Mendukung Usaha Heychael Membedakan Islam dan Islamisme

Apakah berseberangan sikap dengan gerakan yang mengatasnamakan Islam sama artinya dengan ‘memusuhi’ agama Islam?

Pertanyaan itu muncul setelah membaca status Facebook Muhamad Heychael, dosen saya di Program Studi Ilmu Komunikasi. Status berjudul ‘Janji Pramuka’ itu berisikan resolusi beliau di tahun baru yang berikrar untuk giat menulis tentang sebuah topik yang sedang ia dalami saat ini.

Anda bisa baca sendiri apa yang beliau tulis di sini. Tapi intinya, Heychael sedang mendalami isu media dan radikalisme Islam, sebuah isu yang ia mulai perhatikan sejak pertengahan tahun 2017. Perhatian pada isu ini nampaknya akan ia lanjutkan di tahun baru dengan berfokus pada pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana ‘menamai’ praktik intoleransi yang terjadi di media-media daring yang mengatasnamakan Islam.

Bagi Heychael, penamaan ini diperlukan karena dari sanalah kita bisa membentuk penilaian obyektif atas isu ini. Dengan menamakan gerakan tersebut, kita bisa memahami apa itu Islam dan apa Islamisme, untuk kemudian dapat membedakannya. Usaha ini penting karena, asumsi Heychael, Islam adalah agama dan Islamisme merupakan tafsir atas agama yang sedikit banyak didorong oleh intensi kepentingan politik tertentu.

Sejauh ini, Heychael sudah menuliskan dua artikel (Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong dan Pengadilan Media Terhadap Etnis Tionghoa) menyangkut hal ini dan saya sangat menunggu tulisan-tulisan berikutnya dari beliau. Saya kira, apa yang Heychael berusaha lakukan dapat menjadi jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada di benak saya: apakah tidak mendukung gerakan atau aksi yang mengatasnamakan agama Islam sama dengan tidak mendukung atau bahkan memusuhi agama Islam?

Pertanyaan ini selalu hinggap di kepala saya setiap kali melihat aksi atau tulisan di ruang daring pada media-media yang berhaluan agama. Kita bisa sebut banyak contohnya. Dari mulai kasus ekstrem seperti propaganda ISIS yang aktif di media sosial, tulisan-tulisan di situs-situs media Islam seperti Arrahmah, Portal Islam, dan sejenisnya, atau sesederhana cuitan-cuitan ustad beken di media sosial.

Beberapa, bahkan mayoritas, apa yang didengungkan oleh pihak-pihak tersebut bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam yang saya ketahui, pelajari, dan yakini selama ini. Di sisi lain, konten-konten mereka justru kerap menyuarakan provokasi, berbau manipulasi, dan jauh dari praktik-praktik dan usaha dalam mencari kebenaran.

Di sini lantas muncul dilema bagi saya. Saya adalah seorang muslim dan idealnya saya mendukung hal-hal yang disuarakan oleh media berlandaskan agama Islam (bukankah begitu?). Namun, apa yang saya temukan pada mayoritas media berlandaskan Islam justru bertolak belakang dengan keyakinan pribadi saya baik sebagai seorang muslim maupun sebagai manusia yang sedang mencari kebenaran.

Barangkali saya hanya perlu berpegangan pada keyakinan diri sendiri tanpa harus menunggu kajian-kajian mengenai hal ini. Tapi jika demikian, apa bedanya saya dengan media-media tadi yang seringkali meniadakan tafsir obyektif atas suatu masalah? Maka, alangkah lebih baik jika keyakinan tersebut bisa dilegitimasi lewat usaha yang dilakukan oleh Heychael sebagai pengejewantahan usaha pencarian kebenaran yang selama ini kita perjuangkan.

Oleh karena itu, kajian dari Heychael nantinya saya kira bisa menjawab pertanyaan yang ada di benak saya, atau bahkan di benak Anda semua. Apapun hasilnya, Heychael bisa memberikan pencerahan tentang perbedaan di antara keduanya, syukur-syukur bisa membuktikan asumsi awal bahwa yang orang-orang itu lakukan bukanlah perpanjangan tangan resmi dari agama, sehingga kita bisa memilih untuk tidak sepakat tanpa harus merasa resah bahwa yang kita lakukan itu merupakan bentuk perlawanan terhadap agama.

Anda bisa mengikuti tulisan dari Heychael di laman Remotivi atau pada status-status Facebooknya. Mari kita berdoa agar Heychael bisa istiqamah dalam menunaikan janji awal tahunnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.