Jangan Binasakan Sumber Berbagai Kehidupan

Kebakaran Hutan dan Lahan Palangka Raya tahun 2015
Kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah terjadi pada tahun 2015. Media mengungkapkan berbagai fakta atas kejadian tersebut, mulai dari penyebab kebakaran oleh perusahaan, jumlah luas kebakaran, jumlah korban, jumlah kerugian hingga peran organisasi dan pemerintah dalam menanggulanginya.

Sumber foto: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151026_indonesia_kabutasap

Kebakaran pada tahun 2015 melanda 2 juta hektar hutan dan lahan. Angka tersebut sama halnya dengan 32 kali luas Jakarta. Lebih dari setengah lahan yang terbakar merupakan lahan gambut.

#PantauGambut juga melansir data kebakaran tahun 2015 silam, yang mana data tersebut menunjukkan angka 52 persen kebakaran terjadi di lahan gambut. Lahan gambut merupakan hamparan yang terbentuk dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Dampak Kebakaran tahun 2015

Sumber gambar: Pantau Gambut via pantaugambut.id

Gambar di atas memperlihatkan berbagai dampak yang dialami Indonesia atas kebakaran hutan dan lahan di tahun 2015. 120.000 penduduk terserang penyakit pernapasan, anak-anak tidak bisa sekolah karena ditutup, jaringan transportasi juga dihentikan, negara merugi 220 triliun rupiah, lepasnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK), hingga punahnya flora dan fauna yang dilindungi.

Dari itu semua, dampak lingkungan adalah hal paling fundamental yang berpengaruh besar terhadap banyak kehidupan.

Menurut Prof Tukirin, seorang pakar biologi tumbuhan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kebakaran hutan dan lahan tersebut mematikan hampir seluruh pepohonan penyusun hutan dan jenis flora primer lebih dari 80 persen. Selain itu, Indonesia juga mengalami kerugian kehilangan satwa yang dilindungi.

Menurut Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) ada sekitar 35.000 orangutan di Kalimantan Tengah pada tahun 2008. Akan tetapi, karena kebakaran tersebut populasi orang utan juga semakin berkurang. Angka pasti belum dikeluarkan, namun 14 orangutan diselamatkan atas kebakaran tersebut.

Sumber foto: International Animal Rescue melalui http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151102_trensosial_orangutan_kebakaranutan

Indonesia adalah Rumah 
Indonesia memiliki luas wilayah daratan seluas 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2. Dengan data tersebut, Indonesia ternyata memiliki luas lahan gambut sekitar 14,9 juta hektar. Meski terdapat banyak penyebab Indonesia didefinisikan sebagai “rumah” bagi segala kehidupan, lahan gambut merupakan salah satu di antaranya.

Sumber foto: Greenpeace

Lahan gambut tersebar luas di Indonesia, salah satunya di Kalimantan Tengah. Menurut data dari pemerintah, Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut seluas 3,4 juta hektar atau sekitar 21,98 persen dari total luas wilayah Kalimantan Tengah.

Dari jutaan luas lahan gambut di Indonesia, hal yang paling pasti dapat kita temukan kebaikannya adalah bahwa gambut yang luasnya hanya 3 persen dari total daratan di dunia mampu menyimpan hingga 75 persen karbon di atmosfer. Maka dari itulah, Indonesia menjadi rumah bagi gambut tropis terluas di dunia yang menjadi sumber berbagai kehidupan.

Sumber foto: http://www.pembibitan.net/2016/11/kayu-jelutung-tanaman-khas-rawa-gambut.html

Manfaat Lahan Gambut bagi Pelestarian Flora dan Fauna
Kehidupan yang ditopang oleh lahan gambut adalah flora dan fauna. Tutupan lahan gambut terdiri dari hutan primer, sekunder, Hutan Tanamanan Industri (HTI), perkebunan dan lahan yang terlantar. Secara alami, tutupan lahan gambut (primer) terdiri dari berbagai flora, seperti ramin, jelutung rawa, meranti lilin, resak paya, meranti kait, meranti alan, mersawa, meranti sabut, bakau, kempas, kantung semar dan lain lain.

Akan tetapi, tanaman primer dapat punah akibat pembakaran dan juga beralihfungsinya lahan gambut menjadi perkebunan. Tentu flora-flora di atas memiliki kegunaannya masing-masing yang penting dan berpengaruh bagi berbagai kehidupan. Di antaranya adalah menyelamatkan kualitas tanah, menjaga persediaan air, dan menjadi pelindung fauna terestrial dan akuatik yang dilindungi dan hampir punah.

Catatan dari fauna di lahan gambut meliputi fauna terestrial dan fauna akuatik. Menurut World Wildlife Fund (WWF) melalui Centre for International Forestry Research (CIFOR) pada tahun 2009, terdapat 35 spesies mamalia, 150 spesies burung (termasuk ibis karau), dan 34 spesies ikan. Beberapa di antaranya dilindungi, yakni burung enggang hitam, rangkong, buaya sinyulong, orang utan, harimau sumatera, langur dan beruang madu.

Sumber foto ibis karau: Jonathan C Eames

Burung ibis karau adalah burung yang tergolong dilindungi. Bahkan Badan Konservasi Dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status ibis karau menjadi kritis. Salah satu penyebab yang pasti adalah berkurangnya lahan basah seperti lahan gambut di Indonesia. Menurut salah satu penggiat konservasi burung, populasinya kian menurun, pada tahun 2014 hanya ada 30–100 burung. Angka pasti pasca kebakaran hutan dan lahan belum lagi dikeluarkan.

Dari itu semua, keberadaan lahan gambut yang sehat dapat mendukung keanekaragaman hayati yang bersifat ekologis. Salah satunya adalah mampu mendukung restorasi lahan gambut. Menurut data yang dikeluarkan oleh CIFOR, tumbuhan yang pada dasarnya digunakan untuk merestorasi lahan gambut salah satunya dalah jelutung rawa atau nama ilmiahnya adalah Dyera Iowii yang juga dikatakan terancam pertumbuhannya.

Maka dari itulah, dengan menjaga lahan gambut, sama saja kita telah berkontribusi untuk melestarikan berbagai flora dan fauna yang hampir punah dan hanya mampu hidup di lahan yang basah, dalam konteks ini adalah lahan gambut.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Alecia Firnanda’s story.