Surat Perpisahan Dari Ibnu — Anak Petani yang Mengejar Mimpi Menjadi QA Engineer Go-jek

Alamanda Shantika
Jul 27, 2017 · 9 min read

Post saya kali ini agak berbeda, karena ini bukan tulisan saya tapi tulisan salah satu team terbaik saya. Terima kasih Ibnu atas suratmu, surat ini sebenarnya lebih cocok untuk Nadiem, semua ini karena Nadiem kasih kesempatan dan kepercayaan kepada saya yang sangat besar untuk membangun team ini.

Terimakasih Untuk Inspiratorku, Ummi Alamanda Shantika Santoso.

Ummi Ala, surat ini aku tulis tiga hari sebelum keberangkatanku ke Bangalore India. Kota yang tak pernah aku impikan sebelumnya, kota yang aku sendiri-pun tak pernah tahu dibuku sejarah manapun selama aku sekolah.

Ummi Ala, belum selesai aku menyeka air mata karena tak bisa lagi berkarya bersama-sama Avida, Mas Rangga, Mas Andi, Alfi, dan sekarang dirimu juga akan tak berkarya lagi bersama kami. Aku tak bisa melakukan apapun untuk menghalangi ummi pergi, walau dulu ummi pernah bilang kalau “Selama kita masih bisa mewujudkan mimpi-mu disini, kita gak bakal nglepasin kamu.” Tapi, aku berkhusnuzzon jika ummi akan mengejar mimpi-mimpi ummi yang lain, yang salah satunya cita-cita ummi menjadi Menteri.

Ummi Ala,

Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan untukku disini.

Terimakasih telah membangun Go-jek Tech Valley.

Terimakasih telah menyediakan tempat berkarya buat kami anak-anak jogja yang enggan meninggalkan kota ini.

Terimakasih telah mewujudkan mimpi-ku menggunakan Macbook yang dahulu aku sendiri tak pernah bermimpi walau hanya sekedar memegang.

Terimakasih telah mengajarkanku, bahwa mencari rezeki itu tak cukup hanya untuk diri sendiri dan keluarga tetapi harus memikirkan orang lain disana.

Terimakasih telah menaruhku di Tim Gobis, karena sekarang aku tahu kenapa ummi memintaku kesana, karena ummi ingin aku merasakan jika karya kita dipakai orang banyak kita akan mendapatkan kepuasan yang tak bisa diukur dengan apapun.

Terimakasih telah memberiku kesempatan sharing pengalaman di Amikom.

Terimakasih telah mewujudkan mimpiku untuk naik pesawat.

Terimakasih telah mewujudkan mimpi anak petani untuk bisa ke-luar Negeri.

Terimakasih telah mewujudkan setengah mimpiku untuk menikah, karena aku sudah bisa melamar calonku dengan uang hasil tabunganku sendiri selama di Gojek.

Terimakasih dari bapakku untuk ummi, karena foto-ku dengan Nadiem yang kucetak menjadi roll banner selalu dibawa bapak-ku ke pameran dan banyak pembeli karena melihat foto itu.

Terimakasih atas semua hal yang tak dapat kutulis semua disini.

Aku sendiri tak tahu apa yang akan dirasakan Mbak Pipit, Mas Furi, Pak Ahman Yan, Pak Yono, Pak Rindu Agung, Pak M. Noer, Pak Saiful Elsa jika mereka tahu Ummi sudah tidak akan berkarya disini lagi. Tentu mereka semua akan merasa kehilangan Ummi, sama seperti kami disini. Belum lagi ratusan ribu driver se-Indonesia, tapi jika mereka bisa mengucapkan terimakasih untuk ummi, tentu tak terhingga ucapan yang akan mereka katakan. Sekali lagi, Terimakasih Ummi, Terimakasih. Semoga Ummi masih bisa membimbing dan menjadi Leader kami, walaupun kita tak berkarya dalam satu rumah lagi. Semoga sukses dan Jaga kesehatan ya Ummi.

Hari itu aku lihat di grup ada yang ngeshare lowongan Gojek dan lowongan itu di Yogyakarta. Aku lihat diposter itu, sangat tertulis jelas “Berkarya” bukan “Bekerja” waktu itu aku tak begitu memperdulikannya ya bagiku sama saja toh intinya bekerja.

Kemudian, tanggal 18 Agustus 2015 sesuai apa yang aku lihat diposter itu kuberanikan mengirim email ke akun yang tertera “@go-jek.com”>ala…@go-jek.com”. Ada hal yang aku pikir sebelum mengirim email itu, ini benar akunnya? bukankah biasanya ada embel-embel HRD? Ah masa bodoh, kalau email ini terbalas ya syukur kalau ndak juga gak papa yang penting usaha pikirku kala itu.

Tanggal 23 Agustus 2015, hari itu ternyata interview dilakukan dua tahap setelah sesi general QA bareng mas Sesarius ada satu sesi interview bersama mas lutvi. Setelah interview sama mas Sesar selesai, aku diminta mas yang jaga formulir itu untuk duduk dan menunggu giliranku, waktu itu aku tak tahu kalau mas itu yang namanya mas Seto. Sembari duduk, aku tanya sama mas seto, “Mas, lha yang namanya mbak Alamanda Shantika yang di email itu yang mana ya?” tanyaku penasaran. Karena aku masih pengen tau, yang mana sih orang yang aku kirimi email itu. Kemudian mas Seto menjawab , “Mbak alamanda-nya kesini kok mas, tapi lagi keluar nanti juga kesini kalau mau ketemu”.

Setelah giliranku tiba dan sesi curhatku bersama mas Lutvi selesai, aku diperbolehkan pulang sama mas seto. Kemudian aku salami orang-orang yang ada disitu, termasuk mas Seto dan mas Taufan Aero (Mas Kip). Setelah aku salami dan berbalik badan, ada seorang wanita dibelakangku yang membawa tas kresek Indomaret berisi chiki dan cola “Oh mungkin ini yang namanya mbak Alamanda” gumamku sembari berlalu ke parkiran.

Kemudian, tanggal 25 Agustus 2015 aku dikirimi email menggembirakan bahwa aku lolos tahap interview dan kemudian diundang lagi ke Gojek Product Office (nama kala itu) untuk proses negosiasi dengan “Manajer” ya pikirku lagi, aku bakal ketemu sama orang dari divisi HRD. 26 Agustus 2015, kedua kalinya aku menginjakkan kaki di Villa Soegi a.k.a Gojek Product Office. Aku dipersilahkan duduk kala itu sama mas Ryan Security dan ditanyai apa keperluanku. Waktu itu, aku lihat lagi mbak-mbak yang membawa kresek Indomaret itu sedang berbincang dengan Thedi.

Oh, mungkin mbak ini mbak Alamanda HRD pikirku lagi. Setelah Thedi selesai, tiba giliranku aku duduk di kursi kayu dekat depan pintu ruang satu. Setelah aku duduk, mbak ini memperkenalkan dirinya, ”Halo ibnu, namaku Alamanda Shantika aku Vice President di Gojek.” “What the hell!!! Salah asumsi aku, tak pikir HRD” ya kalimat ini cuma tak batin gak mungkin aku ngomong langsung. Pertanyaanku dari kemarin-kemarin akhirnya terjawab oh ini yang namanya mbak Alamanda Shantika, dan ternyata bukan HRD tapi seorang VP.

Setelah itu, mbak Alamanda ini memintaku menceritakan diriku sendiri dan apa cita-citaku disini. “Aku ingin menikah 2tahun lagi mbak, dan kalau bisa aku kumpulin biayanya dari sekarang dan makanya aku daftar sini karena aku pikir gojek bisa mewujudkannya.” Mbak ala kemudian membalas perkataanku,” Oh itu, oke sebelum kamu masuk di Gojek kamu harus tahu visi-misi gojek dulu.” Kemudian mbak Ala menceritakan tentang awal berdirinya gojek yang hanya lima orang, kemudian membangun App-nya dan menceritakan tentang grup wasap driver-driver senior, “Kita ada grup wasap, yang isi-nya ada aku ada Nadiem dan driver-driver senior kita, seringkali mereka mengucapkan terimakasih ke kita karena anaknya bisa sekolah kembali, bisa makan enak seminggu sekali di KFC, dan terkadang ada permasalahan teknis mereka juga memberitahu kita.” Aku hanya terperangah waktu itu, masak iya seorang CEO dan VP mau kontek-kontekan via wasap oke aku iyain aja waktu itu.

Sembari memakan sate dan meminta tambahan kecap ke mbak Imah, mbak ala menanyaiku soal belajar, “Kalau kamu disini, kamu masih mau belajar?” , “Ya mau mbak, seneng banget kalau mau ditraining” jawabku.

“Iya, disini nanti kamu gak kerja tapi kamu belajar dan berkarya makanya aku set tempat ini kayak gini.” Tiba dipertanyaan krusial, “Kamu disini, mau gaji berapa?” pertanyaan macam ini nih yang aku susah jawab, karena aku gak bisa nego hal beginian.

Setelah itu mbak ala bilang,”Kalau kamu cuma mikirin duit, kamu gak akan pernah puas mau kamu digaji 100jt pun kamu gk bakal puas kalau yang namanya duit, kamu juga harus berpikir kalau karya kamu bisa membantu orang banyak.” kalimat ini yang bikin aku klepek-klepek dan gak protes dengan angka yang ditulis mbak ala. “Kamu nulis segini, kita apresiasi kamu, kita tambahin dikit ya” waktu itu ada-nya cuma ya dan iya gak bisa ngapa-ngapain lagi karena waktu itu aku pikir udah cukup buat tabunganku.

Hari itu, adalah hari perubahan bagiku. Aku bertemu dengan seorang mentor dan motivator, seorang yang membuat aplikasi Gojek yang sedang naik daun kala itu, seorang yang bisa merubah pandanganku tentang pekerjaan bahwa bekerja tak cukup hanya untuk diri sendiri dan keluarga tapi untuk juga untuk orang banyak. LUAR Biasaaa… entah mimpi apa aku bisa ketemu dan ngobrol langsung dengan mbak Ala seorang VP Gojek.

Setelah itu, kemudian pada tanggal 3 September 2015 aku diundang diacara soft launching Gojek Tech Valley yang sebelumnya diberi nama “Gojek Product Office”. Ketika aku datang dan setelah bersalaman dengan mas Yuki, Mas Hianto, Mas Babas, mbak Ala mendatangiku dan mengajak orang asing bersalaman denganku “Sheran, this is Ibnu he is our new QA”, “Ibnu, ini Sheran CTO kita” kemudian aku bersalaman dengan pak Sheran setelah diperkenalkan mbak Ala. Ini luar biasa lagi, mbak Ala sepertinya lupa bahwa dia seorang VP dan Pak Sheran seorang CTO sedangkan aku ini hanyalah QA. Namun, ternyata di Gojek memang begini, tak ada sekat antara aku dan kamu. Emejing!

1 Oktober 2015 Hari pertama aku bekerja, eh bukan.. BERKARYA maksudnya, aku datang jam 8 Pagi dan tujuanku pastilah Laptop baru, karena selama ini aku tak pernah punya Macbook sebelumnya pastilah so excited sekali. Aku datang bersama Sendy menuju pantry, disana ada mas Seto dan mbak Ala yang kala itu tengah sarapan Bubur kesukaannya, Bubur Ayam Concat. “Wuiss.. Ibnu, Sendy… dah pada sarapan?” tanya mbak Ala waktu itu, kemudian mas Seto memberikan kami masing-masing satu laptop dan diminta menginstalnya karena instalasinya membutuhkan waktu yang lama. Sembari menginstal, kami ngobrol ringan dengan mereka berdua, awalnya aku canggung karena yang aku ajak ngomong ini seorang VP, tapi lagi lagi mbak Ala menang telak, memang tak ada sekat antara kita.

11 Oktober 2015, hari ini setelah semalaman kami bergelut dengan Go-Indonesia maka hari ini kami akan menyegarkan pikiran kami dengan Rafting. Sebelum rafting, seperti biasa kami bercakap-cakap di Pantry. Kebetulan waktu itu, sedang ada panen Jambu Air ditempatku. Sekalian kubawa waktu itu, dan secara kebetulan di Go-jek Tech Valley banyak yang suka. Aku bilang sama mbak Ala,”Mbak nanti aku mau minta foto sama Nadiem bawa jambu ya… kan bisa buat promosi.” Mbak Ala mengiyakannya, karena memang sore hari kita semua diajak makan di Abhyagiri dan kebetulan Nadiem dan BOD lain ikut.

“Diem, ini ada yang minta foto buat usaha Jambu-nya” seru mbak Ala ke Nadiem. “Yo suruh sini La.” aku kemudian merapat dan membawakan jambu untuknya. “Ini jambu apa? kok gede-gede banget?” tanya Nadiem, “Oh ini namanya jambu Dalhari.” jawabku.

Kemudian kami berdua berfoto dengan bantuan kameraman Helmi.

16 October 2015, mas seto memfowardkan-ku email tentang ulang tahun GO-JEK yang kelima, dan intinya disitu setiap divisi diminta membuatkan ucapan selamat ulang tahun yang kelima untuk Go-jek. Ide ini segera kubahas dengan Cyuta dan Yola kala itu, kemudian segera ku-eksekusi bareng Ervan dan Reza. Sebenarnya, waktu shooting telah kita sepakati diatas jam 3 Sore karena Ervan bilang kalau cahaya-nya bagusan kalau sore hari. Tapi, karena jika shooting dilakukan sore hari, mbak Ala gak bisa ikut karena dia udah ada janji nonton Prambanan Jazz kala itu. Oke fixed, kita shooting jam 1 siang berputar putar Jogja dan peranku adalah sebagai Driver Gojek yang mengantarkan kue ulang tahun untuk Go-jek ke Go-jek Tech Valley.

Beberapa hari setelah itu, mbak Ala meminta mas Lutvi untuk menaruhku di tim GOBIS. Aku tak tahu apa motivasi mbak Ala memberikan tugas itu apa karena aku sukses berperan menjadi driver atau emang karena wajahku ini cocok jadi driver entahlah.

Ngetest dan ngetest adalah pekerjaanku, waktu itu driver app akan merilis versi 1.75 yang ada pembaruan soal waktu ambil bid yang tanpa jeda. Setelah aku test, semua berjalan baik-baik saja. Sampai tiba saat-nya ketika aku pulang dari Ngayogjazz banyak sekali wasap di grub Driver App yang mempermasalahkan banyak driver yang tidak bisa ambil order setelah update ke versi 1.75. Akupun hanya diam, tak banyak kata selain maaf yang aku lakukan. Ada sedikit misskomunikasi diteam kami, karena apa yang dirilis bukanlah apa yang selama ini aku test. Sadar akan kondisi tim kami saat itu sangat down, mbak Ala menanyai mas Ildo dan Mas Hianto kala itu “Ini kenapa sih to?” kemudian mas Hianto menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Kemudian, aku baca lagi, mbak Ala sama sekali gak marah-marah seperti yang lain, mbak Ala justru memotivasi kami dan membantu mencarikan solusi. Dari sini, aku paham bahwa mbak Ala ini bukan Bos ku, tapi dia adalah Leaderku.

Setelah kejadian itu, mbak Ala menambahkanku di beberapa grub wasap, salah satunya adalah grub yang sempat mbak Ala ceritakan sewaktu proses negosiasi kala itu, nama Grub-nya adalah “Gojek Diskusi Gobis”. Dan benar, disana ada Nadiem ada mbak Ala beserta para Driver. Komunikasi disini sangat cair, tidak ada sekat antara CEO dan Driver-nya. Mbak Ala menang lagi, grub ini benar-benar membakarku untuk semangat berkarya demi mereka. Waktu terus berlanjut, banyak yang memanggil mbak Ala dengan sebutan Ummi Ala. Pantas menurutku, walaupun belum menikah tapi Ummi Ala sudah punya banyak anak dan bisa mengayomi semua anak-anaknya.

Yogyakarta, 24 Juli 2016

Driver001 Jogja

Ibnu Fajar Yunardi-

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade