Salah Kaprah Dunia Kuliah
Ribuan mahasiswa baru saja menyelesaikan masa orientasi mereka menjelang dimulainya tahun ajaran baru dalam dunia perkuliahan. Mereka bukan lagi anak — anak melainkan seorang yang dewasa, mereka bukan lagi siswa tapi mahasiswa. Masa bermain mereka sudah habis, karena setelah ini mereka akan menghadapi dunia nyata, dunia kerja. Namun apakah setiap mahasiswa (dan orang tua) bisa menyadari peran utama dunia perkuliahan? Apakah untuk mempercantik CV dengan IPK yang fantastis? Atau untuk sebuah ketenaran menjadi bagian dari badan mahasiswa?

Ambisi Indeks Prestasi Semester Pertama
Seringkali saya mendengar orang tua, termasuk orang tua saya sendiri, yang berpesan kepada anaknya untuk meraih nilai Indeks Prestasi (IP) setinggi — tingginya pada semester pertama. Tujuan nya tidak lain adalah agar pada akhirnya nanti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nya tidak anjlok. Bahkan tidak sedikit yang menuntut anaknya untuk meraih predikat cum laude. Memang betul kalau nilai di semester awal tidak luar biasa, akan sulit untuk memperbaikinya di semester berikutnya, sekalipun nilainya membaik pada sisa semester yang ada. Tapi para orang tua cenderung melupakan sebuah hal penting pada semester pertama ini.
Dunia perkuliahan sesungguhnya cukup menyenangkan dan seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh mahasiswa baru. Mulai dari perubahan gaya berpakaian, ada juga yang mengalami euphoria karena bisa kuliah di jurusan yang diminati, dan ada juga yang sekedar menikmati jenjang pendidikan baru yang lebih dewasa. Belum lagi ada yang sibuk mencari kegiatan ekstra kurikuler atau UKM yang sesuai dengan minatnya. Proses ini menurut saya, jauh lebih penting daripada sekedar mengejar IP. Semester awal bukan semata menentukan bagaimana IPK di semester akhir nanti, tapi menentukan betah atau tidaknya seorang mahasiswa mengenyam pendidikan selama 4 tahun ke depan.
Menikmati bukan berarti melepas tanggung jawab yang sudah ada. Bukan berarti para mahasiswa baru boleh terlarut dalam kegembiraan hingga melupakan kalau prestasi juga tetap tidak kalah penting. Khususnya bagaimana proses belajar mengajar yang sedikit berbeda dengan pendidikan di SMA. Sebuah kesalahan besar apabila para mahasiswa (dan mungkin dosen) menganggap cara belajar di kuliah sama seperti di SMA. Padahal, esensi yang terpenting dari pendidikan bukanlah sekedar mengetahui atau menghafal. Namun bagaimana setiap mahasiswa bisa menjelaskan topik dengan gaya bahasanya sendiri dengan benar. Dengan kata lain, menurut saya lebih penting seorang mahasiswa bisa mempunyai suaranya sendiri, ketimbang nilai pada IPK. Kalau hanya mengejar IPK tinggi tapi cara yang ditempuh curang sama saja semua itu percuma.
Persiapan Menuju Dunia Profesional
Selain salah kaprah soal IPK, banyak mahasiswa yang terlambat menyadari betapa pentingnya mempersiapkan diri untuk dunia profesional sejak dari bangku perkuliahan. Atmosfer dunia kerja ini baru mulai terasa sejak para mahasiswa memasuki semester akhir atau tahapan skripsi. Barulah mereka sibuk mencari tahu tentang berbagai perusahaan, mulai menyusun resume dan tidak sedikit yang mulai magang. Padahal jauh lebih baik kalau persiapan ini dilakukan sejak tahun kedua atau ketiga.
Mahasiswa harus sadar bahwa apa yang mereka pelajari selama ini, semuanya akan bermuara di dunia profesional. Mulai dari SD hingga SMA, mereka dibekali dengan pendidikan dasar untuk memasuki tahap persiapan akhir di dunia kuliah. Mereka harus mulai memutuskan industri apa yang akan mereka dalami, perusahaan apa saja yang bergerak di bidang itu, posisi apa yang banyak dicari, dan masih banyak lagi seputar dunia profesional. Maka dari itu magang menjadi sangat penting, apalagi di industri yang mereka kehendaki. Mereka yang sudah pernah memiliki pengalaman kerja selama masa kuliah, memiliki peluang lebih besar untuk mendapat pekerjaan setelah mereka lulus nanti.
Wirausaha? Mulai Sejak Dini
Karena sekarang jaman sudah lebih maju dan start-up bermunculan dimana — mana, banyak juga mahasiswa yang memiliki angan — angan untuk memiliki bisnis sendiri. Tidak jarang juga universitas yang memiliki jurusan bisnis di dalamnya, memiliki sebuah business incubator untuk memfasilitasi peserta didik mereka yang hendak berwirausaha. Tentunya peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh para calon wirausahawan agar mereka bisa lebih siap menjalankan usaha mereka sendiri.
Namun berbeda dengan menjadi seorang profesional, menjadi wirausaha memerlukan tekad dan usaha yang berlebih. Mereka harus pandai mengatur waktu, mengurangi kegiatan yang tidak perlu, bahkan ada yang harus rela bekerja siang dan malam untuk menyiapkan usahanya. Dan ini harus mereka lakukan tanpa prestasi di kampus. Memang berat, namun saya percaya bahwa masa kuliah merupakan masa yang tepat untuk mulai merintis usaha dalam bidang apapun.
Kalau diibaratkan permainan MMORPG seperti Ragnarok Online, masa kuliah adalah masa dimana seseorang mencapai level tertentu, dan harus memilih jalur mana yang mereka akan tempuh selanjutnya. Jika ada saatnya salah memilih, atau untuk mencoba — coba, lakukanlah di masa ini, jangan di saat sudah memasuki dunia profesional. Semoga ketika mereka lulus kelak, mereka bukan hanya bisa bekerja, namun juga bisa berdampak pada pembangunan Indonesia.
