Bisnis Kematian Bernama Terorisme

Belum usai kita mengingat akan teror penyanderaan di Sydney,Australia.Kita kembali dikejutkan oleh serangan teror terhadap kantor berita Charlie Hebdo di Paris, Perancis pada pertengahan Januari ini. Serangan tersebut menunjukan bahwa terorisme masih merupakan momok yang menghantui kehidupan masyarakat dunia. Tentu aksi-aksi vandalisme tersebut memiliki efek buruk terhadap tatanan kehidupan masyarakat dunia, baik secara sosial-politis dan bahkan ekonomis

Terorisme itu sendiri bisa diartikan dari KBBI sebagai “penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dl usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik)”. Tujuan politik ini (baik secara ideologi, agama maupun golongan) seringkali menjadi justifikasi bagi para pelaku dan bahkan pengamat diluar untuk melakukan aksi terror. Hal tersebut seakan memberi kesan bahwa terorisme itu sendiri lekat akan suatu golongan tertentu yang berakibat pada aksi balasan pada golongan yang diasosiasikan dengan teror.

Padahal tahukah, bahwa sebenarnya yang menjadi dorongan utama terorisme tetap hidup secara terselubung bukanlah ideologi , melainkan faktor Ekonomi. Mengapa ekonomi? bukankah hampir setiap kelompok terorisme itu sendiri bergerak bedasarkan keyakinan politis dan ideologi? Memang benar bahwa gerakan aksi teror selalu didorong oleh keyakinan politis, namun urat nadi yang mendorong terorisme itu sendiri tetap hidup adalah kegiatan ekonomi

Bedasarkan penelitian yang dilakukan oleh wartawan dan akademisi Italia, Loretta Napoleotani. Perkembangan ekonomi dunia yang pesat menjadi pendorong utama mengapa terorisme muncul dan tetap hidup sampai sekarang, akibat oleh perkembangan ekonomi dunia yang pesat. Terorisme awalnya muncul karena persaingan antara negara superpower pada perang dingin yang memakai tangan terorisme sebagai alat (proxy) untuk melebarkan pengaruh politik, lalu berevolusi ketahap privatisasi, dimana organisasi teror mampu mendanai kegiatannya sendiri melalui jaringan donasi maupun perdagangan illegal (black market) sehingga mereka dapat melakukan aksi independen tanpa harus didanai negara sponsor seperti yang dilakukan oleh Al Qaeda. Lalu pada dekade 1990 sistem ekonomi dunia yang telah mengalami deregulasi yang mengakibatkan runtuhnya hambatan ekonomi antar negara ikut mendorong terorisme berkembang menjadi semakin besar. Dari tadinya hanya berkutat dalam satu kawasan saja, lalu bisa bergerak secara trans-nasional, aksi terorisme semakin besar dan semakin berbahaya karena memakan banyak korban. Dengan memaksimalkan rasa takut yang ditimbulkan, terorisme sekarang mampu berkembang dalam perekrutan (dimana mereka merekut orang yang rentan secara sosial) maupun intensitas aksinya

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana penanggulangan terorisme yang efektif? Karena seperti yang kita ketahui, terorisme telah menjadi semacam bisnis transnasional multi milyaran dolar yang mampu melancarkan serangan teror keberbagai belahan dunia. Mereka merekrut orang-orang yang mengalami hambatan secara sosial dikarenakan interaksi antar individu yang tidak terbuka.

Walaupun Enders dam Sandler(2002) menyatakan bahwa serangan terorisme itu secara statistik sangat jarang dibandingkan peristiwa-peristiwa lainnya. Namun rasa takut dan panik yang ditimbulkan mampu meningkatkan utilitas bagi teroris untuk kembali melancarkan serangannya. Bueno de Mesquita (2005) membuat model Game theory mengenai terorisme dan menunjukan bahwa rasa takut masyarakat dan respon pemerintah yang melakukan pengawasan berlebihan malah akan meningkatkan eskalasi konflik yang ditimbulkan oleh terorisme. Belum lagi informasi yang bias di masyarakat seakan menjadikan media promosi bagi terorisme

Perlu ada kebijakan yang mampu mendorong pilihan alternatif sehingga mereka yang rentan mengikuti terorisme dapat keluar dari kegiatan tersebut. Keterbukaan harus didorong sehingga timbul interaksi antara mereka yang biasa menjadi target serangan terorisme dengan mereka yang rentan terjerat terorisme. Sehingga pada akhirnya terorisme tidak lagi menjadi bisnis kematian yang mampu menimbulkan korban banyak

Namun selama masyarakat masih tenggelam akan rasa takut dan ketidakterbukaan, rasanya terorisme masih akan menghantui dunia kedepannya..