Delusi 25 Cm

Coretan ini sama seperti coretan sebelumnya. Aku hanya ingin menuliskannya saja. Coretan ini tidak berisi sumber-sumber teori, melainkan hanya berasal dari perenungan, khayalan, bualan, dan semata tentang pengalaman hidupku yang secuil serta desas-desus angin malam. Kali ini aku tertarik pada persoalan jarak pandang manusia. Bagaimana seorang manusia mampu melihat secara normal pada objek amatannya. Dan kunamai coretanku ini “Delusi 25 cm”.

Pengalamanku kali ini ketika bermain catur. Yah, permainan dengan 8x8 kotak yang berwarna hitam putih dengan diwakili oleh 32 bidak. Setiap pemain selalu memasang strategi, atau minimal taktik berjalan. Dan aku termasuk golongan yang kedua, hanya memainkan taktik jalan dan strategi spontan dari respon musuh yang diberikan. Beberapa video yang kuperhatikan dari dunia maya tentang pertandingan catur, beberapa atlet catur memainkan strateginya sejak awal, atau minimal benar-benar menggunakan strategi ketika lawan memberikan respon (tidak bergerak responsif semata). Apabila seorang pemain hanya memainkan secara spontan atau responsif taktik berjalan, menurutku hanya ada dua kemungkinan dia bisa menang, pertama faktor keteledoran lawan, yang kedua ketidakmampuan lawan merespon dengan baik permainan tersebut. Dengan kata lain, hanya faktor keberuntungan, tidak lebih.

Lantas apa hubungan sepenggal pengalamanku tersebut dengan jarak pandang normal manusia terhadap objeknya? Nanti akan aku jelaskan. Yang menarik bagiku, permainan catur ini mampu memicu persoalan kebenaran manusia memandang hipotesis, strategi, dan langkah. Kemudian ketiga hal tersebut menjadi persoalan kebenaran relatif dan mutlak terhadap permainan.

Semenjak pertama kali bermain catur hingga dewasa ini, aku belum pernah melakukan permainan catur dengan menggunakan lapangan luas dengan bidak sebesar tubuh manusia. Selama ini aku hanya memainkan permainan catur dengan menggunakan papan kayu atau plastik. Aku pribadi berpikir bahwa permainan catur yang dimainkan menggunakan bidak sebesar tubuh manusia akan jauh lebih sulit daripada permainan catur sebesar papan kayu. Mengapa? Keterbatasan jarak pandang manusia terhadap ruang. Bayangkan saja, penonton pertandingan catur yang tidak mengerti strategi pemain dalam sebuah permainan catur terkadang ikut merasa tegang atau geli dengan menunjukkan senyum meringis melihat pertandingan catur tersebut, bahkan terkadang berkomentar secara langsung terhadap permainan. Padahal dia tidak ikut memiliki pandangan langkah yang sama dengan pemain, tapi mampu memiliki pandangan yang sama tentang kemenangan atau kekalahan permainan meskipun tidak terlibat di dalamnya. Sehingga menurutku, selain melibatkan kemampuan logika, permainan catur juga sangat tergantung pada kemampuan spasial yang dimiliki pemain. Meskipun seseorang tidak memiliki logika cukup baik dalam bermain asal memiliki kemampuan spasial yang baik (selama tahu bagaimana gerak bidak catur) setidaknya mampu terhindar dari kekalahan (yang cepat).

Melompat pada persoalan pandangan manusia sebelumnya. Sepengetahuanku, manusia memiliki batas pandangan terhadap objek. Batas pandangan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu batas memandang objek yang jauh (punctum remotum) dan batas memandang objek yang dekat (punctum proximum). Untuk batas memandang objek terjauh ternyata tidak terbatas, manusia mampu memandang objek dimanapun. Menurutku persoalan yang membatasi pandangan terjauh ini kemudian berubah menjadi persoalan tentang bagaimana manusia menangkap ukuran dari objeknya. Jadi objek tersebut masih nyata dalam pandangan namun menjadi tidak logis dalam “ukuran” perspektif manusia. Berbeda dengan dengan batas memandang objek yang dekat. Manusia normal memiliki batas pandangan terdekat hanya 25 cm. Lebih dekat dari itu, manusia normal akan memandang tidak jelas objeknya. Dengan kata lain objeknya menjadi tidak nyata, namun ukurannya sangat logis dalam perspektif manusia. Sebagai contoh, manusia mampu memandang bulan yang jaraknya sangat jauh dari bumi, namun untuk membaca huruf yang tepat di depan matanya manusia tidak mampu. Mengapa objek yang seharusnya begitu nyata justru menjadi tidak nyata dengan jarak pandang yang dekat, dan sebaliknya jarak yang sangat jauh justru mampu dilihatnya dengan nyata?

Semakin jauh objek yang di pandang manusia menjadi semakin nyata objek tersebut, menurutku persoalan ukuran adalah hal lain. Namun jarak, kondisi, dan posisi objek mampu lebih mudah untuk di bayangkan oleh manusia, dimana persoalan berikutnya hanya soal ilusi manusia membangun hipotesis terhadap objek tersebut. Justru sebaliknya, 25 cm adalah angka yang membuat objek menjadi tidak nyata bagi penglihatan manusia. Kurang dari 25 cm dan semakin kecil angkanya manusia hanya semakin bisa menerka seperti apa objek tersebut. Dari terkaan tersebut seringkali menimbulkan terkaan yang keliru terhadap perkiraan objek yang ada di depannya. Dengan kata lain, terjadi “Delusi”.

Kembali ke permainan catur yang tadi, di dalam pikiranku, seandainya permainan catur tersebut adalah pertandingan pemain melawan takdirnya sendiri. Di posisi pandang mana yang membuat pemain mampu memenangkan permainan. Menurutku pribadi, jelas di luar jarak batas pandang terdekat pemain terhadap papan caturnya (bukan bidaknya). Di posisi optimal, pemain yang memainkan bidaknya akan mampu membangun hipotesis tentang proyeksi lawannya untuk bergerak, sehingga setidaknya dia akan terhindar dari kekalahan. Kemudian dia akan mampu membangun strategi kemenangan jika memang dibutuhkan. Dan yang terakhir adalah melangkahkan setiap bidaknya hingga permainan berakhir. Sekarang bayangkan bila semakin dekat pemain memandang papan caturnya, dia akan merasa disorientasi medan. Kemungkinan yang terjadi adalah delusi terhadap hipotesis, strategi, dan langkah selanjutnya karena objek yang dipandangnya tidak lagi nyata. Dia tidak lagi memegang kendali atas permainan, dialah yang justru akan dipermainkan oleh lawan bahkan penontonnya sendiri.

Lantas bagaimana jika manusia berada di batas pandang terjauh (tak terhingga) terhadap papan caturnya? Yang terjadi adalah timbul ilusi terhadap hipotesis, strategi, dan langkah dalam permainan. Namun ilusi sendiri masih mampu membangun berbagai hipotesis baru karena objek yang dipandangnya masih nyata. Dengan semakin jauh, medan permainan catur semakin meluas, kini yang menjadi semesta permainan bukan lagi pemain terhadap papan catur dan lawannya, melainkan pemain, papan catur, dan penontonnya. Perubahan ruang pandang yang semakin luas dengan hanya merubah ukuran pada objeknya tentu akan lebih menguntungkan pemain untuk menyelesaikan permainan catur ini. Setidaknya pemain mampu mengetahui di posisi dan kondisi seperti apa dia dalam permainan.

Langkah setiap bidak yang bergerak tidak bisa dikatakan sebagai “salah gerak”, karena semua langkah benar (selama kuda masih melangkah L, pion masih melangkah satu langkah, dan seterusnya). Namun apakah cukup pemain untuk sekedar benar melangkah dalam permainan. Bukankah tujuan yang hendak dicapai pemain dalam permainan catur adalah kemenangan? Hal inilah yang kemudian mendorongku untuk merenungi kebenaran relatif dan mutlak dalam permainan catur. Menurutku, benar dalam bergerak hanya sebuah bentuk kebenaran relatif karena setiap geraknya hanya menjadi langkah yang dianggap “benar” oleh pemain. Bagaimana dengan kebenaran mutlak? Menurutku, kebenaran mutlak hanya bisa diperoleh ketika permainan selesai, maka akan terlihat langkah pemain mana yang memang “benar”. Dengan demikian kemenangan adalah jawaban untuk mencapai kebenaran mutlak karena timbul adanya pengakuan “benar” dari pemain, lawan, dan penonton.

Dengan menganalogikan papan catur dengan kehidupan dan kebenaran tersebut. Maka upaya yang bisa ditempuh setiap pemain untuk mengetahui kemenangan dan kebenarannya adalah bagaimana pemain mampu menempatkan dirinya pada posisi pandang yang tepat. Adanya delusi 25 cm hanya akan mengganggu pemain untuk menyadari medan tempurnya. Dan mengambil jarak terlalu jauh pada medan akan memperpanjang durasi waktu pemain untuk menyelesaikan permainan karena harus memastikan ilusinya terlebih dahulu.

Aku tertarik untuk menjelaskan permainan catur ini, karena aku pribadi merasa seorang individu harus mengambil jarak terhadap kehidupan di depannya, sehingga semakin jauh dia terlepas dari bayangan kehidupan dia akan semakin memahami medan tempur hidupnya. Semakin dia menyelami medan tempur kehidupan dia akan semakin mudah terkena “Delusi 25 cm” yang aku maksudkan di awal. Akhirnya individu tersebut akan disorientasi terhadap kebenaran dan kemenangan. Sedangkan semakin jauh dia dari kehidupan, maka akan membuatnya semakin lama menyelesaikan permainan hidup. Karena terkadang aku berpikir bukankah sebenarnya kehidupan hanya persoalan menang dan kalah, atau bahkan lebih sederhana?

Tulisan ini hanya bualan, tidak ada maksud untuk mengarah pada apapun. Aku pribadi hanya ingin berbagi perenunganku yang selama ini hanya aku nikmati sendiri.

Surabaya, 1 September 2016