Pola berfikir seorang founder startup

Jadi satu minggu yang lalu saya mengikuti rangkaian acara pertama program gerakan nasional 1000 startup digital di Jakarta bertempat di gedung auditorium Universitas Trisakti yang tombol lift nya sudah pudar. Dalam acara tersebut banyak pembicara dari startup Indonesia yang sudah terbilang unicorn hadir membawakan banyak materi mengenai pola pikir sebagai founder hingga membicarakan co-working spaces mulai dari founder-nya Tokopedia, HijUp, Go-jek, iGrow, UrbanHire dan masih banyak yang lainnya.
Acara ignition ini adalah tahap pertama dalam program 1000 startup digital yang bertujuan untuk merubah cara pandang dan pola pikir para calon startup founder. Saya banyak mendapatkan banyak hal-hal yang perlu di perhatikan dalam membangun startup, saya rangkum sesuai ingatan saya :
Semua berawal dari kegelisahan, kegalauan, dan permasalahan.
Teknologi memang bertujuan untuk mengatasi kalimat tersebut. Begitupun yang di katakan oleh Leontinus Alpha Edison sebagai co-founder Tokopedia. Disekitar beliau mendaptkan kegelisahan tentang pedagang dan calon pembeli yang sulit untuk memenuhi kebutuhan mereka. Timbulah challenge untuk menciptakan Tokopedia. Terciptanya Tokopedia memanglah bukan hal yang mudah, beliau menceritakan sulitnya dulu mencari karyawan yang mau bekerja di Tokopedia hingga Tokopedia sudah 500 karyawan pun challenge masih tetap ada seperti salah satu yang dia bilang CDN tiba-tiba down padahal CDN yang sama di gunakan oleh twitter.
Kadang saya lihat di instagram anak-anak patungan membeli pizza tanpa setau saya
Alamanda shatika vice president Go-jek berkata dia tidak di ajak atau tidak di beritahu oleh team nya yang patungan beli pizza. “Tapi tidak apa-apa saya senang, artinya team saya sudah terbentuk”. Ini adalah pembahasan yang menarik menurut saya. Gimanapun team adalah pondasi kuatnya sebuah startup. Memberdayakan team itu bukanlah sesuatu yang mudah. Makanya visi setiap individu yang tergabung harus disamakan dan tidak boleh ada yang menyimpang sedikitpun. Sebab dengan begitu akan ada rasa memiliki (self belonging) yang tumbuh. Para startup founder atau team harus memiliki rasa bekerja bukan buat pribadi, tetapi tentang apa yang harus di berikan kepada startup kamu demi untuk memudahkan permasalahan orang banyak. Apalagi jika team bukan hanya berkontribusi dalam tenaga dan pikiran tetapi juga di bawa dalam doa-doa setiap mereka beribadah untuk kelancaran startup nya. Karna katanya founder dan team akan pecah jika sudah berbeda pendapat mengenai permasalahan funding.
Jangan terlalu serius, santai aja banyakin piknik!
Lah iya, bener banget. Dina Kosasih co-founder Makedonia memberikan tips bahwa untuk mendapatkan ide atau permasalahan jangalah terlalu seruis, piknik sana!. Maksudnya piknik bukan berarti harus jauh keluar negeri. Cobalah keluar dari rutinitas, berjalan kaki, nongkrong di taman atau berkunjung ke tempat saudara di luar kota. Kamu akan mendapat inspirasi atau ide lebih mudah jika melakukan hal tersebut.
Jadi seorang founder jangan merasa paling tau tentang permasalan dan kebutuhan pengguna.
Ibu cantik Diajeng pendiri HijUp ini memberikan pencerahan juga kepada banyak peserta bahwa sebagai founder tidak boleh merasa paling tahu dan menguasai mengenai startup yang dibangun. Founder harus tetap membuka tanggapan dari target customer atau pengguna teknologi startup yang dibuat.
Bikin aja dulu, jangan mikirin dapet duit dari mana.
Banyak yang bilang kalau ingin membangun startup jangan mikirin dapet duitnya dari mana. Bikin dan jalani aja dulu. Hal ini agak sedikit menuai pro dan kontra. Tapi bagaimanapun jangan jadi penghalang buat berbisnis. Startup adalah bisnis yang dibuat dengan karya yang creative.
Percayalah bahwa kalau bisa bikin produk yang creative maka model bisnis yang unik juga bakal ketemu.
- Alfathony, calon founder kamu.
Demikian sedikit dari banyak hal-hal mengenai pola pikir founder untuk memulai dan membangun bisnis startup. Sayangnya karena metode pertanyaan kepada pembicara terbatas dan harus melalui twitter banyak persoalan yang belum terbahas tuntas seperti bagaimana cara dirilik investor, metode kerjasama dengan pihak ketiga, cara bertahan bootstaping dan mengatur skema management.
Jakarta 2016
Tulisan ini diikut sertakan dalam tahap kedua gerakan nasional 1000 startup digital Jakarta. Doakan lulus!