Sebuah Pengantar — Aku

Aku ingin menuliskan sebuah pengantar tentang renungan panjang yang kurang lebih sering membayangiku beberapa tahun belakangan ini. Berlatar pada kegelisahan dan kesulitan tidur. Kemudian perlahan menjelma menjadi bahan pertanyaan yang berkunang-kunang di dalam kepalaku. Dan semua perenungan itu kemudian aku pahami hulunya. Semua berawal dari satu kata yang begitu ramah di telinga setiap manusia. Semua berawal dari sana, dari Aku.

Aku, sebuah kata yang menandakan subjek pertama pada seseorang, atau mungkin pada individu makhluk. Eksistensialisme menjadikan subjek yang satu ini menjadi sangat berharga. Ketika semua poros kehidupan yang dipandang oleh seorang individu menjadikan Aku sebagai pusatnya. Semua mengitari seakan-akan takdir ya cuma soal Aku. Sedangkan yang lain cuma menumpang hidup dalam semesta ini. Dan Aku tetap eksis berada pada porosnya.

Hebatnya lagi ketika Aku menjelma menjadi sifat egois yang kemudian menjadikan lingkungan hanya sebuah pelengkap pada tataran kehidupan yang begitu luas dan kompleks. Tidak lagi memberi celah hidup dan gerak pada Aku-Aku lainnya. Penjelmaan status Aku yang kemudian membesar dan membenarkan segala sesuatu pada dirinya kemudian justru mempersempit semestanya sendiri.

Tidak kalah hebat, ketika Aku-Aku yang masih memendam egoisme pada pribadinya tersebut belum siap pada tataran yang lebih kompleks kemudian menceburkan diri pada tataran Kita yang melibatkan beberapa individu lain dalam ruang geraknya. Bagiku pribadi, menjadi Kita adalah sesuatu yang baik, namun apabila sifat keegoisan dengan tidak dapat menerima pribadi lainnya justru akan menjadikan Kita sebagai parasit dan bom waktu yang siap meledakkan diri dengan kekuatan lebih dahsyat daripada harus meledak secara sendiri-sendiri sebagai Aku.

Beranjak dari sana, kemudian aku mencoba berpikir apakah seseorang harus siap terlebih dahulu terhadap ego-nya untuk menuju tataran masyarakat yang lebih luas, atau harus menunggu waktu yang tepat untuk menerjunkan diri pada masyarakat tersebut. Sebagai contoh sederhana, beberapa orang yang aku lihat berada dalam tataran masyarakat namun masih merasa egois pada kepentingannya sendiri akhirnya berhasil menjadikan masyarakat di sekitarnya hanya sebagai alat pemuas kebutuhan pribadi yang tidak terbatas. Tentunya dengan mengatasnamakan kolektivitas untuk mencapai tujuan bersama yang sebenarnya tidak jauh dari Aku.

Sedangkan di sisi lain, ketika Aku tidak segera menerjunkan diri pada tataran masyarakat yang lebih luas maka hanya akan menumbuhkan kepribadian yang semakin individualis dan berkutat dengan egoisme-nya. Aku pribadi merasa bahwa kedua hal tersebut adalah sebuah ironi yang mesti diterima konsekuensinya. Maka tidak lain dengan pemenuhan hasrat pribadi yang selalu menggebu harus tercukupi terlebih dahulu pada tataran individu sebelum menerjunkan diri pada tataran masyarakat yang lebih luas. Salah satunya dengan pendidikan. Pekerjaan mendidik seharusnya tidak berorientasi pada hasil. Bagaimana pun, apabila orientasi pendidikan adalah hasil, maka naluri seseorang akan ingin menjadi lebih dan lebih sehingga menjadikan seorang individu tidak memiliki batas keberhasilan yang diinginkannya. Aku teringat pada sebuah buku yang bercerita tentang seorang pangeran Jawa dari Mataram. Nama pangeran tersebut adalah Raden Mas Said atau pangeran Sambernyawa. Pangeran tersebut berguru dan mengejar ilmu untuk membersihkan nama ayahnya dari tuduhan berkhianat kepada pemerintahan. Ketika selesai pendidikannya (ilmu batin dan fisik), kemudian dia mencoba untuk menduduki jabatan Senopati Agung di kerajaan Mataram, atau sekarang lebih dikenal dengan Komandan Tertinggi Tentara. Aku rasa bukan hal sulit bagi pangeran Sambernyawa untuk merebut kekuasaan raja Mataram sebagai seorang raja daripada sekedar Senopati, yang ketika itu Sambernyawa memiliki ilmu sangat tinggi. Namun karena batasan tujuan dari dirinya untuk membersihkan nama sang Ayah dan menjadi Senopati, maka sampai akhir gelar itulah yang dikejarnya. Aku rasa di sanalah letak nilai termurni dari seorang individu Aku dalam menerjunkan diri pada tataran masyarakat. Sosok yang mampu menjaga egoisme dan nafsu pencapaian hidupnya. Dari sanalah seseorang akan mampu merasakan bahwa setiap mereka yang terlahir akan memiliki nilai takdirnya sendiri. Karena takdir setiap orang sama berharganya satu sama lain, baik itu prajurit biasa maupun raja memiliki nilai takdir yang sama. Sehingga rasa menghargai antar individu akan mudah tercipta.

Menghargai bukan soal memberikan pujian atau tidak menghina orang lain. Namun menerima posisi dan takdir seseorang dengan lebih terbuka. Walaupun berada di atasnya maupun di bawahnya. Ketika pengabdian hidup setiap individu Aku lebih berharga, maka tataran kolektivitas yang selalu didambakan akan mampu terbentuk. Bukan berarti tanpa celah, tapi jelas akan lebih baik daripada ketika seseorang kemudian harus berpijak pada egoisme Aku dalam dirinya masing-masing. Tentu tataran kehidupan seperti itu akan selalu kita rindukan bersama, dunia tanpa penindasan dan penjajahan. Dunia yang bebas terhadap kehidupannya masing-masing namun berada pada satu poros kolektivitas yang harmonis.

Surabaya, 12 Okt 2016

©Aldi TY

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.