Hikayat Tuan Natsir

Tuan, pada berkali masa kita pernah berjumpa. Meriwayatkan alasan-alasan resah tentang murid-muridmu yang tak pernah usai mengeja sejarah. Melipat kemenangan pada senarai waktu dimana kata dan kita sama-sama berjumpa membariskan isyarat di ujung gelanggang. Menanti kabar emas tentang kisah satu abad kapal yang dulu pernah kau layarkan untuk menggenapi usia umat yang selalu kalah dari apa-apa yang membuatnya menjauh.

Tuan, kami murid-muridmu yang senantiasa setia mendaras setiap kenangan dan ingatan tentang apa yang kau lakukan demi perbaikan umat. Menunggu di garis terdepan ketika kata-kata kami buncah dan lesap menjadi semacam pengingat zaman. Merekam beragam tindak dimana kemenangan adalah kabar yang selalu diperjuangkan para pemberani. Berbuat demi tegaknya kemuliaan ketika akhir-akhir ini kami mulai disudutkan. Lantas terjerembab pada aneka kenangan usang tentang menjadi bahagia di hari kemudian.

Tuan, tentu satu abad bukanlah usia singkat. Seperti padi, ia selalu merunduk. Sementara dada kami seringkali pongah tak beraturan menyaksikan beragam catatan merah yang ditinggalkan dalam raport kami. Ah, adakah kami mampu menelusuri jejak baikmu. Berbakti kepada umat dengan cara yang selalu membuat kami cemburu kepadamu. Tuan, kami generasimu. Kami penerusmu yang seringkali lupa bagaimana cara meneruskan perjuanganmu.

2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Aldy Wiguna’s story.