Akyol dan Islam di Turki
Pelita, 17 Oktober 2014
Akyol dan Islam di Turki
(Bagian 1)

Belum lama ini kolomnis muda dan produktif Turki Mustafa Akyol menerbitkan buku yang bertema tentang Islam dan kebebasan. Judulnya “Islam without Extremes: A Muslim Case for Liberty” dan sudah ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Buku ini menarik karena tema yang diangkat cukup menantang, sekaligus actual untuk zaman kita. Yang menarik dari buku ini, menurut saya adalah justru sentuhan Akyol terhadap fenomena Islam Turki dewasa ini. Akyol berasal dari keluarga Muslim santri dan dididik mengaji oleh kakeknya, ketika Turki modern menggeliat. Sekulerisme dan pembaratan Turki yang terpraktikkan secara ketat, berkonsekuensi pada meredupnya tradisi Keislaman sehari-hari, kendatipun masih terpelihara adanya sekolah-sekolah agama formal (iman hatip school). Akyol tumbuh dalam tradisi sekulerisme dan keterbukaan, tetapi tak mengurangi minatnya pada agama.
Tampaknya tulisan ini akan panjang, dan sebut saja ini adalah bagian pertamanya. Ulasannya tidak bisa singkat, karena saya bermaksud mengajak untuk menimba pengalaman Islam Turki dari buku Akyol ini. Selanjutnya, mari kita simak uraian Akyol dalam bukunya itu: kehadiran Ottoman dari Bahasa Turki Osmanli atau “anak Usman”, yang kemudian mendirikan dinasti Usmaniyah yang fenomenal itu, menenukan jalannya ketika khalifah Abbasiyah di Baghdad hancur dan dunia Arab Timur Tengah sangat terpukul dengan kebrutalan Mongol. Orang-orang Turki, seperti orang-orang Arab gurun, merupakan pengembara dari wilayah gersang, yakni stepa. Karenanya, catat Akyol, mereka tidak memiliki budaya yang canggih untuk membawa inovasi ke agama baru mereka. Tetapi, tidak seperti orang Arab gurun yang membawa konservatisme dan fatalisme pra-Islam mereka ke dalam Islam, Turki nomaden mengalami kelahiran kembali yang radikal. Mereka benar-benar menyerahkan diri kepada agama baru mereka dan menenggelamkan identitas nasional mereka dalam Islam. Bahkan nama Turk muncul menjadi hampir sinonim dengan Muslim. Turki tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga ketrampilan militer dengan memperluas perbatasan dunia Islam dengan Barat, dengan rintisannya oleh Dinasti Seljuk pada abad kesebelas, baru kemudian Usmani.
Negara Usmani tumbuh pesat pasca-menguasai Konstantinopel pada 1453, dan di awal abad ke-16 menjadi kerajaan yang meluas dari Budapest ke Yaman, Aljazair hingga Basrah. Usmani menjadi adidaya pada masanya. Memang kemudian banyak yang sekadar mengeksploitasi kelemahan-kelemahan di senjakala kekuasaannya, tetapi sisi-sisi positifnya tertutupi. Sesungguhnya Usmani sejak awal mengembangkan praktik pluralisme yang luar biasa, apabila dibandingkan dengan kondisi Eropa ketika itu. Usmani, catat Akyol, bahkan lebih memberikan kenyamanan untuk orang-orang Yahudi pada saat mereka teraniaya di Eropa. Pada 1492, orang-orang Yahudi yang terusir dari Spanyol membanjir ke Turki dan disambut baik oleh Sultan Beyazid II.
Persentuhan dengan Barat memang kemudian memunculkan inovasi-inovasi, yang berpuncak pada apa yang dikenal dalam sejarah Turki Nicam-i Cedid (Orde Baru) semasa Sultan Selim III. Mahmud II, sultan berikutnya melanjutkannya dengan lebih intensif: mengembangkan tentara modern dan akomodatif terhadap sistem Eropa. Ia juga memperkenalkan konsep kesetaraan kewargaan bagi semua orang terlepas dari apapun agamanya. Fez, topi merah yang datar atasnya, diadopsi Mahmud II sebagai tutup kepala, menjadi simbol dari ekumenisme baru. Pada 1830, Mahmud II mengatakan, “Saya membedakan antara warga saya, Muslim di masjid, Kristen di gereja dan Yahudi di Sinagog, tetapi tidak ada perbedaan antara mereka dalam hal lainnya”.
Reformasi atau reorganisasi (tanzimat) kemudian dicetuskan. Lantas, di sanalah konstitusionalisme pertama kali diterapkan dengan memperoleh dukungan petinggi ulama. Kelas menengah dan intelijensia baru tumbuh di era tanzimat. Mereka inilah yang kemudian menjadi kekuatan yang turut membentuk karakter islam Turki, selain tradisi yang sudah dikenal melekat di sini yakni sufisme. Sufisme di Turki tentu tidak berdiri sendiri, tetapi juga diperkaya oleh tradisi di Persia dan Asia Tengah. Tradisi atau inovasi sufisme inilah yang membedakannya dengan pandangan kaum Wahabi di Arab. Sufisme lebih lentur ketimbang kekakuan Wahabi. Dan kelak, modernisasi Turki terus berjalan sedemikian rupa, di mana corak sufisme mempengaruhi karakter para tokoh politiknya, terutama yang bergulat dalam partai-partai Islam.
(M Alfan Alfian, FISIP Universitas Nasional, Jakarta)