Semesta

Wahai kasih, pernahkah kau berpikir bahwa kau adalah segala kemungkinan yang selalu aku bayangkan. Kau adalah segala kepedihan yang selalu mampu aku nikmati dalam sepi. Kau adalah poros semestaku yang selalu berguncang ketika malam tidak hadir membawa bintang dan rembulan. Ketika kau hilang, maka aku tidak lagi punya arti dalam tataran galaksi ini. Semua hilang dan lenyap tanpa membawa jejak syahdu yang selalu kau tinggalkan. Kau adalah satu dari sekian juta miliar partikel yang berterbangan di jagat raya, dan anehnya aku selalu bisa melihatmu. Tak tahu mengapa bahasa sukmaku selalu membawaku pada tempatmu berada. Pada sebuah sudut kecil di antara langit malam yang beranjak hilang tertiup fajar. Kau ada disana, aku melihatmu, kemudian tak sengaja kau tersenyum malu. Wajahmu memerah hendak meledakan alam semesta ini, bagiku tak jadi soal. Berlebihan kah aku selalu ingin memujimu. Hiperbola kah aku ketika berbisik di daun telingamu, bahwa “semesta telah hancur dan berganti denganmu sejak kau duduk disampingku malam ini”

Surabaya, 21 Nopember 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.