Mobil Nasional, Proyek Mercusuar kah?

“Mobnas” sedang menjadi perbincangan minggu ini. Berawal dari kerjasama antara PT APN dari Indonesia dengan perusahaan otomotif Malaysia Proton BhD. Kerja sama antar Business to Business ini disaksikan langsung oleh PM Malaysia Najib Razak dan Presiden Republik Indonesia Jokowi. Yang menjadi perbincangan hangat adalah apakah betul bahwa kerjasama itu hanyalah kerjasama antar bisnis belaka atau malah kerjasama dalam mengembangkan proyek Mobil nasional dan mengapa Jokowi tidak mengembangkan sendiri mobnas yang sudah ada seperti ESEMKA?. Atau malah proyek ini hanya sekedar proyek “Mercusuar” belaka yang tidak punya manfaat ekonomi signifikan

Salah Satu produk LCGC

Gagasan mengenai mobil nasional bukanlah hal baru.Industri dalam negeri memang tidak asing dengan produk “Mobil Nasional”. Bahkan proyek LCGC (Low Cost — Green Car) sendiri merupakan salah satu bentuk perwujudan proyek mobil nasional. Proyek ini didasari oleh kebutuhan masyarakat desa untuk kendaraan terjangkau baik dari pembelian maupun pemeliharaanWalaupun LCGC dirilis melalui merk perusahaan prinsipil otomotif luar seperti Toyota, Daihatsu dan Nissan, namun hampir 60% atau lebih komponen kendaraan termasuk after salesnya berasal dari dalam negeri. Proses perakitan dan pembuatan LCGC sendiri dilakukan didalam negeri. Sayangnya produk itu sendiri menimbulkan backlash dari sebagian masyarakat, karena produk itu tidak tepat sasaran (mayoritas konsumen berasal dari masyarakat perkotaan) dan juga tidak sesuai dengan tujuan pemerintah yang lain yaitu konservasi energi

TIMOR proyek “Mobil Nasional” Orde Baru

Untuk kasus “merk mobil nasional”, hal tersebut sebenarnya telah dulu dilakukan oleh Pemerintahan Orde Baru. Tentu kita masih ingat dengan Timor, proyek ambisius merk otomotif nasional yang mempunyai produk yaitu, sebuah mobil sedan yang diadaptasi dari produk sedan korea. Proyek ini menimbulkan kontroversi, tak hanya di dalam negeri melainkan juga di luar negeri. Pertama,Timor yang diproduksi oleh PT TPN (Timor Putra Nasional) tecium aroma nepotisme, dikarenakan kepemilikan dan pengawasannya langsung dibawah putra Soeharto, yaitu Tommy. Kedua terungkapnya bahwa Timor sendiri tidak memproduksi langsung kendaraannya, melainkan diproduksi di Korea kemudian diimpor ke Indonesia. Melalui “campur tangan” pemerintah, melalui penidaan pajak barang mewah dan bea masuk demi mempermurah harga. membuat Timor mendapat kecaman dari industri otomotif dalam dan luar negeri negeri. Bahkan kasus timor sendiri telah dibawa ke WTO oleh Jepang dan Amerika karena terbukti adanya diskriminasi pasar yang ditimbulkan oleh keringanan bea kepada Timor oleh Pemerintah Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan, apakah Mobil Nasional ini akan bisa bertahan dibalik gempuran produk otomotif luar negeri yang ada di Indonesia. Mengingat hampir 90% kendaraan roda empat yang terjual di Indonesia berasal dari produk otomotif Jepang. Tentu menjadi hal yang sulit untuk meraih market-share yang ada di pasaran. Belum lagi pertanyaan mengenai kualitas layanan purna-jual dari Mobnas. Seperti yang kita ketahui bahwa pelayanan after sales perusahaan otomotif Jepang memang lebih baik dibanding produk luar lain, sehingga tak heran konsumen di Indonesia cenderung membeli produk otomotif Jepang.

Launching Proton oleh Mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad

Tentu itu mungkin yang mendorong PT Adhiperkasa bekerja sama dengan Proton dalam mengembangkan kendaraan dalam negeri. Proton dinilai memiliki kemampuan produksi, purna jual dan pengembangan pasar domestik yang terbaik di ASEAN. Mengingat struktur pasar otomotif Malaysia tidak jauh beda dengan Indonesia (didominasi oleh produk otomotif Jepang) Akan tetapi ada hal yang perlu diingat, bahwa Proton sendiri juga menggunakan “cara cepat”. Pada awal berdirinya merupakan BUMN Malaysia dan telah diberikan subsidi dan “kelebihan” (dalam hal ini penerapan pajak mobil impor yang tinggi) oleh pemerintah Malaysia sehingga bisa tetap bersaing di pasar otomotif Malaysia. Bahkan sampai sekarang biaya riset dan pengembangan Protonpun tetap diberikan subsidi oleh Pemerintah negeri Jiran, walaupun status Proton sendiri telah menjadi badan usaha swasta. Apalagi terjadinya resesi ekonomi di Malaysia 2008 kemaren mendorong pemberian stimulus kepada Proton. Dengan hanya mampu berdiri dengan sokongan pemerintah dan ketergantungan akan pasar domestik, Proton sekarang menjadi simbol dari proyek mercusuar Malaysia, gagah di luar namun rapuh di dalam.

Berkaca dari kasus diatas tersebut, pengembangan mobil nasional memang sangat ambisius. Di satu sisi proyek ini akan menimbulkan penciptaan lapangan kerja, namun disisi lain proyek ini rentan gagal, penuh akan beban ekonomi . Apabila Indonesia melakukan apa yang dilakukan Malaysia di masa lalu ( melalui pemberian “keringanan”). Tak ayal dalam jangka panjang proyek mobil nasional kembali hanya menjadi proyek mercusuar belaka

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Alfi Syahrin’s story.