Pendidikan Terbalik

Coretan ini aku buat karena hanya merasa gatal, sudah lama tidak coret-coret. Coretan ini hanya dibuat berdasarkan pengalaman pribadi tanpa ada teori apapun. Dan coretan ini dibuat oleh orang yang mungkin tidak pantas kalau berbicara tentang ini, karena toh aku pun belum mampu menyelesaikan tanggung jawab secara penuh mengenai apa yang sedang kutulis. Ini soal pendidikan.

Sehari yang lalu aku diajak oleh seorang kawan untuk mengikuti sebuah acara yang terkait dengan anak-anak jalanan. Menarik pikirku. Disana pun memang menarik. Anak-anak berumur belia bisa berekspresi secara penuh dalam acara itu. Tidak kalah meriah kakak-kakak yang mengeksekusi acara juga terlihat sangat ramah dan mampu mengayomi anak-anak. Bahkan banyak stigma negatifku yang hancur disana terkait dengan orang-orang yang berpenampilan “sangar”. Ada kepedulian yang besar dari mereka terhadap anak-anak yang (mungkin) kurang beruntung itu, tanpa mengurangi hormat pada rasa kepedulian orang-orang lainnya di dunia ini. Bahkan saat aku “ngopi” di warung dekat tempat acara, sempat ibu-ibu penjual kopi berbicara kalau kakak-kakak eksekutor yang kukatakan “sangar” tadi sampai meminta ijin pada orang tua anak-anak jalanan untuk diajak mengikuti acara tersebut dan menyediakan transportasi bagi mereka.

Tapi aku tidak akan berbicara tentang jalannya acara secara panjang lebar. Aku hanya ingin mencupliknya saja. Yang ingin aku katakan, aku rasa pendidikan kita berjalan terbalik. Dengan sistem yang terpaut sangat jauh antar jenjangnya dan antar tingkat ekonominya.

Aku sering berpikir, sebenarnya apa hakikat dari pendidikan kita selama ini. Atau lebih sederhananya sekolah kita selama ini, karena aku rasa banyak dari kita dan aku sendiri yang sering berpikir bahwa pendidikan yang kita maksud ya pendidikan yang dalam bentuk kelas dan terpeta-petakan itu. Terlalu naif pula di negara kita kalau mengatakan pendidikan adalah tempat yang bersifat universal. Toh banyak dari mereka yang mendapatkan pendidikan melalui jalur non formal “dimatikan” ekspresinya. Tolak ukur seorang yang terdidik dan tidak terdidik terkotak pada ada atau tidaknya bukti otentik selesainya akademik, yang lebih kita kenal namanya ijazah dan sertifikat. Akhirnya semua berbondong-bondong untuk mencari itu. Aku rasa tidak salah, karena memang di negara kita kalau ingin mencari penghidupan, dominannya melalui jalur tersebut. Sama seperti psikolog yang pernah aku temui, katanya “hidup terkadang hanya persoalan survival”. Dan kebutuhan survival itu seringkali membuat kita harus dengan terpaksa atau (mungkin) ikhlas untuk masuk ke dalam sistem besar itu.

Dampaknya apa? Kalau menurutku pribadi, adanya kematian berekspresi dari setiap individu manusia. Pada hakikatnya seorang individu memiliki takdir dan kemampuannya masing-masing untuk menjadi sesuatu. Lantas kemudian harus masuk dalam satu wadah yang sama? Yang belum tentu dapat mengakomodasi setiap kebutuhan dari tujuan hidup individu-individu tersebut? Kita layaknya ikan yang dituntut untuk memanjat, dan burung yang dituntut untuk berenang. Tapi kalau aku berkata ngawur dengan memakai teori Charles Darwin, itu bisa terjadi karena setiap individu akan selalu bisa beradaptasi dengan lingkungannya namun tidak akan mencapai hasil optimal dan dampak lainnya akan jelas, semua cuma akan berhenti pada kata “mampu” bukan “ahli”.

Tentang pendidikan formal itu kemudian yang aku rasakan banyak stigma “sia-sia” tentang pendidikan non formal dan pendidikan bebas di ruang publik. Beberapa bulan yang lalu bahkan sempat santer persoalan pembakaran buku kemudian baru sekitar seminggu yang lalu muncul kembali persoalan pemukulan aparatur negara pada kegiatan pendidikan bebas di ruang publik. Aku pribadi dan beberapa kawan kuliah akhir-akhir ini juga sedang menggalakan kegiatan pendidikan bebas di ruang publik dengan membuka perpustakaan di kampus. Ya, walaupun terkadang hanya ada satu dua orang pengunjung yang datang aku pribadi sangat bahagia kalau mereka datang. Menyempatkan sedikit waktu untuk sekedar berbagi pengalaman di perpustakaan kami dan membaca. Tapi yang aku rasai sedikit menjanggal hanya satu, aku berada di lingkungan yang semua orangnya terdidik. Tapi (maaf) aku belum melihat minat bacanya tinggi, karena saat aku lihat di perpustakaan ruang publik lainnya (di luar kampus), banyak dari kalangan anak-anak kecil yang kadang malah menyempatkan melihat. Dan aku sangat yakin mereka suka walaupun mungkin sekedar pada gambarnya. Tapi aku rasa itu luar biasa, mereka suka buku!! Itu baru satu aspek tentang pendidikan kita yang berjalan terbalik.

Ada satu aspek lagi yang ingin aku bicarakan (walaupun masih banyak aspek lain tentunya). Tentang kesadaran sikap dan moralitas yang terlambat dalam pendidikan. Entah cuma aku yang mengalami atau juga terjadi pada yang lain. Aku rasa pembentukan kesadaran sikapku dan moral baru aku rasakan ketika aku memasuki perguruan tinggi. Sampai akhirnya aku simpulkan, bahwa memang di dalam perguruan tinggi banyak sekali inkubator yang dapat mengkataliskan hal tersebut terjadi. Semenjak SD hingga SMA banyak yang masuk ke dalam diriku ya persoalan eksak dan sebagainya. Memang benar di SMP dan SMA sudah ada inkubator tersebut. Tapi yang kumaksudkan inkubator yang lebih bersifat kepekaan dan pembentukan sikap terhadap persoalan yang bersifat mendasar (seperti sosial). Kalau aku melihat, persoalan yang bersifat sosial di jenjang pendidikan sebelum perguruan tinggi, seorang individu lebih banyak dilibatkan sebagai objek baik melalui penyuluhan, kegiatan sponsorship berdasarkan kepentingan korporasi masing-masing, maupun duta. Sedangkan di perguruan tinggi, individu lebih banyak berada di posisi subjek. Setelah aku renungkan kembali, aku rasa karena pengaruh pendidik yang "baru" merasa bahwa anak didiknya di perguruan tinggi siap untuk ditempatkan sebagai subjek.

Hal mendasar tentang moral juga baru aku sangat rasai ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Seperti kenapa seseorang tidak boleh mencuri, kenapa seseorang tidak boleh membunuh. Saat dulu aku tahu tidak boleh mencuri karena adanya hukuman, karena adanya hak yang tidak boleh terampas, pun sama dengan membunuh. Tapi ketika berada di perguruan tinggi baru aku tahu bahwa mencuri dilarang karena akan ada individu lain yang menjadi menderita, pun dengan membunuh. 
Di sinilah yang sangat aku sayangkan. Aku rasa terlambat dan terbalik. Pendapatku pribadi, seharusnya banyaknya inkubator yang membentuk sikap dan moralitas justru harus ditempatkan dibawah jenjang perguruan tinggi dan seawal-awalnya pendidikan diberikan. Pertama, tidak semua individu bisa memperoleh pendidikan hingga perguruan tinggi. Kedua, jangka waktu studi pada perguruan tinggi tergolong sangat singkat menurutku, karena tentu dari setiap individu juga akan mempersiapkan persoalan “survival” seperti yang kusebutkan di atas. Dan yang ketiga, kesadaran dengan waktu yang sangat singkat tidak akan mudah untuk terbentuk.

Ini sama halnya dengan ketika aku ingat kembali, siapa yang mengajariku kata “terima kasih” saat diberi sesuatu. Sampai sekarang aku lupa siapa yang telah mengajariku moral sederhana itu, tapi sampai sekarang aku selalu ingat bagaimana harus bersikap ketika diberi sesuatu. Ini yang kumaksudkan dengan pembentukan karakter untuk bersikap yang terlambat atau (mungkin) terbalik di pendidikan kita.

Aku jadi teringat tentang pendidikan Yunani Kuno. Pernah suatu ketika ada yang menceritakan padaku bahwa ada 3 tahapan pendidikan untuk anak-anak Yunani Kuno, tahap pertama seorang anak akan dilatih untuk berperang sehingga fisiknya menjadi kuat, kemudian di tahap kedua seorang anak akan dilatih untuk bermusik sehingga kepekaan dan perasaannya menjadi sensitif. Barulah di tahap akhir seorang anak diberikan pembelajaran ilmu bumi dan ilmu eksak lainnya.

Ya itu coretan yang ingin aku ungkapkan. Kalau kata Pramoedya, kenyataan memang harus diterima, tapi kalau semuanya harus diterima begitu saja kita tidak akan beranjak kemana-mana. Kalau seorang ahli hukum terpelajar tidak tersinggung pada penyelewengan hukum yang salah, lebih baik jadi tukang sapu jalanan. Sejujurnya akupun berat untuk menuliskan coretan ini, karena sekedar menyelesaikan pendidikan formal masih belum terlaksana. Mohon doanya.

Surabaya, 28 Agustus 2016
Ditemani lagu dari Senartogok “Komedi Ilahi”
-Aku ingin jadi pejuang, menolong setiap orang. Tapi aku tidak konsisten, hanya mengikuti tren.” -