Tragedi Toba, Wajah Kusam Transportasi Air Indonesia

Lebaran lazimnya penuh suka cita, tapi tahun ini berubah menjadi duka. Lebih dari seratus orang diperkirakan tewas saat kapal tenggelam di Danau Toba. Doa bagi para korban dan duka cita untuk keluarga yang ditinggalkan.

Proses evakuasi kapal tenggelam di Danau Toba oleh Basarnas. (foto: Detik)

Basarnas melakukan pencarian 188 orang yang tenggelam. Angka ini bisa jadi masih bertambah karena tidak ada manifest sehingga tidak diketahui berapa jumlah orang yang ada di kapal pada saat musibah terjadi. Bayangkan kapal yang mestinya cuma muat 70 orang ternyata mengangkut hampir 200 orang, yang artinya kapal naas tersebut over kapasitas hampir tiga kali lipat.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, transportasi laut sudah jadi kehidupan sehari-hari bahkan sebelum Indonesia ada. Demikian pula dengan masalah yang dihadapi transportasi laut negeri ini. Danau Toba -meskipun bukan laut- adalah danau terdalam di dunia, kondisi yang bisa menjadi salah satu faktor sulitnya mencari korban tenggelam.

Tahun lalu saya terakhir kali menyeberang Danau Toba ke Pulau Samosir, semacam kapal ferry tapi hanya mengangkut orang. Ada dua lantai di kapal, lantai atas ada tempat karaoke dengan hiasan lampu di sekeliling kapal. Setidaknya begitulah kondisi kapal waktu itu. Saya tidak menghitung pasti jumlah kursinya, tapi kapal semacam ini mestinya bisa mengangkut 70-an orang.

Kapal-kapal lain yang sejenis terlihat hilir mudik mengangkut wisatawan menyeberang ke Samosir. Pulau di tengah Danau Toba ini luasnya hampir dua kali Singapura. Jadi bisa dibayangkan luasnya Danau Toba. Kapal-kapal wisata ini sepintas memang terlihat layak jalan. Suara musik yang cukup keras terdengar sahut menyahut, lampu kelap-kelip terlihat hampir di semua kapal meski suasana waktu itu belum terlalu gelap.

Untuk naik ke kapal ini kita hanya perlu bayar di loket. Kita juga bisa langsung bayar di atas kapal. Manifest? Tidak ada yang namanya manifest. Petugas hanya menghitung jumlah penumpang sesuai tumpukan lembaran uang yang diterimanya. Bagaimana dengan prosedur lain seperti life jacket? Saya hanya melihat tumpukan life jacket di sisi atas jendela. Entah berapa jumlahnya tak ada yang tahu, atau memang cuek, tak ada yang memperhatikan.

Saya bersyukur perjalanan ke Danau Toba saat itu berjalan lancar. Pekerjaan yang menuntut saya berpindah dari satu daerah ke daerah lain dan satu pulau ke pulau lain di Indonesia membuat saya sedikit banyak paham penyeberangan di Indonesia (laut, danau, sungai) entah itu kapal wisata, kapal ferry, atau perahu motor tradisional. Beberapa sudah ideal, tapi ada juga yang masih sangat sederhana dan ala kadarnya, yang penting bisa menyeberang, karena kita memang sudah terbiasa dengan kondisi ala kadarnya seperti itu.

Mau tidak mau, kita pasti menggunakan transportasi laut. Musibah Danau Toba ini menjadi kartu kuning untuk pemerintah yang sedang gencar membangun infrastruktur. Secara umum, kondisi transportasi laut akhir-akhir ini memang sudah banyak perbaikan dan peningkatan, seperti kondisi pelabuhan, terminal penumpang, dermaga, kapal-kapal express, Pelni, dan sebagainya.

Tapi tengoklah kapal-kapal tradisional di pulau-pulau yang kadang belum ada listrik dan sinyal, kapal-kapal tradisional yang dioperasikan orang per orang atau lembaga swasta, kapal-kapal nelayan pencari ikan yang dipaksa berubah fungsi menjadi kapal wisata. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah. Perlu pengawasan rutin, sudah waktunya standarisasi nasional -tak bisa instant memang, tapi bisa dilakukan bertahap, atau operasi rutin semacam Operasi Ketupat di darat. Tujuannya tentu agar tragedi Danau Toba ini menjadi yang terakhir di negara kepulauan surga wisata bahari ini.

Sambil merenungkan kembali musibah ini, ada baiknya perhatikan lagi hal-hal berikut ini sebelum naik kapal penyeberangan, kapal wisata, atau semacamnya.

  1. Pikir dua kali sebelum naik apabila kapal atau perahu terlihat kelebihan muatan.
  2. Perhatikan tingkah laku kapten dan crew kapal. Kalau terlihat “tidak biasa” seperti banyak bercanda, merokok di dekat mesin, atau minum-minuman keras, tak ada salahnya untuk pindah kapal.
  3. Lihat apakah ada life jacket di kapal. Apakah jumlahnya cukup untuk semua penumpang? Apa mudah dijangkau kalau terjadi situasi darurat? Beberapa kapal wisata mewajibkan seluruh penumpang memakai life jacket selama penyeberangan, bahkan bagi yang mahir berenang sekalipun.
  4. Pilih tempat duduk dekat pintu atau jendela. Pastikan pintu atau jendela bisa dibuka saat darurat.
  5. Gampang pusing, mual, dan mabuk laut? Pilih posisi tempat duduk paling belakang, terutama untuk kapal cepat.
  6. Kalo naik ferry, jangan berada di dalam kendaraan -atau berdiri dan duduk-duduk di dekat kendaraan selama penyeberangan. Hal ini untuk antisipasi proses evakuasi saat situasi darurat.
  7. Jujur saat melaporkan manifest. Beberapa lembar ratusan ribu hasil dari kecurangan manifest yang kamu lakukan -apabila memang terjadi- tidak sebanding dengan puluhan bahkan ratusan nyawa di atas kapal.
  8. Usahakan menyeberang pagi atau siang. Hindari sore dan malam karena ombak tinggi dan cuaca lebih sulit ditebak. Selain itu, evakuasi pada saat gelap juga lebih sulit dilakukan.
  9. Apabila terpaksa menyeberang saat cuaca buruk, gunakan insting dan pikiranmu. Lihat cuaca, lihat kapal. Apakah aman? Apa tetap bisa menyeberang? Hal ini bukan ilmu pasti, tapi setiap orang pasti punya common sense untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
  10. Taati setiap peraturan di kapal dan ikuti instruksi kapten atau crew kapal karena mereka lebih tahu kondisi kapal, cuaca, ombak, dan hal-hal lainnya selama penyeberangan.

Travel writer. Menulis tentang destinasi wisata dan budaya di Indonesia dan Asia.

Travel writer. Menulis tentang destinasi wisata dan budaya di Indonesia dan Asia.