Proyeksi, Déjà vu, dan Unsur Hara

Tulisan ini aku buat dengan segala keterbatasan pengetahuan dan logika yang ngawur serta beberapa fantasi yang kumiliki. Tulisan ini terinspirasi dari beberapa pengalamanku ketika bermimpi. Yah, hanya soal mimpi yang aku alami selama ini yang membuatku menjadi bertanya-tanya tentang makna di baliknya, atau lebih sederhananya bagaimana mimpiku bisa muncul tanpa aku perintahkan. Ini soal Proyeksi, Déjà vu, dan Unsur Hara.

Beberapa hari yang lalu aku bermimpi bertemu dengan kawan lama, dimana dalam mimpi tersebut aku memiliki agenda untuk mendaki gunung. Disana aku bersama tiga kawanku. Dan mimpi ini bercerita tentang bagaimana kejadian sebelum kami mendaki atau lebih tepatnya meeting point kami dalam mimpi tersebut. Tentu semua subjek dalam mimpi aku tidak ingat betul, tapi yang jelas kami berjumlah tiga orang yang akhirnya ketambahan satu orang serta kejadiannya berada di stasiun kereta api yang tidak keketahui stasiun mana. Semua tempatnya asing bagiku, aku hanya tahu itu adalah stasiun kereta api. Pertama, aku bertemu dengan seorang kawanku terlebih dahulu (lupa siapa tapi aku ingat dan yakin dia kawanku di dunia nyata), kemudian kami berdua sibuk mencari kawan kami satunya, sebutlah namanya adalah Hagra, disana ternyata Hagra sedang makan di warung stasiun. Tak disangka kemudian datang kawan kami yang lain yang tidak ada dalam rencana, dan di kehidupan nyata aku tahu dia adalah kekasih si Hagra. Penambahan satu subjek ini yang kemudian membuatku bertanya-tanya. Tapi yang ingin kubahas bukan tentang mimpiku ini, karena di dalamnya semua terkesan sangat biasa. Aku ingin membahas hal luar biasa yang aku coba renungkan karena mimpi ini.

Bagaimana proses mimpi bisa terbentuk? Pernah aku mencoba mencari, dan yang kutemukan bahwa mimpi terjadi karena bentuk visualisasi otak terhadap sistem memori manusia dan bentuk emosi dari subjek yang sedang bermimpi. Aku rasa penjelasan itu adalah penjelasan yang paling masuk akal. Namun kemudian ada pertanyaan lain yang aku rasa belum mampu terjawab. Jika demikian, bagaimana subjek pemimpi mampu bermimpi dengan bentuk visual yang tidak pernah dia bayangkan atau dia ketahui, serta bentuk emosi yang tidak pernah dia rasakan sama sekali. Penjelasan dalam agama yang pernah kuketahui, bahwa mimpi adalah bentuk perjalanan ruh manusia ketika tertidur. Nah disinilah kerancuanku mulai terjadi. Bagaimana ruh dapat menyimpan memori secara sadar dalam waktu singkat sehari semalam dan mampu membentuk visualnya di dalam otak ketika terbangun, jika memang ruh melakukan perjalanan (saat terbangun subjek mampu mengingat mimpinya walaupun tidak semua). Tentu ada faktor X yang membuat seseorang mampu membangun alam mimpinya dengan bentuk visual yang terkadang terkesan nyata. Seperti kasus mimpi di stasiun yang sedang aku alami, faktor memoriku membenarkan adanya kawan-kawanku itu pernah hidup bersamaku di dunia nyata. Semua kawan aku kenal, semua emosinya aku kenal, bahkan ceritanya pun menjadi kebiasaan kami bertiga. Namun, bagaimana dengan kekasih Hagra yang tiba-tiba muncul dalam mimpiku, dan bagaimana otakku bekerja membentuk stasiun itu di dalam mimpiku. Sementara aku tahu, kerja otak ketika tertidur tidak mampu seratus persen, dan apakah dengan kerja otak yang tidak optimal mampu membuat visualisasi yang tidak pernah aku ketahui. Bayangkan saja ketika tersadar tidak semua orang mampu berkreasi secara visual kecuali mereka yang berbakat. Sedangkan ini justru mampu melakukannya dalam posisi tertidur!! Jika ruhku mengalami perjalanan, dimensi apa yang menghubungkan ruh kami bertiga? Dan aku sangat ingat itu terjadi di siang hari? Sedangkan aku tertidur malam hari. Aku pun tidak pernah mengalami itu di masa yang lampau, maka aku katakan kasus mimpiku yang satu ini adalah sebuah Proyeksi.

Kemudian, aku teringat tentang istilah Déjà vu. Banyak orang yang menganggap bahwa peristiwa ini merupakan perasaan pernah mengalami sesuatu di waktu sekarang pada masa sebelum peristiwa itu terjadi. Padahal jelas peristiwa itu tidak pernah dialami. Lantas bagaimana seseorang merasa yakin (atau ragu) terhadap peristiwa ini. Aku rasa ada dua hipotesis tentang kondisi ini. Pertama, seseorang membentuk visual memorinya secara spontan sehingga terbentuk fantasi pernah mengalami peristiwa tersebut. Kedua, dia memang benar-benar pernah mengalami peristiwa tersebut di ruang dan waktu yang berbeda. Alasan pertama tentu alasan paling logis menurutku. Namun, bagaimana dengan bentuk emosinya? Apakah otak bisa membentuk memori tentang emosi (atau mungkin biasa disebut trauma) secara spontan pada sebuah objek (peristiwa) yang dia visualkan sendiri (bukan terjadi di dunia nyata). Namun jika merujuk pada alasan kedua, bagaimana mungkin dia bisa mengalami peristiwa yang sama di ruang waktu yang berbeda jika dia sendiri tidak pernah melakukan perjalanan transdimensional secara sadar.

Lantas bagaimana Déjà vu ini mampu dirasakan seorang individu?

Dalam pikiranku Déjà vu tidak akan dibentuk oleh seorang individu yang sama karena pertama, ruh seorang individu bersifat identik, hanya mewakili satu identitas yang tunggal. Kecuali bagi mereka yang mempercayai adanya reinkarnasi. Aku tidak begitu mengerti bagaimana proses reinkarnasi ini terjadi, tapi sepengetahuanku ruh nya tetap satu jiwa namun berganti fisik dan akhirnya tidak mengenal kehidupan yang lama secara sadar (hanya memori batin yang tertinggal). Atau dengan kata lain, lebih banyak fisik di dunia ini daripada jumlah ruh (jiwa). Tapi aku kurang mempercayai bentuk reinkarnasi seperti ini, aku lebih mempercayai bentuk reinkarnasi yang lain. Yang kedua, bentuk reinkarnasi secara fisik, dimana ruh yang terkandung dalam fisik hanya dimiliki oleh satu jiwa itu saja sampai dia wafat, kemudian ruh kembali pada Rab-nya dan fisik tertinggal di bumi. Atau dengan kata lain lebih banyak ruh di dunia ini daripada jumlah fisik. Bentuk reinkarnasi inilah yang kemudian aku sebut sebagai Unsur Hara, atau faktor X dalam proyeksi.

Unsur Hara, sebuah komposisi tanah yang memberikan asupan nutrisi bagi tumbuhan dan makhluk hidup yang mampu menyerapnya. Ada istilah yang mengatakan bahwa “kamu adalah apa yang kamu makan”. Istilah itu yang membuatku merenung. Mungkin karena istilah itu, beberapa agama memilih menjadi vegetarian untuk menghindari sifat-sifat hewani. Namun bukankah seorang hewan juga berhulu pada herbivora yang notabene mengkonsumsi tumbuhan, dan unsur hara itu menyatu pada tubuh tumbuhan. Kemudian sampailah unsur hara itu pada predator terakhir yang terkadang posisi tersebut diambil alih oleh makhluk yang bernama manusia. Disini lah yang membuatku tertarik. Ketika unsur hara sampai pada manusia, maka semua kandungan unsur tanah juga mengalir dalam tubuhnya secara tidak langsung.

Aku ingin melompat pada logika yang lain, persoalan gen dan emosi. Aku pernah membaca sebuah buku berjudul “Advantage of Introvert”. Di dalam buku tersebut terdapat penjelasan bahwa tempramen atau bentuk emosi dihasilkan oleh faktor genetika. Kemudian yang menjadi pertanyaanku, apakah benar genetika di dalam tubuh manusia adalah murni seratus persen turunan dari kedua orang tuanya tanpa kontaminasi protein lain? Apakah makanan yang masuk dalam kandungan seorang ibu pada anaknya tidak akan mempengaruhi kode genetika dari seorang anak? Jika memang mampu mempengaruhi, disinilah faktor unsur hara yang aku maksudkan. Bahwa semua kejadian persoalan alam bawah sadar seorang individu tidak pernah berasal dari dalam dirinya secara penuh dan identik. Ada hubungan seorang individu dari asal unsur hara tersebut berasal. Seperti halnya fenotip adalah gabungan dari genotip dan lingkungannya. Lingkungan seperti apa yang mampu membentuk fenotip, karena menurutku lingkungan ketika dia belum lahir juga termasuk dalam kategori lingkungan perkembangannya ketika dia sudah terlahir.

Pernahkah terpikir olehmu apakah jasad seorang yang meninggal dan hancur adalah bentuk fisik yang hilang? Aku rasa tidak. Seperti energi, dia hanya berubah wujud. Pun sama dengan bentuk kehancuran fisik yang kemudian tercerai dalam tanah, tentunya protein dari jasad yang hancur ikut kembali bersama tanah. Protein ini (gen jasad yang telah mati) yang aku rasa terlebur bersama tanah dan kemudian menjadi salah satu unsur hara yang akan kembali pada rantai makanan selanjutnya. Apa pentingnya genetik dari individu lainnya dalam rantai makanan tersebut? Ada yang pernah berkata padaku, bahwa setiap makhluk memiliki 2 pengalaman, pertama, pengalaman fisik seperti cacat dan sebagainya, yang kedua pengalaman batin seperti trauma. Setiap tubuh manusia aku yakin selalu menyimpan kedua memori pengalaman tersebut walaupun manusia tersebut telah wafat dan hilang ruhnya. Pengalaman dari batin dan fisiknya tetap tersimpan dalam memori fisiknya. Kemudian apabila fisiknya hancur, tentu memori tersebut tidak akan hancur, boleh jadi tersimpan dalam bentuk lain pada komponen tubuhnya yang nanti menjadi bagian dari unsur hara tersebut.

Dari penjelasan unsur hara inilah kemudian terpikir olehku bahwa faktor unsur hara yang menjadi bagian dari kondisi Déjà vu dan Proyeksi kita di alam bawah sadar. Karena secara tidak langsung kita memiliki unsur di dalam tubuh kita yang berasal dari makhluk lain sebelum kita. Proyeksi kita yang tidak pernah mampu tervisualisasi adalah sisa visual memori dari genetik individu lama yang telah menjadi unsur hara. Kemudian unsur hara tersebut menjadi sebagian protein yang mengisi gen di dalam tubuh kita, contohnya adalah bentuk khayalan individu sebelum kita yang tersimpan menjadi memori pada jasadnya sehingga tanpa kita pikirkan memori itu mampu keluar dalam alam bawah sadar kita. Dan Déjà vu adalah bentuk memori lampau terhadap fisik dan emosi yang pernah ditemui oleh gen individu lama yang menjadi unsur hara tersebut. Kemudian kita menemui bentuk fisik dan emosi yang serupa atau hampir serupa di masa sekarang. Sehingga kita merasa pernah mengalaminya di masa lalu.

Sebagai contoh sederhana, jika seorang ibu menanam padi di atas makam seorang pahlawan, boleh jadi gen dan pengalaman batin maupun fisik dari pahlawan tersebut akan menjadi sifat dan pengalaman bagi bayi yang akan dilahirkan oleh sang ibu. Sehingga nantinya semua orang di dunia ini akan mampu merasakan sebuah pengalaman batin dan kekhawatiran yang sama di dalam sebuah lingkungan yang sama. Seperti sebuah karakter dalam sebuah suku cukup dapat dilihat dari seorang individu anggota suku tersebut.

Itulah bentuk fantasi dan logikaku, jangan anggap serius. Silahkan ambil hikmahnya jika memang ada. Sekali lagi, tulisanku tersebut tidak berdasarkan teori apapun dan sangat mampu dipatahkan. Berfantasilah setinggi langit, karena semua hal yang baru juga berawal dari fantasi.

Surabaya, 31 Agustus 2016