Dampak Besar Pandemi Corona Pada Industri Wisata

Akhir bulan Maret kemaren, seorang kawan di ibu kota bertanya pada saya: kapan kira-kira virus ini akan berakhir dan seberapa besar dampaknya pada bisnis wisata.

Yang pertama, tidak ada yang tau persis kapan pandemi corona ini akan benar-benar berakhir. Tidak mungkin kita akan terus-terusan WFH dan social distancing seperti sekarang ini. Paling lama mungkin bertahan 2–3 bulan.

Menurut beberapa prediksi, puncak pandemi corona di Indonesia akan berakhir pada Mei atau Juni. Tapi ini sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu kebijakan pemerintah dan sikap kita menghadapi corona itu sendiri.

Bagaimana bila prediksi itu meleset dan corona tetap menyebar? Mungkinkah kita akan menghadapinya dengan “frontal”? Bekerja dan beraktivitas seperti biasa dan biarkan hukum alam bekerja. Syukur-syukur sudah ditemukan vaksin dan bisa diproduksi massal.

Lalu seberapa besar dampaknya ke bisnis wisata? Sangat besar. Amat sangat besar.

Pariwisata menjadi sektor paling terpuruk karena dampak virus corona ini. Sampai akhir Februari lalu total kerugian dari seluruh perusahaan agen travel di Indonesia mencapai Rp 4 triliun dengan penjualan turun drastis mencapai 94 persen.

Pandemi corona membuat orang tidak bisa bepergian. Banyak negara lockdown dan menutup pintu untuk warga asing. Maskapai grounded. Tempat wisata ditutup. Lalu apa yang bisa dijual?

Terlebih kejadian ini bertepatan dengan periode peak season bulan Maret-April yang berlanjut pada musim libur sekolah dan Lebaran.

Demikian juga sektor perhotelan. Tercatat ada sekitar 698 hotel di seluruh Indonesia yang tutup sementara operasionalnya. Sebagian besar karyawan hotel diminta mengambil cuti tanpa bayaran atau unpaid leave.

Dampak ini sangat terasa di kawasan destinsi wisata seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo, Yogyakarta, Jakarta, Manado, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Beberapa hotel dan resort di Bali bahkan menawarkan diskon ekstrem di tengah sepinya tamu saat ini.

Salah satu hotel di Kuta menawarkan harga Rp 3 juta saja untuk menginap selama satu bulan penuh. Hotel di Canggu juga menawarkan diskon self-quarantine Rp 8 juta untuk sebulan beserta beberapa fasilitas di dalamnya.

Hampir semua industri menghadapi masa sulit saat situasi wabah virus corona ini. Beberapa diantaranya terancam tutup dan mengakibatkan PHK massal. Tingkat konsumsi masyarakat pun turun drastis.

Lantas apa yang akan terjadi setelah corona ini pergi?

Melihat fenomena yang ada saat ini, saya agak skeptis dengan timeline dari peneliti UI di atas. Pemerintah kurang tegas, langkah yang dilakukan kurang optimal, sementara kita sendiri seperti setengah hati melakukan physical distancing. Semua faktor negatif berkumpul ibarat gunung es yang membuat penanganan corona di negeri ini begitu pelik.

Baiklah kita coba positive thinking. Taruhlah corona ini mulai berhenti pada awal Mei, lalu ditambah momen Lebaran. Kehidupan sehari-hari mungkin “sudah normal kembali” pada awal Juni. Lalu kita asumsikan Juni dan Juli adalah masa recovery.

Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi kita diprediksi hanya 2,1 persen. Bila recovery berjalan lambat, ekspektasi pertumbuhan ekonomi akan negatif (lower case asumption) dan efeknya akan terasa sampai tahun depan.

Asumsi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 untuk negara-negara Asia Pasifik menurut World Bank bisa kita lihat pada grafik dari @BigAlphaID.

Indonesia dan Thailand paling terdampak karena ketergantungan yang begitu besar pada industri pariwisata dan turunannya. Sementara Kamboja dan Vietnam paling kuat bertahan karena sektor andalan mereka adalah garmen, beras, dan manufaktur.

Dengan asumsi tersebut, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh tak sampai setengahnya sepanjang tahun 2020. Hal ini akan mempengaruhi perilaku konsumsi atau spending, baik perusahaan maupun individu.

Orang akan semakin mengencangkan ikat pinggangnya sepanjang tahun ini. Spending yang tidak mendesak akan disisihkan. Orang akan lebih memilih saving dan invest. Imbasnya pun, lagi-lagi, akan berdampak ke industri pariwisata, hotel, dan perjalanan.

Adanya incentive group maupun perorangan dan musim pameran atau travel fair mungkin akan sedikit membantu, termasuk pasar wisata domestik Indonesia yang besar. Tapi hal itu mungkin tak cukup atau sudah terlambat untuk menutup keterpurukan yang sedang dan telah terjadi selama masa pandemi ini.

Travel writer. Menulis tentang destinasi wisata dan budaya di Indonesia dan Asia.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store