menulis puisi, merekam ingatan

Perempuan Yang Menghitung Kematiannya

Pernah aku mendengar kisah tentang seorang perempuan yang menghitung detik kepergiannya. Melewati jam-jam sedih diantara tiang pancang yang mendaras doa-doa tentang nisan dan pekuburan yang gagal disiapkan. Lalu kita merapal mantra-mantra sederhana, berharap pada berkali masa kita akan sama-sama menumbuhkan ingatan tentang bunga yang ditabur di depan pekarangan rumah. Mengitari iring-iringan keranda yang membawa tubuhmu pulang menuju tempat muasal. Berjalan pada pepohonan yang menunduk sedih sedangkan mendung baru saja berangkat menarasikan doa di setiap kepal ingatan pada detak-detik waktu yang masih basah di kepalamu. Adakah rindu yang mengantar kita untuk lebih dekat pada hitungan kematian sementara waktu tak mau berhenti ?

2016

Gagal Berhitung

Di tepi pantai, kita pernah menenun masa. Mendekat dalam doa-doa sederhana tentang pulang yang tak pernah diakhirkan. Berharap pada detak-detik masa kita bisa membedakan mana kuasa dna tualang. Lalu berjanji untuk tetap mengakrabi istana bersebab siasat yang menjadi lain di depan mata kita. Menunggu kabar tentang seorang petualang yang gagal menghitung seberapa jauh jejak kakinya untuk kembali menuju rumah tempat pertama ia dilahirkan. Lalu meringkas masing-masing masa pada beberapa doa tentang meringkas keadaban yang lagi-lagi gagal kita hitung bersebab jarak yang tak pernah mau mendekat. Lalu menulis gemuruh cemburu dalam doa-doa yang kembali seperti ombak dan ingatan yang mencumbu ombak di ujung malam.

2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Aldy Wiguna’s story.