Nelangsa Perempat Usia
Dengan kebiasaan badan yang bangun kala adzan… dzuhur, di pergejolakan dini hari dalam diri sendiri.
Mencari Tuhan.
Ibu membangunkan saya pada pukul Empat, tepat ketika kumandang seruan ibadah itu sedang kencang — kencangnya. mengegaskan badan ini menuju rumah ibadah, rumah tuhan, dengan harapan berhenti mendengar kata-kata nonstop dari ibu yang tak henti — hentinya berusaha membangunkan anaknya yang lain.
Seharusnya, bila seseorang beriman, ia merasakan sebuah kesejukan, ketenangan, kepasrahan, dan bahagia berada di Rumah Tuhan itu. Buat saya, saat itu, diterobos ketika akan mengambil posisi di satu shaf, dan betapa bapak — bapak di depan saya yang entah dimana, tak kunjung berhenti batuk dan menghisap ingus di hidungnya, tentulah saya berjabat taman dengan ketidaknyamanan di situ. “Apa seharusnya seperti ini, disini?”, protes batin saya.
sebagai seorang manusia berakal, diantara doktrin berbagai agama di segala media, saya masih belum menemukan tuhan saya.
Tuhan memang satu, dan permainan Tuhan — Manusia dalam ideologi “hanya satu agama yang benar” itu cukup mengerikan. Apalah artinya menentukan benar dan salah dengan dasar penguasa Imajiner.
“sang Maha Omnipoten, jika masih punya kesempatan, berilah saya iman, karena iman yang membuat gejolak hidup terasa ada harganya”