Ke Negeri Sebelah
Susuri setengah satu malam jalan tangerang
Sampingku sesosok ayah sama diamnya
Setengah dua, duduk lalu menunggu pukul tiga
Siapa sangka huruf H katanya tak penting
Berusaha terbangun sampai lima lewat sepuluh
Sebelum terbang kucoba hati ini untuk luluh
Melepaskan sementara semua hal yang geluh
Mencari kesah tanpa tempat untuk berkeluh
Mengambil lelap mencoba cari cara curang
Biar sampailah aku di negara seberang
Awan selimut matahari sedikit lebih terang
Cuaca pagi hangat tidak terlalu benderang
Kumulai pagi dengan roti lapis ditumpuk sayur
Lihat nikmat mana yang kau dustakan anak muda
Pergi sendiri berharap hati semakin manjur
Hadapi tujuan tapi dibuangnya itu agenda

Foto diatas itu lagi di KL Sentral, baru banget nyampe dan masih transit naik bus dari bandara ke KL Sentral. Jadi KL sentral itu bakal mirip kayak Stasiun Manggarai nanti, yang bakal jadi pusat transit kereta-kereta Jarak dekat maupun jauh. Tapi di KL sentral lengkap abis, ke mall tinggal ke seberang. mau ke Bandara ada kereta bandara atau bisa naik bus, mau ke daerah Bukit Bintang bisa naik monorail atau MRT/LRT. Terus setiap Rush Hour itu pasti deh padet, jadi tempat transit yang wow penuhnya. walau begitu, tidak semerawut di Stasiun Tanah Abang sih.
Mumpung sepi, dan belum waktunya check-in di Hostel, iseng sok-sokan mau nyoba foto suasana pake shutter speed yang rendah, gaya sengaja gak bawa tripod, padahal tangan gak stabil. Hasilnya adalah goyang! sudah pasti. Udah tau goyang tapi masih aja di pajang juga, heran.
Waktu itu (pertengahan Oktober) lagi mau Deepawali gitu, kayak sekitar seminggu lagi lah. Itu tuh buat festival untuk agama hindu di Malaysia gitu dan emang kayaknya perayaannya rame. Makanya banyak hiasan-hiasan lampu-lampu gitu, walau lebih mirip buat chinese new year tapi sebenernya beda. Karena kebanyakan di Malaysia sendiri adalah orang melayu, india, dan chinese. Dulu Malaysia merupakan jajahan Inggris, termasuk India, Jadilah banyak para imigran datang ke Malaysia. Dengan wangi orang India yang khas banget di idung, kayak semua orang India punya 1 merk parfum yang “anjir nih kalo gua pake ini gua bakal india banget!”. Tapi asli sih, untung idung masih bisa menerima wanginya. Mungkin ya, ada aja orang yang gak suka sama wanginya.

Abis dari hostel naro barang, tidur bentar lalu sore jalan-jalan ke Bukit Bintang liat-liat barang. Saya kira, tinggal di hostel asik. Ngebayangin bakal punya kenalan baru, temen jalan-jalan baru. TERNYATA ENGGA JUGA ANJIR. Orang-orang banyak yang menyendiri (ya gua juga sih), sibuk aja gitu sama urusannya masing-masing. Turis juga gak banyak ternyata. Ya jadilah tetap saja sendiri jalan-jalannya.
Terus nemu Ibu-ibu ini yang lucu, di tengah-tengah lampu merah berenti, nyender tiang lampu merah sambil nelpon, lama banget kayaknya.
Enaknya emang di Kuala Lumpur itu buat jalan kakinya, kalau kuat dan gak cape. Mumpung hari pertama masih semangat, ngalahin rekor iklan anlene yang nyuruh jalan 10.000 langkah tiap hari biar sehat, saya jalan 12.000 langkah, tapi gak setiap hari juga.

“Her stillness defeated his storm.”
― Chris Gardner, The Pursuit of Happyness