Pengalaman Tak Tergantikan di Lahan Gambut

“Kami Masih Punya Harapan!”

Kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada tahun 2015 memang menyita perhatian publik. Termasuk saya dan kawan-kawan pemerhati lingkungan, KHATULISTIWA Universitas Paramadina. Kebakaran tersebut membuat kami gerah, pasalnya terdapat daftar perusahaan yang diduga (saat itu) menjadi dalang atas kebakaran yang terjadi.

Parah bukan main, sejumlah media menangkap gambar udara yang sudah menguning. Jelas, Indonesia berduka saat itu. Kami berpikir, lantas, apa yang dapat kami lakukan sebagai mahasiswa dan anggota organisasi yang bergerak di bidang lingkungan? Akhirnya kami membentuk dua gerakan, terdiri dari gerakan darurat, dan gerakan revitalisasi lahan. Untuk itu, saya akan membagi pengalaman saya dan kawan-kawan selama melakukan gerakan revitalisasi lahan gambut.

Sumber foto: KHATULISTIWA; Oleh: Fikri Hemas Pratama

Pantau Gambut mendefinisikan lahan gambut sebagai hamparan yang terbentuk dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Lahan gambut memiliki berbagai fungsi, seperti fungsi ekologis dan ekonomis. Pada dasarnya, lahan gambut dapat menolong kita dari banjir. Banjir adalah masalah yang paling mudah kita temui di Indonesia. Lahan gambut mampu menyerap air saat curah hujan tinggi, dan juga mengeluarkan cadangan air saat kemarau.

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional yang mempelajari isu global, yang paling membuat saya tertarik adalah ternyata, lahan gambut merupakan salah satu jawaban yang paling pasti untuk menanggulangi masalah ketidakstabilan iklim. Bahkan, lahan gambut di Indonesia mampu menyimpan karbon yang tinggi, diperkirakan mencapai 22,5–43,5 gigaton karbon.

Dengan kejadian kebakaran yang membakar kebaikan lahan gambut, kami memutuskan untuk melakukan riset dan revitalisasi lahan gambut yang berlangsung dari tanggal 24–29 Februari 2015.

Pencinta Alam dan Pemerhati Lingkungan Bersinergi
Tidak dapat dipungkiri bahwa gambaran yang paling melekat dengan pencinta alam adalah soal mendaki gunung, dan ekspedisi sejenisnya. Namun sebenarnya, terdapat banyak pula pencinta alam yang turut melibatkan organisasinya ke bidang lingkungan, seperti gerakan revitalisasi ini. Bermodal gerakan darurat dan seorang teman yang memiliki keluarga di Palangka Raya, saya dan kawan-kawan dari KHATULISTIWA Universitas Paramadina membentuk tim riset untuk mempertemukan para pencinta alam dari Universitas Palangkaraya dan berbagi pengalaman soal gerakan revitalisasi.

Saat itu, posisi saya adalah kepala tim hubungan masyarakat untuk menghubungi para pencita alam dan komunitas lain yang bergabung di dalam gerakan ini. Terdapat sekitar 23 pihak yang terdiri dari organisasi pencinta alam, media mahasiswa independen, Angkatan Darat, hingga pemerintah daerah yang ikut menanam 3600 bibit pohon di dua kawasan terbakar, yakni kawasan Tumbang Nusa km 27 dan lereng selatan Bukit Tangkiling

Kita semua tidak dibayar oleh pihak manapun. Semangat dan optimisme kita terpantik secara bersama-sama untuk mencurahkan perhatian yang lebih ke lahan gambut di Palangka Raya.

Hari-hariku di lahan gambut
Jujur, ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki ke Palangka Raya, secara khusus ke lahan gambut. Saya memang tidak terlalu memusingkan pakaian apa yang akan dipakai. Apa adanya, saya menggunakan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) organisasi saya, celana training berbahan bludru, dan sepatu.

Namun, saat berada di lahan gambut, saya tentu melepas alas kaki. Kedalaman lahan gambut, tekstur lahan yang berlumpur, sangat menyulitkan saya yang menggunakan celana panjang.

Kedalaman lahan gambut bisa mencapai 1–20 meter. Data tersebut didapatkan dari Wetlands.org dan informasi dari kawan-kawan di Palangka Raya dan juga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Maka sangat saya sarankan bagi yang tidak berhijab untuk menggunakan pakaian yang aman, nyaman dan leluasa untuk bergerak. Perhatikan pula bagi yang memiliki kulit sangat sensitif, karena lahan gambut memiliki tingkat kemasaman tanah, yang mungkin tidak bersahabat dengan kulit kalian.

Saya menanam kurang lebih 10–15 bibit sengon di lahan gambut, kawan-kawan yang lain bisa lebih dari itu. Menurut pemerintah daerah, sengon memiliki nilai ekologis dan ekonomis bagi masyarakat setempat yang tidak merusak lahan gambut. Karena sebelumnya sudah melakukan riset dan berbagi informasi, ada hal-hal penting dalam menanam bibit. Hal tersebut merupakan hal baru yang saya dapatkan.

Untuk menanam bibit sengon, kita harus mengetahui beberapa hal, seperti tinggi permukaan, tingkat kemasaman tanah, dan persentase kelembaban udara. Sengon akan lebih baik apabila ditanam 0–800 di atas permukaan laut, ditambah tingkat kemasaman tanah, yakni sekitar 6–7 PH. Akan lebih baik lagi apabila cuaca mendukung yang mana memberikan kelembaban udara sekitar 50 persen.

Hal penting juga yang harus diperhatikan adalah jarak antar tanaman minimal 2–5 meter. Karena belum terbiasa dalam mengukur jarak, berbeda yang sudah terbiasa seperti kawan-kawan dari Palangka Raya, saya beberapa kali salah dalam menghitung jarak.

Pelajaran penting dan pengalaman tidak ternilai
Saya termasuk yang menemukan banyak kesulitan dalam proses penanaman bibit untuk revitalisasi lahan gambut. Dengan kedalaman yang memang tidak bisa saya prediksi, saya sering kali terjatuh hingga tanah menutupi pinggang saya. Akan tetapi, teman dan pengalaman baru yang saya dapatkan saat itu tidak ternilai dan tergantikan.

Semangat yang tinggi dari para mahasiswa, media, pemerintah, Angkatan Darat, dan siswa-siswa membuat saya yakin bahwa harapan yang baik untuk bumi itu ada. Bahkan lebih dari sekedar harapan, apabila seluruh elemen masyarakat bersatu — bersinergi. Memantau gambut bukan hanya tugas dari lembaga riset dan LSM, ini tugas kita semua. Keterlibatan mahasiswa khususnya dalam memantau gambut sangat penting. Semangat yang sedang terpantik, harus disalurkan, nantinya mereka yang akan menanam lebih banyak “bibit-bibit” pemantau gambut di masa depan.

Salam lestari,

Alecia.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.