Untitled
Suatu ketika aku pernah terbangun di sebuah malam yang tidak cukup gelap. Berteman dengan rembulan yang bersembunyi malu di balik awan mendung yang menutupi jutaan bintang di angkasa. Terbayang semua kesan masa lalu yang begitu membahagiakan dan menggairahkan. Soal kenangan manis yang terukir mesra antara aku dan pahlawan itu. Pahlawan yang kini telah menua dan lemah. Sementara aku semakin kekanak-kanakan tiap harinya. Apa yang salah? Aku pun tidak mengerti. Aku rasa memang terlalu bodoh untuk mengerti.
Selalu terbayang ketika hamparan sawah perkotaan di pagi hari yang begitu hijau, kalau beruntung bahkan aku dapat melihatnya menguning. Kini, mozaik memori itu mulai hilang tergerus oleh kapital-kapital gedung dan perumahan yang kian lama kian menjadi monster raksasa. Hilir angin di hamparan sawah yang selalu aku rindukan bersamamu. Harum tanah yang tidak pernah terkalahkan bahkan oleh parfum perancis nona-nona di tepi jalan. Semua masih sangat kurindukan. Bahkan ketika malam tidak lagi sama seperti dulu. Saat bintang menghilang dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Sama pula kerinduan itu saat aku benar-benar ingin kembali ke dalam memori masa kecilku. Aku tidak masalah sekalipun terjebak dalam memori itu. Hilang bersama dalam dunia paralel yang selalu aku rindukan. Hilang, ya menghilang dan tidak berharap seorang pun dapat menemukanku disana. Di dalam memori kecil bersama seorang pahlawanku yang menua.
Tidak jarang ingatan itu pula yang mampu membawaku kembali di saat aku mengerti lengketnya keringat di tubuh yang masih kokoh itu. Bertarung dengan waktu dan kepedihan dunia. Tubuh yang selalu berjuang untuk orang-orang yang dicintainya. Tubuh yang tidak mau goyah oleh gempuran jamannya. Begitu tulus tersabet oleh kokang-kokang senjata peradaban yang mulai berubah dan semakin beringas saja setiap harinya. Aku bersamanya menemaninya, tentu dalam arena bermainku. Lagi-lagi dalam kebodohanku. Tapi, kebodohan yang ini adalah kebodohan yang indah. Kebodohan dimana aku tidak pernah merasa bodoh untuk tetap hidup. Kebodohan yang tidak pernah ada sesal di dalamnya. Kebodohan yang hanya ada canda tawa tanpa mengerti untuk apa kebodohanku sendiri harus dipikirkan. Tapi semua berubah seiring waktu tetap berjalan maju. Dan kini kematian jiwaku telah melampaui umur fisikku yang lebih muda darimu, pahlawan.
Kemudian aku berjalan pelan mengarungi alam bawah sadarku malam ini. Ditemani sebatang rokok yang semakin lama semakin memuakkan. Semakin lama semakin memalukan saja. Bisa apa aku ini dibandingkan kau yang telah lebih dulu menjadi pahlawan peradabanmu. Kau terlahir dengan begitu sempurna akal dan jiwanya. Sementara aku tumbuh menjadi pribadi cacat dan terkurung. Seperti burung elang yang telah rontok bulunya dan patah cakar serta paruhnya. Begitupun, aku masih di dalam sangkar meminta belas kasihan jerih payahmu. Burung yang sepertinya tidak akan lagi mampu terbang mengangkasa. Kini elangmu telah berubah menjadi burung gereja kecil yang hanya bisa bernyanyi tanpa arah, itupun masih parau bunyinya. Dan semua akhirnya kembali pada waktu-waktu yang kurindukan itu. Tidak lagi mampu kembali pada kenyataan di balik kesadaran yang perlahan selalu ingin kulenyapkan.
Tidak kalah manis kenangan itu dengan gula-gula yang dulu selalu kau larang. Sampai akhirnya aku temukan benda yang tak kalah manisnya dengan gula-gula itu. Kapital-kapital raksasa telah membuat semuanya menjadi lebih mudah di jamanku. Tidak seperti di jamanmu dahulu. Yang semuanya penuh dengan keringat perjuangan. Tapi, apa kau tahu. Kini jamanku hanya menjadi tikus kecil yang siap diracun dan dibuang menjadi mayat hina di tengah jalan. Beberapa yang beruntung kemudian berubah menjadi kucing yang mengejar para tikus itu dan menyayatnya menjadi 2 bagian. Semuanya, kau tahu semuanya seperti itu sekarang. Dan dimana aku kemudian di antara pertarungan itu? Aku hanya bernyanyi parau di kandangku. Kandang yang kau ciptakan sempurna tanpa celah.
Aku tak pernah sangsi dengan kemegahanmu. Kau tetap agung dan abadi dalam kehebatan. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku untuk menyalahkanmu. Karena pada awalnya aku lah yang memulai tragediku. Aku lah yang menghancurkan sayap, cakar, dan paruhku. Meringis dalam pembenaran dan nyanyian yang semakin hari semakin sunyi saja. Pikiran dan jiwa yang semula besar perlahan meredup. Kosong. Sama seperti kandang besar ini, kosong.
Akan aku katakan kehebatan pikiranku untuk kembali mengenang kemegahan dan penderitaan itu. Dua sifat yang tercipta bagai dikotomi yang semakin hari semakin dapat kita tertawakan bersama tiap pagi maupun malam. Semua waktu kini menjadi milik kita. Tidak terkecuali pikiranku. Hanya itu yang akan tersisa kelak. Sebuah kenangan manis dengan dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Dan ketika hujan malam ini berhenti, aku hanya takut semua dimensi itu menghilang. Kemudian aku tidak pernah tahu berada dimana lagi, bahkan di dalam alam bawah sadarku sekalipun.
Surabaya, 11 Okt 2016