malahan memaksa anak mereka untuk mengikuti pembelajaran tambahan di luar sekolah (les) di mata pelajaran yang anak ini tidak kuasai dan tidak senangi. Jangan heran jika tingkat stress pada anak di Indonesia kian tinggi melasat. ini sangat berdampak besar kepada anak-anak yang masih terlalu dini untuk memikirkan bahwa sebenarnya mereka itu tidak salah! pemerintah,kurikulum,sekolah,guru,dan orang tua mereka lah yang salah dalam membantu proses tumbuh kembang mereka.

Hal lainnya yang tidak kalah bobroknya yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah sistem evaluasi pembelajaran yang mereka lakukan dengan cara ujian (ulangan). Kegiatan ini biasanya menimbulkan atmosfir yang sangat mencekam bagi anak, karena kalian tau sendiri lah dan kalian juga pasti semua sudah pernah mengalami bagaimana mencekamnya situasi ujian itu dilaksanakan. Dengan soal yang sengaja di buat rumit. agar anak-anak memacu otaknya dengan maksimum akhirnya akan membebani pemikiran anak yang nantinya akan berujung dalam keadaan stress. Tak hanya itu saja, secara tiba-tiba para guru (yang katanya menggantikan peran orang tua untuk sementara selama di sekolah) yang mengawasi ujian akan berubah menjadi semacam para perwira yang tengah mengawasi para prajurit kelas satu yang baru saja diterima untuk bergabung dalam detasemen. Metode ini sungguh sangat tidak berguna karena hanya akan membentuk sifat untuk saling berkompetisi antar anak (seperti yang dilakukan para kapitalis untuk melanggengkan eksistensi korporasi mereka) daripada sifat untuk saling berbagi sebagaimana manusia saling membutuhkan satu sama lain.

Kesengsaraan anak tidak akan berhenti disitu saja, setelah melewati ujian, nilai-nilai dari hasil ujian mereka akan di akumulasikan lalu akan di tentukan siapa yang memiliki nilai tertinggi dan memiliki nilai terendah dan akan di berikan kepada orang tua dalam format “rapor”. Dengan adanya sistem Ranking dan rapor ini tentu saja juga akan mematikan semangat anak dalam belajar, untung-untung kalau anak itu ternyata menyukai dan memang tertarik dengan mata pelajaran yang di fokuskan oleh sekolah seperti matematika,sains,geografi,dll, bagaimana dengan anak-anak yang tidak menyenangi mata pelajaran itu ? tentu saja seperti apa yang sudah saya jelaskan di atas, mereka meski secara langsung ataupun tidak langsung akan termarjinalkan karena merasa dirinya tidak sama dengan anak yang ranking satu, padahal memang mereka semua tidak sama ! dan memang sudah begitu kodratnya !.

Lantas, kerapkali kita mengeluh mengapa anak kita tumbuh menjadi sebuah pribadi yang terlalu penakut untuk mencoba dan tidak memiliki inovasi-inovasi baru (seperti bagaimana akhirnya ketika sudah dewasa anak di tuntut untuk menyumbangkan inovasi-inovasi yang baru), ya coba kita introspeksi diri kita sebagai orang tua ataupun guru, apakah kita sudah mendidik anak kita dengan benar ? apakah kita sudah memasukkan anak kita ke sekolah yang baik dan tau benar dalam pengembangan watak anak ?. jangan langsung main menyalahkan anak apabila mereka kerap kali berbuat salah, karena sejatinya, anak akan belajar dan berkembang dari kesalahan-kesalahan yang mereka telah lakukan sebelumnya, bukan dari hukuman dan paksaan yang membunuh kreatifitas dan imajinasi mereka.

aksaraya

aksaraya

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade